-->

Bangkit!!! Kopi Pahit Tak Sepahit Covid-19

13 Januari, 2021, 17.56 WIB Last Updated 2021-01-14T04:33:20Z

VIRUS CORONA dewasa ini menjelma menjadi pembahasan hangat di segala lini kehidupan. Bukan sekedar isu, corona adalah sebuah bukti nyata dari kompleksitas permasalahan di bumi saat ini. Berbahayanya corona telah berhasil menembus batas-batas administrasi antar negara, bahkan yang terdalam menembus sistem pertahanan tubuh manusia. Tidak dapat dipungkiri, virus corona tidak hanya menghantui kesehatan namun juga dalam sektor lainnya seperti pertanian.

Pertahanan yang penting dalam melawan Covid-19 ialah ketahanan pangan. Di kala sejumlah sektor perekonomian mengalami penurunan pertumbuhan di masa pandemi, hal berbeda justru dicatatkan oleh sektor pertanian. Demikian yang disampaikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. 


Namun hal ini bukan berarti petani tidak merugi, termasuk petani kopi di Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Sejak lama Kopi Gayo dikenal sebagai salah satu komoditi kopi terbaik dunia. Kondisi Covid-19 yang merajalela telah memaksa konsumen kopi untuk mengurangi pesanan. Banyak negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor kopi dari Aceh, seperti Amerika, Australia, Belanda, Prancis, Jerman, Jerman, Italia, Belgia, dan sejumlah negara Eropa, menghentikan sementara permintaannya. Akibatnyakondisi ekonomi petani kopi semakin pahit, sepahit kopi tanpa gula.


Pandemi Covid-19 seharusnya menjadi momentum reformasi di sektor pangan. Langkah utama yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi kopi dengan realokasi anggaran yang lebih besar untuk dialokasikan berupa bantuan benih/bibit, bantuan modal sarana produksi serta pembasmi hama dan penyakit tanaman untuk mendorong produktivitas kopi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Keberpihakan terhadap petani kopi pun harus ditunjukkan dengan optimalisasi peran penyuluh. Pandemi Covid-19 bukanlah penghalang penyuluh untuk terus mendampingi petani.


Langkah selanjutnya yang juga berperan penting yaitu optimalisasi lahan dengan peran serta lintas sektoral. Hal ini dapat direalisasikan dalam rangka reforma agraria melalui redistribusi tanah serta optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan. Langkah ini tidak hanya berperan dalam optimalisasi lahan, namun juga sekaligus mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Pengemasan produk dengan teknologi juga penting dilakukan, mengingat ketahanan produk kopi yang harus tetap terjaga kualitasnya dalam waktu yang lama sebelum dipasarkan. 


Di tengah kondisi pandemi, juga dibutuhkan lebih banyak inovasi dan terobosan untuk memastikan distribusi kebutuhan kopi bisa merata ke wilayah untuk dijangkau oleh masyarakat. Dalam hal ini pemasaran melalui daring bisa membantu menyerap hasil produk tani sehingga harga di tingkat petani pun tetap stabil.


Dengan adanya berbagai langkah konkrit dalam penyelesaian permasalahan petani kopi, bidang pertanian dapat lebih bangkit dari keterpurukan yang diakibatkan Covid-19. Apalagi, kopi merupakan nafas bagi masyarakat di Dataran Tinggi Gayo yang telah melahirkan generasi demi generasi. Kebangkitan pertanian di tengah pandemi, setidaknya walaupun kopi masih pahit, tapi tidak sepahit Covid-19.


Penulis: Mulkan Kautsar, S.P (Penikmat Kopi Gayo)

Komentar

Tampilkan

Terkini