-->

Iklan

Ngelus Dada! Di Indonesia, Harga Satu Kotak Masker Tembus Rp 1,5 juta

17 Februari, 2020, 00.43 WIB Last Updated 2020-02-16T17:43:34Z
Naiknya harga masker di Indonesia jadi sorotan media asing

Bikin Sakit Hati, Harga Satu Kotak Masker Di Indonesia Tembus Rp 1,5 juta hingga Jadi Sorotan Media Asing

LINTAS ATJEH | JAKARTA - Hingga detik ini belum ada kasus virus corona yang terjadi di Indonesia.

Padahal virus ini sudah membunuh 1500 orang di seluruh dunia.

Namun, yang cukup menjadi perhatian adalah harga yang tidak masuk akal dari satu kotak masker.

Bahkan mahalnya harga masker ini sampai jadi sorotan media asing.

Meningkatnya kekhawatiran di Indonesia terkait penularan penyakit Covid-19 virus corona ternyata turut berkontribusi pada kelonjakan harga masker.

Melonjaknya harga masker di Indonesia menjadi sorotan beberapa media internasional.

Salah satunya Reuters yang menyoroti kenaikan hingga 10 kali lipat dari harga asli.

Lebih Mahal dari Emas

Bambang Darmadi, seorang penjual peralatan kesehatan salah satu toko di Jakarta, menyebutkan, satu kotak masker biasa berisi 50 lembar saat ini dijual seharga Rp 200.000.

Padahal, harga normal sebelum wabah virus corona terjadi adalah Rp 20.000.

Menurut Darmadi, lonjakan harga masker berkisar sampai Rp 10.000 setiap harinya.

Sementara itu, media Pemerintah Singapura, Straits Times, dalam judul berita "Coronavirus: Price of a box of N95 masks cost more than a gram of gold in Indonesia" melaporkan bahwa harga satu kotak masker N95 sebanyak 20 lembar mencapai Rp 1,5 juta.

Harga tersebut melebihi nilai satu gram emas yang saat ini berkisar Rp 800.000.

Media ini juga melaporkan kenaikan harga lebih tinggi untuk masker biasa.

Satu kotak berisi 50 lembar mencapai Rp 275.000 dengan harga normal kisaran Rp 30.000.

Terkait peristiwa tersebut, Pimpinan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengritik tajam pemerintah yang tidak turun tangan terhadap situasi kenaikan harga masker.

Pihak YLKI sendiri telah menghubungi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk segera menginvestigasi kelonjakan harga.

Menurut Sudaryatmo, pemerintah semestinya menetapkan plafon harga sebanyak 30 persen di atas harga normal.

Sanksi harus diberikan kepada siapa pun yang menjual di atas persentase tersebut.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejauh ini baru melaporkan 62 kasus terduga virus corona dengan 59 dinyatakan negatif.

Indonesia memiliki angka kasus terinfeksi virus corona lebih sedikit dibandingkan lima kasus epidemik SARS pada 2003.

Meski begitu, masyarakat lokal sudah mulai membeli dan menimbun masker karena khawatir harganya akan semakin mahal apabila kasus virus corona ditemukan di Indonesia.[SajianSedap]
Komentar

Tampilkan

Terkini