-->

Mahasiswa Sultan Bayar UKT Hanya Untuk Paket 8 GB, IPK Pun Gaje

09 Februari, 2021, 11.06 WIB Last Updated 2021-02-09T04:06:49Z
PERKULIAHAN daring akibat pandemi ternyata menjadikan mahasiswa menjadi sultan. Tentu ini hal yang luar biasa, bagaimana tidak!!! Mahasiswa membeli paket 8 GB dengan harga jutaan, dimana pada biasanya dengan uang nominal seratus ribu rupiah saja kita sudah bisa medapatkan paket internet 25 GB. Tentu kita bertanya-tanya apa penyebabnya, apa mahasiswa sudah pada kaya bak sultan andara (kok bisa ya ??).

Ternyata eh ternyata, mahasiswa menggelontorkan dana jutaan untuk paket 8 GB bukan karena mahasiswa sudah pada kaya, lalu?? Karena UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang dibayarkan ke kampus di saat perkuliahan daring ini bayar UKT mahal-mahal hanya untuk paket 8 GB.

Selaku mahasiswa saya sangat menyayangkan hal ini, kita bayar kuliah mahal-mahal hanya untuk sesuatu yang tidak sepantasnya kita dapatkan. Ini sangat merugikan kita sebagai mahasiswa apalagi paket  yang kita terima dapatnya di akhir perkuliahan itupun dikirim secara 2 (dua) tahap.

Namun yang lebih membuat problem ini menjadi seperti lelucon (bagi saya), sudah merogoh kocek sebesar itu, soal penilaiannya pun tidak menentu atau bahasa gaulnya Gaje (gajelas).

Ada beberapa teman mempertanyakan itu pada saya. Sebut saja namanya Sulek “bang system penilaian gimana sih? Apakah sistem penilaian di UIN setiap fakultas sama? Jujur kami kewalahan bang dengan penilaian UIN apakah kalo kita lapor bisa di ubah? Soalnya gini Sule semester ini IP harus 4.00 Alhamdulillah semua MK udh keluar di atas 90 nilainya dan indeksnya 4.00 ada MK ******* dosennya menerapkan maksimal nilai cuma A- Yaitu 88,75 dan ini indeksnya tidak 4.00 itu udh nilai paling tinggi. gimana tuh bang???”

Saya pribadi saja bingung mau jawabnya bagaimana, karena saya sendiri juga bingung (hehe), saya sendiri mengalaminya di beberapa mata kuliah. Bukan disini saya mahasiswa pengejar IPK tapi sayang mamak di kampong gaes bayar kuliah buat saya. Sayanya kuliah bener selalu buat tugas, selalu buat absen tepat waktu, eh pas nilai keluar tidak sesuai harapan, ya auto ngechat dosen, pas saya tanya mengapa nilai saya begini “katanya saya di ujian final lisan saya tidak bisa jawab”. Padahal saat final lisan dan disaksikan oleh 21 (dua puluh satu) teman lainnya saya jawabnya benar, pas saya tanya sekarang jawabannya tidak bisa jawab, kan lucu.

Kawan-kawan mahasiswa saya pun menyampaikan, meski sudah coba diperjuangkan dengan cara menghubungi via  WA (WhatsApp) beberapa oknum dosen hanya read doang (dibaca tanpa dibalas). Saya menilai pemberian nilai tidak objektif bahkan terkesan asal-asalan.

Semoga saja para oknum dosen tersebut membaca tulisan narasi ini, dengan harapan dapat mengetuk pintu hati oknum-oknum dosen sok kiler  yang ke objektifannya dipertanyakan, dan juga semoga tulisan ini dapat mewakili harapan-harapan mahasiswa pengejar IPK (hehe), tentunya bukan penulis. Apa yang disampaikan diatas hanya segelintir problematika perkuliahan yang mengkonfirmasi bobroknya system pendidikan bangsa dan kearoganan oknum-oknum dosen yang seharusnya menjadi mitra mahasiswa.

Penulis: Ilham Rizky Maulana. SK (Mahasiswa UIN Ar-Raniry)
Komentar

Tampilkan

Terkini