-->

Iklan

Ini Balasan Bagi yang Menyakiti Ulama

26 Desember, 2020, 06.52 WIB Last Updated 2020-12-26T02:18:18Z

Balasan bagi yang Menyakiti Ulama, kolom ditulis oleh Nur Cholis Huda, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur; penulis buku-buku inspiratif.


JANGAN PERNAH menyakiti ulama. Mencari-cari kesalahannya. Memfitnah. Mencari pasal hukum untuk bisa menyusahkan hidupnya. Mereka yang menyakiti ulama akan mendapat balasan langsung dari Allah di dunia ini. Tidak menunggu nanti di akhirat.


Berikut ini dikemukakan tiga kisah sebagai pelajaran bagi kita. Yaitu kisah Suraqah. Abu Lahab, dan pengalaman Buya Prof Hamka.


Kisah Suraqah


Kita sudah tahu kisah Suraqah bin Malik. Seorang pemburu Rasulullah yang hendak membunuh beliau. Dia ingin memperoleh hadiah 100 ekor unta betina yang dijanjikan kafir Quraisy. Hadiah itu nilainya miliaran rupiah pada zaman kita sekarang.


Kafir Quraisy gagal mengejar Rasulullah yang hendak hijrah ke Madinah. Beliau dan Abu Bakar selamat dari kepungan ketika mereka berdua bersembunyi di gua Tsur. Maka kafir Quraisy membuat sayembara akan memberikan hadiah 100 onta betina muda bagi siapa saja yang bisa membawa kembali Rasulullah ke Mekkah hidup atau mati.


Seorang yang baru pulang bepergian mengatakan dia tadi berjumpa dengan rombongan tiga orang. Mungkin itu Muhammad. Memang Rasulullah berangkat bertiga. Beliau, Abu Bakar, dan seorang penunjuk jalan.


Mendengar keterangan itu, Suraqah membantahnya. “Tidak! Itu orang yang sedang mencari otanya”. Dia tidak ingin ada orang lain yang akan mendapatkan hadiah itu.


Maka pembantunya disuruh mengeluarkan kudanya diam-diam dan menunggunya di satu tempat. Lalu Suraqah berangkat. Dia dikenal orang yang paling pandai memburu jejak seseorang.


Benar saja. Suraqah bisa mengejar Rasulullah. Ketika jarak sudah dekat, Suraqah sudah menyiapkan tombaknya. Tetapi tiba-tiba kuda yang ditumpanginya terperosok kakinya ke dalam pasir. Tak bisa bergerak. Dalam buku Hayatu Muhammad Haikal menyebut kuda itu terjatuh karena dipacu terlalu kencang.


Suraqah bangkit lagi. Mengejar lagi. Namun kali ini kudanya terjatuh lagi. Suraqah heran dan hatinya bimbang. Ini pertanda apa? Namun hadiah 100 onta membuatnya tetap semangat mengejar. Suraqah memacu kudanya lagi.


Kali ketiga ini kudanya terjatuh lebih hebat lagi dan Suraqah ikut terpelanting jatuh cukup jauh. Maka kini Suraqah yakin akan terjadi bahaya baginya jika dia melanjutkan mengejar Nabi.


Dia mengurungkan niatnya. Dia memanggil-manggil Nabi minta tolong dan minta maaf. Dia berjanji tidak akan membocorkan kepada siapapun kalau sudah bertemu Rasulullah. Bahkan dia akan menghalangi dengan berbagai cara siapa saja yang akan mengejar Rasulullah. Suraqah juga yakin bahwa Muhammad seorang Nabi dan nanti pasti akan mencapai kemenangan dalam perjuangannya.


Dia lalu minta jaminan tertulis bahwa jika nanti Muhammad menang dalam perjuangan, Suraqah akan tetap aman dan diperlakukan dengan baik. Nabi memenuhi permintaannya. Abu Bakar disuruh menuliskan jaminan itu di atas tulang lalu diberikan kepada Suraqah. Ada yang mengatakan Abu Bakar menulis di atas kulit binatang.


Suatu hari Suraqah menemui Nabi. Para sahabat hendak menghalangi. Namun dia tetap bersikeras sambil menunjukkan tulang bertulis jaminan itu. Nabi menerima dengan ramah penuh senyum. Lalu Suraqah mengucapkan dua kalimat syahadat tanda dia masuk Islam.


Pada kesempatan itu Rasulullah mengatakan bagaimana perasaan Suraqah jika nanti suatu saat dia mengenakan pakaian kebesaran kaisar Persia. Suraqah hanya tersenyum. Bagaimana mungkin dia orang dusun yang bukan siapa-siapa akan mengenakan pakaian kaisar Persi yang agung.


Rasulullah wafat. Digantikan Abu Bakar sebagai khalifah. Lalu digantikan Umar bin Khattab. Pada periode Umar inilah kaisar Persi ditaklukkan. Lalu Saad bin Abi Waqqas sebagai panglima perang melaporkan kepada Umar keberhasilan itu dengan membawa beberapa barang. Antara lain pakaian kebesaran kaisar.


Umar lalu memanggil Suraqah dan diminta memakai pakaian kaisar itu. Memang hanya sebentar. Namun sangat berkesan bagi Suraqah. Dia tak sanggup menahan tangisnya. Dia teringat ucapan Rasulullah. Dahulu dia menganggap Rasulullah hanya bercanda. Tetapi candaan itu menjadi kenyataan. Kita bisa saksikan adegan Suraqah mengenakan pakaian kebesaran kaisar Persia itu dalam film Omar bin Khattab.


Untung Suraqah bertobat dan menjadi pengikut setia Rasulullah. Namun pengalamannya tersungkur tiga kali menjadi pelajaran bagi kita bahwa orang yang berniat jahat, mencelakakan kepada para pembawa misi dakwah yang lurus, tanpa pamrih akan mendapat balasan lansung dari Allah.


Abu Lahab

Dia paman Nabi. Sejak Muhammad kecil. Abu Lahab sangat menyayangi Rasulullah.. Maka ketika Rasulullah sudah berkeluarga dengan Khadijah dan punya beberapa anak perempuan banyak yang minta besanan dengan Rasulullah. Namun atas saran Abu Thalib Muhammad diminta besanan dengan Abu Lahab karena sama-sama dari keluarga terhormat. Maka dua anak laki-laki Abu Lahab dikawinkan dengan dua anak perempuan Rasulullah. Yaitu Utbah dikawinkan dengan Ruqayyah dan Utaibah dikawinkan dengan Ummu Kulsum. Hubungan suami istri itu saudara sepupu.


Namun ketika Rasulullah mengumumkan sebagai Nabi, maka sikap Abu Lahab berbalik sepenuhnya. Dia orang yang paling memusuhi Rasulullah. Melebihi kebencian Abu Jahal dan kebencian siapapun. Suami istri itu berusaha dengan segala cara merintangi dakwah Nabi. Akhirnya sampai turun wahyu surat al Lahab yang mengecam keras sikap Abu Lahab dan istrinya. Bahkan dipastikan menjadi penghuni neraka.


Mendengar ada wahyu turun yang mengecam perilaku mereka, yaitu surat al Lahab, maka kemarahan keduanya makin memuncak. Tidak ada lagi hubungan famili. Yang ada ialah musuh paling utama. Kedua anak laki-lakinya juga diminta menceraikan istrinya. Kedua wanita itu, Ruqoiyah dan Ummu Kulsum dikembalikan kepada Rasulullah.


Kajahatan Abu Lahab kepada Rasulullah yang melampaui batas mendapat balasan langsung dari Allah di dunia ini. Tidak menunggu di akhirat nanti. Sedangkan di akhirat sudah dipastikan suami istri itu masuk neraka, seperti yang sudah ditetapkan dalam surat al Lahab.


Penderitaan apa yang dialami Abu Lahab dengan membenci dakwah Islam Itu? Dia terserang penyakit lepra. Wajahnya yang terkenal tampan maka hilang ketampanannya. Dia meninggal pada tahun ke dua hijrah setelah peristiwa perang Badar. Setelah kena lepra kawan-kawannya tak ada yang mau mendekat. Takut tertular.


Ketika Abu Lahab meninggal, tidak ada para sahabatnya yang bersedia menguburnya. Mayatnya dibiarkan sampai tiga hari. Namun akhirnya terpaksa liang kubur digali juga. Kemudian dengan kayu panjang mayat itu didorong ke dalam lubang kubur. Lalu dilemparkan batu dan tanah untuk menimbunnya. Kematian yang amat tragis dari seorang bangsawan yang terkenal. Prof Quraisy Shihab mengisahkan ini dalam Al Misbah ketika manafsirkan surat al-Lahab. Cerita bersumber dari banyak literatur.


Abu Lahab adalah nama gelar. Nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Munthalib. Ada semacam kaidah jika al-Quran menceritakan kisah dengan menyebut gelar, bukan nama orang itu langsung, maka ada kemungkinan di belakang hari akan muncul orang yang berprilaku seperti dalam kisah itu. Firaun misalnya, adalah nama gelar. Maka di belakang hari akan muncul orang yang bersikap dan berprilaku seperti Firaun. Demikian juga dengan Abu Lahab. Bisa jadi akan muncul Abu Lahab-Abu Lahab baru atau Abu Lahab modern.


Kelompok Pencerah

Mungkin ada yang berpendapat mereka celaka karena yang diperlakukan buruk adalah seorang Nabi. Bukan orang biasa. Tetapi kalau orang biasa, bukan Nabi apakah juga ada balasan langsung dari Allah di dunia ini?


Dalam al-Quran ada perintah agar sekelompok orang tidak semuanya ikut pergi berperang. Harus ada orang-orang yang bertugas memperdalam pemahaman agama Islam. Lalu kepada masyarakat mereka melakukan pencerahan. Mereka bukan Nabi tetapi membawa dan melanjutkan misi kenabian. Ketika Nabi sudah wafat dan para sahabat juga sudah tidak ada, maka mereka ini yang terus mengibarkan panji keislaman.


Allah berfirman: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang beriman itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka nanti telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (at-Taubah 122).


Jihad fi sabilillah adalah perjuangan penting. Kesediaan ikut ke medan perang adalah tanda orang beriman. Mereka yang tidak berangkat akan dikecam. Namun demikian tidak boleh semua orang berangkat ke medan perang. Harus ada yang memperdalam pengetahuan tentang agama dan umum sebagai pencerah kepada umat, kepada mereka yang kembali dari perang. Dibimbing agar mereka tetap kokoh dalam imannya.


Para pencerah hati ini tidak kalah penting dibandingkan memanggul senjata perang. Mereka inilah pelanjut risalah kenabian. Mereka ini para ulama sebagai pewaris para nabi. Al-ulama’u warasatul anbiya’. Ulama itu pewaris para nabi. Pewaris dalam arti mewarisi tugas-tugas kenabian. Menunjukkan jalan kebenaran.


Jadi mereka yang menyakiti ulama, secara tidak langsung sama dengan menyakiti Rasulullah karena menyakiti dan mempersulit orang yang membawa risalah kenabian. Mereka ini ulama yang lurus, tekun dalam tugasnya. Membimbing masyarakat menunjukkan jalan yang benar. Bukan ulama yang “menjual” pendirian. Mereka ini sebenarnya bukan ulama. Mungkin pandai berdalil alquran tetapi tidak punya karakter.


Dalam sejarah, ulama yang lurus itu kebetulan sering juga berseberangan dengan penguasa. Mereka tidak selalu bilang “Ya”. Sering bilang “Tidak”. Mereka tidak bisa dibeli dengan apapun. Uang atau kekuasaan.


Para imam mazhab yang empat misalnya, hidup menderita dengan siksaan atau dalam penjara. Imam Syafii, imam Hambali, dan imam Hanafi harus merasakan cambukan penguasa karena berbeda pendirian.


Imam Malik (mazhab Maliki) tidak merasakan cambukan. Tetapi dia tidak pernah membungkuk-bungkuk datang ke istana. Ketika keluarga sultan ingin berguru kepada Imam Malik dan beliau diminta datang ke istana untuk mengajar, imam Malik menolak. Mereka yang butuh ilmu harus datang seperti para santri yang lain. Tidak ada hak istimewa. Termasuk keluarga Sultan.


Buya Hamka

Kita sudah tahu Buya Hamka pernah masuk penjara pada masa Orde Lama. Pernah setiap hari dicaci-maki lewat pemberitaan surat kabar. Namanya dijelek-jelekkan. Namun semua yang berbuat jelek kepada ulama ini telah mendapatkan balasan ketika mereka masih hidup.


Buya Hamka bersahabat sangat baik dengan Bung Karno. Namun dalam politik tidak ada kawan abadi. Yang ada kepentingan abadi. Maka Bung Karno berhasil diyakinkan Subandrio yang PKI bahwa Hamka berencana makar dan membunuh Bung Karno. Hamka lalu ditangkap dan dipenjara selama dua tahun empat bulan. Tidak ada pengadilan.


Selain dipenjara, semua buku Hamka dilarang beredar dan dijual. Semua penerbit dilarang menerbitkan tulisan Hamka, termasuk semua koran dan majalah. Padahal sumber nafkah Hamka dari menulis dan royalti penjualan buku.


Maka dengan cara itu ekonomi keluarga juga dihancurkan. Irfan, putra Hamka dalam bukunya Ayah bercerita.


Untuk kehidupan sehari-hari Ummi menjual barang-barang yang dimiliki. Suatu hari Irfan dan Ummi pergi ke pemilik penerbitan. Mungkin masih ada sisa royalty. Uang yang dimilki hanya untuk ongkos naik beca. Penerbit itu mengatakan tidak ada lagi royalti. Lalu penerbit itu memberi uang kepada Ummi, “Ini ada uang sedekah saya untuk membeli beras.”


Wajah Ummi seketika merah karena marah. Dia datang tidak untuk mengemis dan minta sedekah.


“Berikan sedekah itu kepada orang yang berhak menerima. Bukan kami,” kata Ummi.


Lalu keduanya pulang dengan jalan kaki di terik matahari karena tidak ada lagi ongkos naik beca. Setengah sebelas siang baru sampai di rumah.


Sampai di rumah sudah ada orang yang menunggu. HM Zen, pemilik PT Pustaka Islam. Orang itu akan melaksanakan nazarnya. Jika nanti penjualan tanahnya laku, dia ingin menghadiahkan sebagian uang itu kepada Buya Hamka.


Kini sudah laku. Maka sebuah amplop cukup tebal diserahkan kepada Ummi mewakili Hamka. Setelah HM Zen pulang datang tamu orang dari Sumatera Barat. Anwar Sutan Saidi, pemilik Pustaka Nusantara. Anwar mengatakan buku-buku Hamka dilarang beredar. Tetapi khusus di Sumbar tetap dijual.


“Saya datang memberi royalty kontan. Jika lewat wesel takut disita pula” kata Anwar.


Setelah Anwar pulang Ummi tidak bisa menahan tangisnya. Terharu. Beliau kemudian mengambil air wudhu. Mengungkapkan rasa syukur dengan salat dua rakaat.


Tentang Bung Karno kita semua sudah tahu hari-hari akhir hidupnya. Dia berada dalam tahanan rumah. Tidak boleh ditemui dan menemui orang tanpa izin penguasa. Massa dan Bung Karno adalah ibarat air dan ikan. Jika Bung Karno dipisahkan dari masyarakatnya seperti ikan dipisahkan dari air. Sangat tersiksa atau bisa mati pelan-pelan.


Ketika Hamka bebas, Bung Karno dalam tahanan rumah. Keduanya tidak bisa bertemu. Pada suatu siang datang Mayjen Soeryo ajudan Pak Harto disertai satu orang. Ajudan itu membawa pesan Bung Karno.


“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku” Permintaan itu dipenuhi Hamka dengan tulus.


Berikutnya, Pramoedia Ananta Toer. Dia selalu menjelekkan Hamka lewat harian Bintang Timur milik PKI. Berbulan-bulan Pram menjelekkan Hamka, menuduh plagiator dan sebagainya. Kita tahu setelah keaadan berubah, nasib Pram bertahun-tahun berada di tahanan pulau Buru. Jauh lebih panjang penahanannya daripada masa Hamka ditahan.


Uniknya, ketika Pram bebas dan mau mengawinkan anak putrinya dengan laki-laki non-Muslim, Pram minta calon menantunya itu dibimbing masuk Islam oleh Hamka. Dan hanya puas kalau dibimbing Hamka. Tidak oleh lainnya. Hamka memenuhi dengan tulus. Kawannya berkomentar inilah cara minta maaf kepada Hamka


Selanjutnya Moh Yamin. Dia berasal dari Sumatra Barat sama dengan Hamka. Tetapi pandangan politiknya berbeda. Perbedaan politik itu menyebabkan Yamin sering menyerang dan menjelekkan Hamka. Hamka sendiri sampai heran dengan sikap Yamin ini. Suatu hari Chairul Saleh datang ke rumah Hamka. Mewakili Yamin meminta Hamka datang ke rumah sakit. “Nampaknya umurnya tidak lama lagi”, kata Chairul Saleh.


Ketika Yamin melihat Hamka datang, dia mau mengucapkan minta maaf atas semua kesalahannya. Tetapi Hamka melarangnya bicara. Dengan menggenggam tangan Yamin, Hamka membimbing mengucapkan dua kalimat syahadat. Sekali, dua kali, tiga kali bisa menirukan. Namu pada kali keempat Yamin sudah wafat. Hamka membimbing syahadat kepada orang yang pernah menyakitinya.


Chairul Saleh kemudian menyampaikan permintaan Yamin yang lain yaitu ingin dikubur di tanah kelahirannya, Namun Yamin takut masyarakat di sana tidak mau menerima jenazahnya. Maka Hamka diminta ikut mengantarkan jenazah sampai ke pekuburan. Jika diantar Hamka pasti masyarakat bisa menerimanya. Hamka dalam usia relatif tua memenuhi pemintaan mengantarkan jenazah itu sampai ke pekuburan dengan tulus.


Moh Yamin adalah orang besar di negeri ini. Biasanya orang daerah bangga dengan kesuksesan dari putra daerahnya. Namun Yamin justru takut jenazahnya tidak diterima karena dia merasa telah melukai hati masyarakatnya dengan menjelekkan Hamka. Ini tentu beban batin yang berat bagi seorang putra daerah yang merasa ditolak di daerahnya sendiri.


Semua kesulitan hidup yang dialami para tokoh ini bukan karena upaya Hamka. Beliau tidak melakukan sesuatu. Bahkan Hamka telah memaafkan mereka jauh-jauh hari. Tetapi semua ini adalah tangan Tuhan yang mengatur. Tuhan seperti memberi pelajaran bagi kita. Jangan ada dari kita yang menyakiti orang lain. Apalagi menyakiti ulama. Kelompok yang melanjutkan misi kenabian. Tuhan akan membalas dengan kesulitan hidup di dunia ini. Tidak menunggu di akhirat.


Ulama adalah termasuk kelompok yang disebutkan dalam alquran surat Ali Imran ayat 104: “Hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran 104).[Pwmu]

Komentar

Tampilkan

Terkini