-->

Iklan

Tim Darud Donya Berziarah ke Makam Tokoh Era Kesultanan Aceh Darussalam di Pidie

26 Januari, 2020, 13.52 WIB Last Updated 2020-01-26T06:52:29Z
PIDIE - Tim Darud Donya yang diketuai oleh Cut Putri berziarah ke beberapa makam penting era Kesultanan Aceh Darussalam yang terletak di Pidie, Sabtu (25/01/2020).

Makam yang diziarahi antara lain Makam Tuanku Hasyim Banta Muda yang terletak di Mesjid Tuha Padang Tiji. Twk Hasyim Banta Muda adalah Panglima Perang Aceh ketika agresi Belanda ke 2 dan berhasil menghentikan Belanda di Lueng bata. Walaupun Belanda menggunakan senjata biologis kolera. Twk Hasyim Banta Muda juga Wali dari Sultan Muhammad Dawod Syah (1878-1903) yang memerintah di Kuta Keumala Pidie setelah Istana Darud Donya dikuasai Belanda. Twk Hasyim Banta Muda adalah Jenderal besar Aceh yang ahli strategi dan menguasai berbagai bahasa Asing. Pada tahun 1897 wafat di Padangtiji. 

Kemudian Tim Darud Donya melanjutkan ziarah ke makam Teungku Chik Di Reubee yang berada di Gampong Reubee Pidie. Tgk Chik Di Reube atau bernama Daeng Mansur atau Daim Mansur adalah guru dari Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Keturunan Daeng Mansur inilah yang  kemudian menjadi para Sultan-Sultan Aceh, juga menjadi para Panglima darat dan laut yg terkenal sangat berjasa serta gagah berani yang berhasil membawa Aceh menjadi Kesultanan Islam yang sangat terkenal di dunia.

Ziarah kemudian dilanjutkan ke Makam Putroe Tsani di Gampong Meunasah Reuntoh, Reubee, Kecamatan Delima. Puteri Sendi Ratna Indra (Putroe Tsani) merupakan putri dari Syeikh Daeng Mansur Teungku Chik di Reubee. Putroe Sani kemudian menjadi istri Sultan Iskandar Muda, dan dari pernikahan Sultan Iskandar Muda dengan Putri Tsani lahirlah Meurah Pupok dan Sultanah Safiatuddin. Putroe Tsani terkenal sebagai seorang perempuan yang sangat arif dan bijaksana dalam mendampingi Sultan Iskandar Muda membangun peradaban dan kejayaan keemasan Aceh.

Namun sayangnya kondisi semua situs sejarah makam yang diziarahi itu sangat memprihatinkan. Tak ada rambu petunjuk menuju peristirahatan terakhir para tokoh bangsa tersebut. Bahkan makamnya hampir tak terurus. Tak ada keterangan sejarah sedikit pun di area makam. Masyarakat sekitar pun tak tahu siapa tokoh yang dimakamkan di daerah tersebut. Padahal ketiga tokoh tersebut telah menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan kegemilangan Aceh Darussalam.

"Sungguh miris. Kita bangsa Aceh sekarang benar-benar terlupa bahwa dibalik segala kenikmatan hidup kita semua di Aceh saat ini. Ada pengorbanan darah air mata dari para indatu, para pahlawan yang rela memberikan segalanya demi kebahagiaan kita," ungkap Cut Putri, Ketua Darud Donya.

Darud Donya mengajak Pemerintah Pidie, DPRK Pidie dan pihak-pihak terkait untuk memperhatikan dan memugar situs sejarah makam para pahlawan ulama dan umara yang ada di Pidie. Juga berharap agar Pemerintah Aceh pada umumnya dapat menyelamatkan dan melestarikan situs sejarah di seluruh Aceh yang masih terbengkalai bahkan hampir hilang dan musnah. Apalagi situs sejarah dapat dijadikan aset pariwisata religi sejarah yang tak ternilai dan sangat menguntungkan bagi Aceh.

"Menyelamatkan sejarah Aceh berarti menyelamatkan generasi Aceh masa depan dari kehilangan identitas diri. Sejarah menjelaskan siapa Aceh dan kemana arah Aceh akan menuju sebagai modal pembangunan," tegas Cut Putri Ketua Darud Donya.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini