-->

Iklan

Punya Bukti Sejarah, Peusaba Aceh: Jangan Hancurkan Negeri Aceh Darussalam

25 Februari, 2021, 01.50 WIB Last Updated 2021-02-24T18:50:22Z
LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman mengatakan Pemerintah Pusat diminta bertanggungjawab dalam melindungi situs  sejarah Aceh sehingga tidak musnah oleh proyek-proyek nasional yang sekarang menyasar banyak situs-situs sejarah penting di Aceh. 

Ketua Peusaba menyebutkan sekarang ini ada dua proyek nasional di Aceh yang mengancam situs bersejarah Aceh. Pertama yaitu Kawasan IPAL tempat pemakaman para  Raja dan Ulama serta Istana Darul Makmur Farusah Pindi atau  Merusah Pindi yang sekarang dikenal sebagai Gampong Pande Banda Aceh. 

Peusaba memiliki sumber sejarah tentang Istana Darul Makmur Farusah Pindi sebagai Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam dan juga banyak data lainnya. 

Tim Peusaba juga didukung oleh ahli sejarah nasional dan internasional dalam penelitian di Gampong Pande Bandar Aceh Darussalam.

"Jadi  Kamoe Peusaba meneliti na data dan na Tim ahli  droe tentang sejarah, lengkap alat termasuk alat Georadar. Kon pakek Aneuk miet dan sejarawan yum Lhee tali yang sumber sejarah buku  sampoi  majalah, buku gareh 16 on, ngen on geureusong. Tim Peusaba na ahli Internasional, jadi kon cilet-cilet lagee peneliti yum lhee tali yang hana dituri beda toh makam raja toh makam rakyat. Nyoe peneliti yum lhee tali bek takheun nyan, meu arah kiblat makam tan dituhoe, hana ditupat toh batee ulee nisan dan toh batee gaki nisan. Hana dituhoe tunong Baroh. Ahli sejarah di Aceh lee tat meusipreuk, teuma yang ahli pajan di pakek teuma. Kon hana jeut dilanjutkan proyek, nyoe dipakek ahli sejarah. Ureung yang reuloh kubu ulama ngen Raja nyan  Teumeureuka Nibak Indatu, ta meulakee bak Allah awak sengaja  dipeureuloh situs makam raja dan ulama   Aceh Darussalam bah punah jih awak nyan  mandum (Peusaba memiliki ahli tersendiri dan ahli cagar budaya tersendiri lengkap dengan alat Georadar, juga para ahli internasional. Ini berbeda dengan ahli sejarah lhee tali (tiga tali = 75 sen) yang menggunakan sumber sejarahnya berupa buku  sampul majalah, buku bergaris 16 halaman dan daun pisang kering. Tim Peusaba memiliki ahli internasional, berbeda dengan sejarawan Yum Lhee Tali yang tidak bisa membedakan mana makam Raja dan Rakyat. Makam Raja batu berukir sedangkan Makam Rakyat menggunakan batu air atau sungai. Sedangkan sejarawan Yum Lhee Tali menganggap batu berukir maupun tidak berukir sebagai makam rakyat biasa atau pemakaman umum asalkan proyek dapat berjalam. Malah mereka sejarawan yum lhee tali tidak dapat membedakan mana nisan kepala mana nisan kaki.  Kemudian membuat kedustaaan agar dapat dilanjutkan proyek. Kelak mereka semua akan dibalas oleh Allah SWT)," tandas Mawardi Usman, Rabu (24/02/2021).


Situs kedua yang terancam proyek nasional adalah kawasan pemakaman ulama Sufi di  Lambada Lhok Kecamatan Baitusalam, Aceh Besar. Kedua proyek nyata sekali mengancam lenyapnya situs sejarah. 

Ketua Peusaba juga sudah mengetahui Surat Walikota yang meminta Pemerintah Pusat dibawah Kementerian PUPR untuk melanjutkan Proyek IPAL di makam nenek moyang bangsa Aceh di Gampong Pande. Intinya Pemerintah Banda Aceh meminta Pemerintah Pusat agar dapat melanjutkan proyek pembuangan tinja diatas makam para ulama penyebar Islam di kawasan Istana Darul Makmur Gampong Pande. 

Sejak Propinsi Aceh dibubarkan tahun 1952 dan Gubernur Dawod Beureueh dicopot, pemerintah di Aceh  hanyalah boneka perpanjangan tangan Pusat yang tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan  apapun terhadap sesuatu di Aceh dan harus menunggu Perintah Pusat. Ketua Peusaba menyakini kalau surat untuk melanjutkan Proyek IPAL sudah diterima oleh Pemerintah Pusat yang dikirimkan oleh antek-anteknya yang berada di Aceh.

Namun sebelum melanjutkan proyek pemusnahan situs sejarah makam Raja dan Ulama di Gampong Pande,  Peusaba meminta Pemerintah Pusat berpikir jernih dan sempurna pikir dalam bertindak, sebelum memutuskan melanjutkan proyek pembuangan tinja diatas makam Para Raja dan Ulama Aceh. Apalagi sudah keluar Fatwa Ulama haram melecehkan apalagi memusnahkan situs sejarah. 

"Namun jika Pemerintah Pusat memaksa melanjutkan proyek pemusnahan Makam Ulama di Lambada Lhok dan Gampong Pande. Maka Pemerintah Pusat harus siap untuk berhadapan dengan kemarahan rakyat dan Bangsa Aceh yang tak terbayangkan," tukasnya. 

Ketua Peusaba mengingatkan bahwa pada zaman dahulu Pangeran terkuat di Tanah Jawa Pangeran Diponegoro telah melakukan perlawanan terhadap Belanda, disebabkan Belanda membangun jalan dengan tujuan menghancurkan makam nenek moyang Pangeran Dipoonegoro. Maka meletuslah perang Jawa yang menyebabkan kerugian besar pada pihak Belanda selama puluhan tahun, hingga Belanda nyaris bangkrut padahal perang jawa hanya berlangsung lima tahun (1825-1830). 

Efek kekalahan Pangeran Diponegoro mengejutkan Kesultanan Aceh, bukan disebabkan Pangeran Diponegoro kalah dalam perang, namun dijebak Belanda untuk perundingan kemudian ditangkap. 

Kekalahan Pangeran Diponegoro melawan Belanda telah dilaporkan oleh Kesultanan Aceh Darussalam kepada Kekhalifahan Turki Utsmani. Dan sejak itu Aceh telah memperkuat militernya yang dibantu kekhalifahan Turki Utsmani. 

Sultan Aceh Sultan Mansur Syah mengirimkan surat khusus kepada Khalifah Turki Utsmani tahun 1849 tentang kehancuran dan penderitaan di Tanah Jawa dan pulau lain oleh Kafir Belanda. Dan memang Kafir Belanda kebiasaanya dalam membuat proyek adalah mencari situs era kesultanan sebelum Belanda datang,  barulah kemudian makam Raja dan ulama dihancurkan atau ditimbun, itulah kelakuan Kaphe Belanda. 

Ketika tahun 1872 Belanda datang ke Aceh, mereka mengatakan ingin membangun Mercusuar dan Kereta Api di Aceh. Namun Sultan Aceh tahu tujuan mereka dan menolak, akhirnya Belanda mulai memilih cara keras dan melakukan ekspedisi perang 1873. Dalam penyerangannya Belanda menghancurkan banyak wilayah pantai, Sultan Aceh melawan dan mengatakan kepada Belanda: "Jangan Hancurkan Negeri Kami, Negeri Aceh Darussalam".

Tahun 1874 Ketika Belanda menguasai Istana, banyak makam Raja dihancurkan termasuk Medan Khayali atau Kherkof tempat pemakaman Raja Aceh juga ikut dihancurkan dan kemudian dibangun pemakaman Kaphe Belanda.

Ketua Peusaba mengingatkan Rakyat Aceh agar bersatu padu melindungi situs sejarah kesultanan Aceh Darussalam karena ini harga diri bangsa Aceh. Jika kita kalah maka mereka akan berpesta pora dengan menginjak-nginjak makam indatu kita para Raja dan Ulama pejuang Islam.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini