-->

Iklan

Udang Mulai Langka di Bagan Deli, DEM Sumut Ungkap Fakta Ini!

10 Januari, 2021, 17.38 WIB Last Updated 2021-01-10T10:38:14Z

LINTAS ATJEH | MEDAN - Berdasarkan hasil survey Dewan Energi Mahasiswa Sumatera Utara (DEM SUMUT) pada Minggu (03/01/2021), di Bagan Deli, Medan Kota Belawan ternyata banyak hal yang kurang baik untuk dilihat dan perlunya tingkat kepedulian yang tinggi dari pemerintah setempat.  


Dalam survey yang dilakukan pada desa binaan tersebut sangat disayangkan ternyata banyak sampah yang hanyut dan terbawa oleh arus menuju ke laut lepas. Ternyata, sampah-sampah itu bukanlah 100% dari warga setempat. Melainkan dari hulu yang terbawa oleh arus dan menuju ke sungai.


Banyak sampah yang tersangkut di tanaman bakau yang berada di desa binaan tersebut. Namun, tidak sedikit juga yang terbawa arus hingga ke laut lepas. Tidak salah halnya jika ibu Susi selaku Mantan Menteri Kelautan menyatakan bahwa “Indonesia merupakan Negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia, yang dimana sampah plastik ini sangat berbahaya” sesuai dengan berita di Kompas TV.


Bahkan saat ini juga banyak bentos yang telah hilang dari lingkungan setempat, dimana hal ini dikarenakan tingginya pencemaran yang terjadi. Berdasarkan tuturan dari Tok Anim (74) sebagai masyarakat setempat, mengatakan sampai saat ini tidak dapat kita pungkiri bahwasannya nelayan masih jauh dari kata kesejahteraan.


"Hal ini dikarenakan dari segi hasil dan cara pengolahan yang dilakukan seperti penjualan. Selain itu juga nelayan maksimal hanya dapat melaut paling lama adalah 20 hari. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya alat. Faktor lain yang membuat kurang sejahtera adalah susahnya mencari ikan atau udang-udangan seperti udang kelong. Saat ini untuk mendapatkan satu ekor udang kelong saja sangat sulit," ujarnya.


Selain itu juga, nelayan belum memiliki jaminan dalam pendapatan, beda halnya dengan mereka yang bekerja di daratan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat setempat melakukan berbagai aktifitas dimana udang lipan yang dulu tidak laku dijual, tetapi saat ini sudah mulai dijual di sekitaran. 


"Namun, sangat disayangkan pencemaran yang terjadi bukan sekedar dari sampah plastik saja. Tetapi juga ditambah dengan banyaknya pertumpahan minyak berjenis solar dari perahu-perahu nelayan yang menyebabkan ekosistem mulai terganggu," urainya.


Sementara, menurut Gufron Ginting dari Human Resourch Departement DEM SUMUT menyampaikan kita selaku orang yang berpendidikan harus bisa memberikan edukasi terhadap apa dampak pencemaran yang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. 


"Seperti yang kita ketahui bahwasannya ekosisten estuary memiliki karakteristik tertentu dan dipengaruhi oleh pasokan air tawar yang selanjutnya akan berhubungan bebas dengan laut terbuka. Jika system estuary tercemar maka sumber zat hara dan habitat makluk hidup seperti ikan dan udang-udangan juga akan hilang, begitu juga dengan sebaliknya. Berdasrkan studi banding yang saya lakukan di Merauke ternyata permasalahan sampah dan pertumpahan minyak terjadi dimana mana,” paparnya.


Dikatakannya, permasalahan pertumpahan minyak dan pembuangan sampah ke perairan juga terjadi di sekitaran pesisir Aceh dan Papua. Bahkan permasalahan ini sudah terjadi di setiap wilayah Indonesia. Sampah yang dibuang secara sembarangan akan hanyut ke laut lepas dan berdampak bagi komponen yang ada di lautan. Seperti yang kita ketahui untuk menguraikan satu sampah plastik saja membutuhkan waktu 10 hingga 1000 tahun, sedangkan untuk botol plastik membutuhkan waktu 450 tahun. Belum lagi ditambah dengan sampah-sampah lain seperti popok bayi, pembalut, kaleng, kaca, kain, sampah rumah tangga dan lainnya.


"Dalam hal ini, pelibatan masyarakat berkontribusi penting untuk menjaga serta melakukan rehabilitasi kawasan pesisir. Pelibatan tersebut meliputi persiapan program, implementasi maupun monitoring sehingga masyarakat merasa bertanggungjawab dalam rehabilitasi dan pemeliharaan lingkungan guna terciptanya lingkungan pesisir yang lestari. Namun, sinergi dan komunikasi yang baik antara pemerintah sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai pelaku sangat diperlukan untuk mengefektifkan pelibatan masyarakat ini," bebernya.

Masih kata dia, pastinya dalam melakukan rehabilitasi kawasan tersebut kita tidak bisa langsung meninggalkannya begitu saja. Tapi kita juga harus terus mendukung setiap kegiatan-kegiatan yang bermanfaat agar tujuan utama kita bisa tercapai. Ketika laut kita bersih maka kita juga akan sehat. Oleh karena itu bijaklah dalam menggunakan berbagai hal dan pastikan itu tidak berdampak buruk bagi kita kedepannya seperti pencemaran dan pertumpahan minyak yang terjadi yang selanjutnya mematikan system estuary. 


"Semoga dengan ini bisa menjaga dan meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya menjaga laut kita. Karena permasalahan ini sudah terjadi di seluruh wilayah Indonesia," tutupnya kepada media ini, Minggu (10/01/2021.[*/Red]

Komentar

Tampilkan

Terkini