-->

Iklan

Kabar Duka Penggemar Wayang, Ki Dalang Seno Nugroho Meninggal Dunia

04 November, 2020, 08.39 WIB Last Updated 2020-11-04T01:39:00Z

LINTAS ATJEH | BANTUL - Kabar duka untuk penggemar wayang kulit. Dalang asal Sedayu, Bantul, Ki Seno Nugroho diberitakan meninggal dunia, Selasa (3/11) pukul 22.30 WIB. Belum ada kabar resmi dari keluarga atau manajemen Ki Seno mengenai berita tersebut.


Admin manajemen Ki Seno, hingga berita ini diturunkan, tidak merespons telepon atau WA. Namun, di media sosial bertebaran informasi mengenai berpulangnya dalang yang tengah naik daun itu.


Di antaranya di akun Facebook Kitsie Emerson, dikenal sebagai doktor yang mempelajari wayang kulit, menulis “Adhuh….swarga langgeng Mas Seno Nugroho….ndherek bela sungkawa, sampun katimbalan ing ngarsanipun Gusti, yuswa 48. Ndadak, sonten wau, serangan jantung. Jam 22:30, Selasa Pon 3 Nopember 2020. Nembe2 wau jam 13:49 posting WA tentang fotonipun ingkang wonten sampul buku basa Jawa setunggaling SMK daerah DIY, kadose sehat2 mawon.


Rest in peace, Ki Seno Nugroho, dhalang Ngayogyakarta popular beyond any measure previously known, gone way too young. Age 48. Very sudden heart attack after riding his bicycle around earlier this evening, time of death was 22:30 tonight Selasa Pon 3 November. Earlier today, at 13:49, he sent a public whatsapp status joking about discovering that he was featured on the cover of a local school’s Javanese text book.”


Ki Seno Nugroho, lahir di Yogyakarta tanggal 23 Agustus 1972 saat ini mungkin adalah dalang wayang kulit yang memiliki banyak penggemar. Hampir setiap hari, karyanya banyak direkam atau disiarkan secara streaming melalui sejumlah akun Youtube, selalu menyedot ribuan penonton.


Mewarisi darah seni dari ayahnya, Ki Suparman yang dikenal sebagai dalang senior di Yogyakarta, Seno juga belajar mendalang di SMKI Yogyakarta.


“Keberhasilan Ki Seno meraup penggemar, pada saat orang khawatir wayang akan ditinggalkan, tidak lain karena dia berhasil ngemong selera semua penonton. Dia tidak lagi terpaku pada gagrak Ngayogyakarta atau Surakarta, banyak batasan yang dia dobrak. Tapi juga tidak kebablasan, misalnya ada dalang yang memasukkan musik nonkarawitan ke dalam pentas. Ki Seno tidak seperti itu,” ulas seniman Mugiyono Kasido, penari kontemporer yang juga berasal dari keluarga dalang.[Timlo]

Komentar

Tampilkan

Terkini