-->

Iklan

15 Tahun Tsunami Aceh, Waktu Itu Aku di Pegunungan Tiro

26 Desember, 2019, 21.26 WIB Last Updated 2019-12-26T14:27:08Z
BANDA ACEH - Pagi itu, 26 Desember 2004. Aku tidak begitu memperhatikan jam seusai mandi di sebuah sumur di Pegunungan Tiro bersama rekan-rekanku.

Tidak ada yang aneh pagi itu, karena masih kulihat sinar matahari tampak jelas menyinari bumi. Memang aku tidak tahu pasti keadaan di luar sana, karena memang tidak ada TV yang bisa ditonton kecuali radio dua band yang aku bawa.

Mungkin antara pukul 08.00 pagi, sedikit kaget ternyata tanah berguncang keras. Masih kuingat dan kusimpan dalam memori ingatanku. Ya 'gempa' kawan-kawanku juga berteriak gempa bahkan aku juga langsung ambil posisi jongkok, begitu juga teman-temanku.

Setelah sekian menit guncangan itu, kami berdiri dan kembali ke penginapan. Seperti biasa tidak ada yang aneh usai gempa, tapi saat ku nyalakan radio dua bandku ternyata menyiarkan gempa yang baru terjadi. Beberapa saat, kudengar sang penyiar menyebut "Puluhan" orang meninggal dunia.

Tapi setiap berita yang aku simak, semakin jam berlangsung semakin banyak pula jumlah korban meninggal dari puluhan, ratusan bahkan ribuan. Gempa bumi itu terjadi dengan hebatnya, 8.9 SR itu ternyata mengguncang Aceh dan meluluhlantakkan bangunan juga menewaskan 200.000 jiwa.

Ya tsunami, tapi aku sendiri pun juga tidak paham istilah itu. Ternyata tsunami, bencana dari meluapnya air laut akibat gempa lebih banyak menimbulkan korban jiwa. 

Kabar tewasnya ribuan jiwa akibat gempa dan tsunami dari radio, jujur antara percaya dan tidak percaya. Apa benar begitu? Disebutkan korban jiwa ada di hampir semua pesisir pantai di Aceh, mulai Lhokseumawe, Pidie, Banda Aceh, Aceh Besar dan Meulaboh Aceh Barat.

Tiga hari setelah gempa, 28 Desember 2004, tepat di Hari Ulang Tahunku, aku dan kawan-kawan satu group berpindah ke Krueng Raya, Aceh Besar. Setelah turun dari Pegunungan Tiro, di Kota Sigli banyak truk di pinggir jalan yang aku kira memuat kayu ternyata membawa jenazah para korban gempa dan tsunami yang bertumpuk-tumpuk.

Kaget, ngeri dan terus terang susah membayangkannya. Hampir di sepanjang jalan banyak mayat-mayat bergelimpangan, para korban yang selamat juga sibuk dengan diri masing-masing mencari sanak saudara dan keluarga mereka.

Perjalanan terus berlanjut, menuju Krueng Raya, Aceh Besar. Saat itu juga sempat melintas di Simpang Surabaya dan beberapa wilayah di Banda Aceh. Pemandangan yang sama, masih banyak mayat-mayat bergelimpangan dari laki-laki, perempuan dan anak-anak masih belum terurus. Di sudut lain, banyak relawan yang juga turut mengevakuasi jenazah-jenazah yang belum dikuburkan. Tampak juga para korban yang selamat hanya duduk termenung, dan juga ada yang mendapatkan pengobatan di posko-posko pengungsi. Karena memang banyak tenda-tenda relawan asing maupun nasional memberikan pertolongan.

Menjelang sore, akhirnya tiba juga di daerah Krueng Raya tepatnya di lokasi Pertamina. Sejauh mata memandang, banyak bangunan rusak berat bahkan hilang hanya tersisa besi-besi bekas pondasi. Banyak drum-drum oli berserakan diantara bangunan-bangunan Pertamina yang rusak.

Tak jauh dari situ, sebuah SD Negeri yang kebetulan berada di lokasi lebih tinggi tidak terjamah tsunami. Namun dipakai untuk mengumpulkan mayat-mayat korban tsunami. Bau anyir darah juga masih tercium, darah kering juga masih melekat di lantai-lantai.

Kami harus membersihkan dengan air sumur yang ada di rumah warga. Karena sekolah itu kita gunakan untuk menginap. Yang buat bulu kudu merinding, ternyata lokasi di bawah sekolah yang berada di sisi sungai dijadikan tempat pemakaman massal. Malam menjelang suasana seperti mencekam karena ramai suara anjing menggonggong, bila didengarkan lebih jeli seperti tangisan kesedihan. Pagi hari, dengan rasa sedikit 'takut' melongok tempat pemakaman massal itu. Masih banyak truk-truk berdatangan membawa mayat-mayat untuk dikuburkan. Alat berat juga nampak bekerja saat kuburan itu penuh mayat.

Kini 15 tahun tsunami itu telah berlalu, aku hanya salah satu saksi gempa itu terjadi. Beruntung di Bumi Serambi Mekkah ini, tepatnya di Pegunungan Tiro tidak tahu pasti bagaimana dahsyatnya gelombang tsunami. Tapi dampak dari gempa dan tsunami Aceh, ada dalam memori ingatanku. Bahkan aku sendiri mendengar cerita pilu dari saksi yang masih hidup bagaimana istri dan anaknya tersapu gelombang tsunami dan tidak ditemukan jenazahnya.

Al Fatihah buat seluruh korban gempa dan tsunami Aceh 2004. Semoga mereka di mendapatkan tempat terbaik di Sisi-NYA. Semoga Aceh dan Indonesia dijauhkan dari bala dan bencana. Selain itu, perdamaian Aceh tetap terpelihara dengan baik. Aamiin yarobbal alamin.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini