-->

Iklan

Ketua Peusaba Aceh Minta Makam Sultan Badrul Alam Syarief Hasyim Secepatnya Diselamatkan

23 Februari, 2020, 23.18 WIB Last Updated 2020-02-23T16:18:37Z
LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman mengurut dada dengan tingkah polah Pemerintah Kota Banda Aceh yang masih diam saja membiarkan Makam Sultan Sayed Badrul Alam Syarief Hasyim Jamalullail (1699-1701) dijadikan dapur bakso. Peusaba meminta secepatnya dapur bakso yang ada di atas Makam Sultan Aceh Sultan Sayed Badrul Alam dilenyapkan sehingga bisa dipasang nisan kembali. 

Peusaba mengingatkan bencana akan menimpa siapa saja yang membiarkan  Makam Sultan Sayed Aulia dan juga ulama dijadikan tungku pembakaran. Padahal jelas sekali Raja dan Ulama tersebut sangat berjasa untuk Islam dan Aceh. 

Ketua Peusaba menceritakan pada zaman Bani Israil, ada Kerajaan Israil, para tokoh dan rakyat Bani Israil pekerjaannya merusak makam para Nabi dan Aulia, Ulama serta merusak kesucian Baitul Maqdis. Akhirnya datanglah bala bencana Bani Israil diserang Kerajaan Babilon di bawah Pimpinan Nebudkanezar II (630-562 SM) sehingga Kerajaan Bani Israil lenyap tanpa bekas dan kemudian Bani Israil menjadi bangsa tanpa negeri.

Kekejaman Nebudkanezar dapat dikalahkan oleh Koresh Agung (576-530 SM) dari Wangsa Achemenia  Persia. Raja Koresh Agung memerintah Kerajaan Persia dengan baik dan adil. Kemudian Bani Israil dapat beribadah kembali sesuai ajaran Nabi yang diutus kepada Bani Israil. Pada saat Darius Agung (550-486) kemenakan Koresh Agung  dari Persia berkuasa dan menguasai daratan Asia, Afrika dan sebagian Eropa maka Kaum Bani Israil dikembalikan ke Baitul Maqdis sebabnya  menghormati Nabi Danial. Darius Agung sang penakluk  inilah yang disebut dalam Hikayat Aceh. 

Wangsa Aceh Wangsa Meutuah 
Turunan Meugah Darius Raja.

Dan kisah yang lain, pada perang era Kesultanan Aceh Darussalam Syeikh Abbas Kutakarang yang terkenal alim menulis bahwa pada saat masuknya Belanda Nisan-Nisan Raja, Ulama dan Aulia dihancurkan serta dibakar Belanda, sebagian orang Aceh memilih berdiam diri. Maka saat itu Aceh tertimpa bala bencana dengan matinya semua tanaman lada karena cuaca yang amat panas dan karue sabee droe. Setelah semua rakyat bersatu berjihad melawan Belanda barulah bala itu kemudian hilang. 

Sesungguhnya di dalam cerita itu terdapat pembelajaran. Apa salah Makam Raja-raja dan Ulama Aceh Darussalam dari Dinasti Sayed Jamalullail Penyebar Islam. Mendiamkan makam itu di semen lantai dan dijadikan tungku pembakaran sama saja mendukung, sama saja dosanya. Barang siapa melihat kedzaliman namun berdiam diri, maka Allah akan melemparkannya ke neraka jahanam. 

"Adalah kewajiban pemimpin yang menjalankan syariat Islam secara kaffah menyelamatkan makam para Raja-raja Dinasti Sayed Jamalullail yang ada di Taman Poteu Jeumaloy untuk mengenang jasa para Sultan Sayed Penyebar Islam di Asia Tenggara," demikian ungkap Mawardi Usman.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini