-->

Peran Guru dalam Pendidikan Akhlak

09 Desember, 2020, 07.57 WIB Last Updated 2020-12-09T00:57:57Z

MENURUT Ibn Miskawaih (w. 421 H/1030 M) akhlak adalah kejiwaan seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan atau pemikiran terlebih dahulu. Sikap dan prilaku manusia yang menjadi akhlak sangat erat sekali kaitannya dengan kebiasaan. Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan definisi bahwa akhlak itu adalah membiasakan kehendak. Banyak sebab-sebab yang menjadikan adat kebiasaan antara lain mungkin sebab kebiasaan yang sudah ada sejak nenek moyangnya, sehingga ia menerima sebagai sesuatu yang sudah ada kemudian melanjutkannya karena peninggalan orang-orang tuanya. Mungkin juga karena tempat dia bergaul yang membawa dan memberi pengaruh yang kuat dalam kehidupannya sehari-hari dan sebagainya. (Rahmat Djatnika, Sistem Ethika Islam : Akhlak Mulia : 49) .


Usaha membiasakan kepada yang baik sangat dianjurkan bahkan diperintahkan di dalam agama Islam. Walaupun mungkin tadinya kurang rasa tertarik hatinya untuk selalu memperbuatnya, tetapi apabila terus menerus dibiasakan, maka kebiasaan ini akan mempengaruhi sikap batinnya juga. Maka karena itu kebiasaan-kebiasaan berbuat baik seyogianya dibiasakan sejak kecil, dalam hal ini kewajiban orang tua dan untuk membiasakan anak-anaknya dengan mendidiknya membiasakan berbuat baik sejak kecil. 


Dari sekian banyak bidang keilmuan, ilmu akhlak adalah salah satu ilmu yang sangat penting dalam Islam maka dari itu dalam dunia pendidikan baik itu pendidikan formal, informal ataupun non formal. Segala sesuatu yang berhubungan dengan akhlak seyogiyanya wajiblah diajarkan kepada setiap anak bahkan hal utama yang perlu diperhatikan seorang guru adalah sikap dan prilaku anak. Tatkala berhadapan dengan anak-anak yang memiliki perangai yang kurang sopan ataupun masih belum bisa menghargai. Maka disinilah peran penting seorang guru guna memperbaiki serta membimbing anak tersebut supaya membiasakan diri dengan kebiasaan berperilaku baik hingga nanti melekat pada jiwanya dan menjadi sebuah akhlak. Bersikap acuh pada anak yang memiliki karakter kurang baik merupakan suatu hal yang tidak patut dilakukan seorang guru, jika hal ini dilakukan baik secara tampak (lahiriah) atau secara tersembunyi (batiniah) maka hal ini menampilkan ketidakikhlasan guru tersebut dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik. 


Ruang belajar ibarat sebuah kapal dan guru adalah nahkodanya. Seorang guru berperan penting dalam membimbing dan mendidik siswanya baik itu dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, spiritual maupun akhlak. Menjadi guru artinya telah bersedia berdiri di anak tangga yang paling bawah lalu membimbing para siswa untuk menaiki anak-anak tangga itu hingga mereka sampai kepada tempat yang paling dan mampu mencapai sesuatu yang sudah dicita-citakan.


Penulis: Lisa Ulfa (Alumni Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Guru di SMP IT Assalam Islamic School Jeunieb Kabupaten Bireuen)

Komentar

Tampilkan

Terkini