Iklan

Kekuatan Politik Perempuan dalam Parlemen Aceh

17 Desember, 2019, 07.49 WIB Last Updated 2019-12-17T00:49:05Z
SEPERTI yang kita ketahui bersama bahwa peran perempuan sebagai representatif perempuan di parlemen Aceh sangatlah minim. Hal ini pastinya menjadi suatu landasan awal terbentuknya argumentasi ini tentang seberapa kuat peran para politisi perempuan di dalam parlemen Aceh. Kemudian apakah peran tersebut juga disokong oleh kemampuan argumentasi yang mumpuni dari para kaum hawa itu? 

Maka dalam tulisan ini penulis mencoba untuk membedah atau menyajikan sebuah analisis terkait hal ini. Di dalam dinamika perpolitikan Aceh saat ini, peran perempuan menjadi sangat lemah. Hal ini dibuktikan dengan hanya ada delapan orang perempuan yang mampu tembus ke parlemen Aceh pada Pemilu April 2019 lalu. Karena dalam periode sebelumnya kaum hawa mempunyai dua belas orang perwakilan di parlemen. Ini menjadi argumentasi awal bahwa perempuan Aceh masih belum berkompeten dalam berpolitik.

Persaingan menuju parlemen Aceh memang sejatinya tidaklah mudah, konon kebanyakan yang terplih adalah dari kaum populis, sehingga mampu meraup suara yang sangat signifikan. Tetapi di sisi lain, pengeluaran dana yang besar juga menjadi sebuah fakta bahwa mahar politik yang tinggi menjadi satu sisi yang masih sangat kurang dimiliki oleh perempuan. Keberanian perempuan untuk maju ke parlemen juga masih sangat rendah, pasalnya selain harus menjadi anggota parlemen jika terpilih nantinya, ia juga berkewajiban menjadi istri serta ibu yang baik untuk suami dan anak-anaknya. Tugas ganda yang di emban ini menjadi satu pertimbangan sendiri  bagi perempuan, terutama di Aceh yang notabene menjalankan syariat islam.

Jika dikaji dari sisi ini, maka perempuan memiliki tantangan jauh lebih berat dari pada laki-laki pada umumnya. Sebab tidak hanya berjuang sebagai seorang anggota legislatif yang menerima aspirasi masyarat, ia juga harus menjadi istri yang patuh kepada suami serta ibu yang baik bagi anak-anaknya. Peran ganda ini semestinya patut di apresiasi, dikarenakan perjuangan yang sangat berat dan tidak mudah. 

Sebuah realita perpolitikan yang harus dilewati oleh perempuan, hingga akhirnya ia mampu menembus parlemen Aceh dan menyampaikan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Sudah saatnya perempuan menjadi lebih tampil, lebih aktif menyuarakan apa yang patut disuarakan. Ia harus menjadi dirinya, dengan ada atau tidaknya lelaki. Maka oleh karena itu, penulis mengajak kepada pembaca untuk terus mendorong peran perempuan di parlemen Aceh. Sebab sejatinya, dalam diri perempuan melekat segala ketidakadilan, baik secara lahir maupun bathiniah.

Kedepan perempuan bahkan harus di dorong untuk mendapatkan suara terbanyak sehingga mampu menduduki jabatan yang strategis sesuai dengan kompetensi. Namun di balik itu semua, perempuan juga harus berbenah dan menjadi dirinya sendiri, apalagi selama ini kita melihat bahwa masih banyak perempuan-prempuan yang memiliki kompetensi di bidang-bidang tertentu namun belum mendapat perhatian.

Maka dalam hal ini, penulis merasa perlu mengangkat isu ini agar nantinya muncul perempuan-perempuan hebat di parlemen Aceh, yang pada hakikatnya maju agar mampu menampung aspirasi-aspirasi dari masyarakat khususnya dari kalangan perempuan. Apalagi selama ini, segala kebutuhan perempuan dan anak-anak masih sangat minim perhatian. Ke depan diharapkan dengan adanya banyak perempuan yang duduk di parlemen untuk menyuarakan suara rakyat yang selama ini tidak sering di bahas karena mayoritas anggota berasal dari pada politisi laki-laki. Perempuan harus menjadi kuat secara politik dan mendapatkan hak-haknya yang mungkin selama ini masih belum di dapatkan. Sejatinya menjadi perempuan adalah menjadi hebat!

Penulis: Annisa Rossa (Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Komentar

Tampilkan

Terkini