-->

Pengadaan Bibit Domba Unggul 'Pokir Ustadz Dedi' Diduga Tidak Sesuai Judul, FPRM: Apa Kabar PPK...???

02 Oktober, 2021, 14.37 WIB Last Updated 2021-10-02T07:38:02Z

Salah satu bibit domba yang katanya unggul sumber dana APBK TA 2021, pokir (pokok pikiran) anggota DPRK Aceh Tamiang atas nama Ustadz Dedi Suriansyah, S.Fil.I, MA, yang disalurkan oleh pihak rekanan, CV Tamindo Raya untuk Kelompok Tani Rajawali, Kampung Landuh, Kecamatan Rantau.

LINTAS ATJEH | ACEH TAMIANG - Proyek 'Pengadaan Bibit Domba Unggul' sumber dana APBK TA 2021, pokir (pokok pikiran) anggota DPRK Aceh Tamiang atas nama Ustadz Dedi Suriansyah, S.Fil.I, MA, yang disalurkan oleh pihak rekanan, CV Tamindo Raya untuk Kelompok Tani Rajawali, Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, diduga tidak sesuai judul.

"Judul kegiatannya adalah pengadaan bibit domba unggul namun realisasinya, pihak rekanan CV Tamindo Raya diduga membeli bibit domba yang bukan berkriteria unggul, melainkan domba hasil perkawinan antara domba lokal dengan domba unggul dan harganya jauh lebih murah dari harga bibit domba unggul yang telah ditetapkan oleh pihak Kabupaten Aceh Tamiang," ungkap Ketua Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) Nasruddin, melalui rilis pers yang diterima LintasAtjeh.com, Senin (27/09/2021).

Dijelaskan oleh Nasruddin, selayaknya pihak rekanan tidak membeli barang yang berbeda dari judul. Jika judul kegiatannya 'Pengadaan Bibit Domba Unggul' maka pihak rekanan membeli bibit domba berkriteria unggul yang harganya standarnya telah ditetapkan oleh pihak kabupaten. 

Mantan aktivis '98 tersebut juga menerangkan, jikapun pihak rekanan berupaya memaksakan diri untuk membeli barang yang tidak sesuai dengan judul kegiatan, yakni membeli bibit domba hasil perkawinan antara domba lokal dengan domba unggul, seharusnya pihak rekanan menunggu pada saat perubahan, untuk mengajukan pergantian judul. Bila kegiatan tersebut judul awalnya bernama 'Pengadaan Bibit Domba Unggul' maka di perubahan harus dirubah judul baru, misalnya 'Pengadaan Bibit Domba Hasil Perkawinan Domba Lokal dengan Domba Unggul.

"Agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, FPRM menghimbau kepada pihak dinas, khususnya pihak Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) agar berhati-hati terkait kegiatan Pengadaan Bibit Domba Unggul yang dilaksanakan oleh CV Tamindo Raya. Semoga tidak melabrak regulasi yang ada," demikian pesan Ketua FPRM, Nasruddin.

Atas informasi yang disampaikan FPRM, LintasAtjeh.com bersama sejumlah awak media lainnya langsung mengkonfirmasi semua pihak terkait. Pertama menghubungi Ketua Kelompok Tani Rajawali, Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, Lasminto melalui telepon seluler.
Menurut keterangan yang disampaikan Ketua Kelompok Tani Rajawali, Lasminto melalui telepon selulernya, domba yang sudah diantar ke kelompok tani sebanyak 39 ekor, kemudian mati 1(satu) ekor, sehingga jumlah yang tersisa sebanyak 38 ekor.

"Domba yang sudah diantar ke kelompok tani sebanyak 39 ekor, kemudian mati 1(satu) ekor, sehingga jumlah yang tersisa 38 ekor. Saat ini domba-domba tersebut dikandangkan satu tempat di kandang milik bendahara kelompok, pak Jabat," demikian terang Lasminto.

Setelah mendapatkan keterangan dari Ketua Kelompok Tani Rajawali, Lasminto, LintasAtjeh.com dan sejumlah awak media lainnya, memohon kesediaan Datok Penghulu Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, Helmi untuk mengantar ke rumah Bendahara Kelompok Tani Rajawali yang bernama Tgk Jabat.

Sesampainya di rumah Tgk Jabat, LintasAtjeh dan sejumlah awak media langsung melihat kondisi 38 ekor domba yang saat itu berada di kandang milik Tgk Jabat.

Pada kesempatan itu, Tgk Jabat menjelaskan kepada para awak media bahwa pengandangan domba di satu tempat bertujuan untuk memudahkan perawatan. Jika telah sampai waktunya nanti, domba-domba tersebut akan diserahkan kepada setiap anggota Kelompok Tani Rajawali.

Saat ditanya tentang perkiraan harga dari domba-domba tersebut, Tgk Jabat yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual kambing dan juga domba, memperkirakan harganya sekitar Rp.1 juta per-ekor.
Lalu pada Selasa, (28/09/2021) LintasAtjeh.com dan sejumlah awak media lainnya, sengaja mendatangi Kantor Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Aceh Tamiang untuk dapat mengkonfirmasi pihak PPK kegiatan 'Pengadaan Bibit Domba Unggul', Haji Ahmad, namun saat itu Haji Ahmad sedang tidak ada di kantor. Ketika dihubungi melalui telepon selulernya Haji Ahmad mengabarkan bahwa dirinya sedang berada di Kampung Paya Tampah.

Keesokan harinya, yakni pada Rabu, (29/09/2021) siang, LintasAtjeh.com dan sejumlah awak media berupaya mendatangi kembali Kantor Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Aceh Tamiang, dan saat itu berhasil menjumpai Haji Ahmad dan juga Kabid Peternakan Dedi Ariadi, SP.

Didampingi Kabid Peternakan, Dedi Ariadi, SP, pihak PPK Pengadaan Bibit Domba Unggul, Haji Ahmad menyampaikan kepada LintasAtjeh.com dan sejumlah awak media lainnya bahwa kegiatan 'Pengadaan Bibit Domba Unggul' sumber APBK Aceh Tamiang TA 2021 yang disalurkan untuk Kelompok Tani Rajawali, Kampung Landuh, Kecamatan Rantau adalah pokir Ustadz Dedi. Jumlah pagunya sekitar Rp.100 juta, dan pihak rekanan kegiatan tersebut adalah CV Tamindo Raya.

Pada kesempatan itu, Haji Ahmad juga menyampaikan kepada LintasAtjeh.com dan sejumlah awak media lainnya bahwa jumlah bibit domba unggul yang disalurkan oleh pihak rekanan, CV Tamindo Raya kepada Kelompok Tani Rajawali sebanyak 49 ekor, dengan harga beli per-ekornya senilai Rp.1,8 juta.

Ketika ditanya oleh para awak media, 'apakah benar bibit domba yang dibeli oleh pihak CV Tamindo Raya kemarin merupakan bibit domba unggul?', lalu Haji Ahmad menjawab, kalau dibeli yang betul-betul bibit unggul tidak cukup pagunya, karena bibit domba unggul yang baru disapih saja harga per-ekornya Rp.3,5 juta.

Lanjut Haji Ahmad  lagi, berdasarkan kalkulasi harga, hanya bibit domba seharga Rp.1,8 juta yang dapat dibeli. Itu bukan bibit domba yang benar-benar unggul dan bukan juga bibit domba biasa, melainkan perkawinan antara domba merino dengan domba lokal, ada sebagiannya, perkawinan domba lokal dengan domba sufflok. Itu unggul juga, mungkin cuma 60 persen. 

"Kita nggak bisa mengadakan yang asli, misalnya yang darahnya 100 persen unggul. Kalau dilihat standar harga, nggak bisa, nggak sanggup standar harga kabupaten. Makanya tahun ini kami revisi standar harga jadi Rp.4,5 juta. Tahun depan kita naikkan Rp 4,5 juta, wajib kita syaratkan surat dokumen keaslian bibit. Itu nanti seragam dia dapatkannya pak. Tingginya seragam, modelnya seragam pak. Ni jujur ya, jujur, klo sekarang ini nggak bisa pak," jelas Haji Ahmad dengan cepat dan terkesan panik.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Lalu ketika ditanya kembali oleh para awak media, 'kenapa pihak PPK tidak menganjurkan pihak rekanan untuk membelikan saja bibit domba berkriteria unggul yang harga per-ekornya Rp.4,5 juta, karena walau hanya dapat membeli 15 ekor saja (tidak sejumlah 49 ekor) tapi tidak terlalu mengambil resiko? Haji Ahmad menjawab lagi bahwa pihaknya tidak berani mengambil resiko karena biaya tinjau pasar ke Medan tidak ada.

"Kami nggak berani ngambil resiko karena biaya tinjau pasar ke Medan tidak ada. Kalau kita tinjau pasar pak, untuk menentukan harga Rp.4,5 juta, kita harus tinjau pasar sekurang-kurangnya empat ini," terang Haji Ahmad yang saat itu masih terkesan panik.

Selanjutnya, para awak media turut memberikan keterangan kepada Haji Ahmad bahwa berdasarkan hasil pemantauan pada Senin (27/09/2021) kemarin, bibit-bibit domba yang telah disalurkan oleh pihak rekanan kepada Kelompok Tani Rajawali diduga tidak masuk dalam kriteria bibit unggul. Pertanyaannya, kenapa PPK terkesan membiarkan pihak rekanan memaksakan untuk membeli bibit domba tersebut yang harganya Rp.1,8 per-ekor? Dan kenapa rekananan tidak berupaya menunggu di anggaran perubahan untuk dapat merubah judul kegiatan, misalnya dengan judul baru 'Pengadaan Bibit Domba Biasa', sehingga dapat terhindar dari segala indikasi resiko yang akan terjadi? Atas dua pertanyaan yang dilontarkan oleh awak media, terlihat dengan sedikit tergesa, Haji Ahmad berusaha menjawabnya.

"Unggulnya cuma itu yang dapat. Itu unggul juga, cuma unggulnya mungkin cuma 60 persen. Kalau terkait menunggu di perubahan untuk dapat merubah judul, kami tidak tau karena untuk merubah diluncurkan di program pak," demikian jawaban Haji Ahmad untuk dua pertanyaan yang dilontarkan oleh para awak media.

Pada kesempatan itu, para awak media turut menyampaikan informasi kepada Haji Ahmad dan Kabid Peternakan Dedi Ariadi, SP, bahwa terkait keterangan Haji Ahmad tentang jumlah bibit domba yang disalurkan oleh pihak pelaksana, CV Tamindo Raya kepada Kelompok Tani Rajawali sebanyak 49 ekor tidaklah benar karena berdasarkan keterangan Ketua dan Bendahara Kelompok Tani Rajawali, jumlah yang mereka terima yaitu 39 ekor, lalu mati satu ekor dan tersisa 38 ekor

Terkait informasi awak media tentang jumlah bibit domba yang diterima Kelompok Tani Rajawali sejumlahnya bukan 49 ekor,  tapi 39 ekor, lalu mati satu ekor dan tersisa sejumlah 38 ekor, Haji Ahmad dengan cepat menjawab bahwa dirinya belum melakukan pemeriksaan.

"Saya belum periksa, dalam pengirimannya mungkin mobilnya terkendala kadang," demikian jawaban yang disampaikan Haji Ahmad terkait jumlah bibit domba yang diterima oleh Kelompok Tani Rajawali. 

Setelah mengkonfirmasi pihak PPK, Haji Ahmad, para awak media membaca sejumlah indikasi kejanggalan dari keterangan-keterangan yang disampaikan Haji Ahmad, bahkan muncul dugaan bahwa setelah dikonfirmasi oleh para awak media, Haji Ahmad berupaya menghubungi pihak rekanan lalu menceritakan tentang berbagai hal, terutama tentang masalah jumlah bibit domba yang diterima kelompok tani, kemudian diduga kuat pihak rekanan langsung menghubungi dan mengabarkan kepada kelompok tani bahwa domba bantuan untuk kelompok tani masih kurang 10 ekor lagi.
Upaya untuk membuktikan tentang dugaan tersebut, beberapa menit setelah selesai mengkonfirmasi Haji Ahmad, para awak media berupaya menghubungi Ketua Kelompok Tani Rajawali, Lasminto dan juga pihak Bendahara Tgk Jabat melalui telepon seluler, lalu menanyakan, 'apakah ada muncul bahasa dari pihak dinas atau rekanan yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat, bibit domba yang telah disalurkan kelompok tani akan ada penambahan atau pengurangan? 

Atas pertanyaan dari para awak media tersebut, Ketua Kelompok Tani Rajawali, Lasminto, dengan terkesan berupaya untuk berkelit tapi susah untuk berbohong menyampaikan bahwa siang tadi  dirinya mendapat kabar dari rekanan atas nama Anto bahwa bibit domba yang disalurkan kepada kelompok masih kurang 10 ekor lagi.

"Itulah dibilang, kalau tidak salah, barang kali kurang 10 lagi atau berapa. Kabar tersebut dari pak Anto, siang tadi," jelas Lismanto yang terkesan susah untuk untuk berbohong. 

Sementara itu, Bendahara Kelompok Tani Rajawali, Tgk Jabat, memberikan keterangan, dirinya ada mendengar tentang jumlah bibit domba yang disalurkan kepada kelompok sebanyak 49 ekor dan dirinya tidak berani meyakini informasi tersebut. Untuk memastikannya Tgk Jabat meminta tolong kepada awak media untuk menanyakan langsung kepada ketua kelompok tani.

"Saya ada mendengar informasi tentang jumlah bibit domba yang disalurkan kepada kelompok sebanyak 49 ekor dan untuk memastikannya tolong tanyakan langsung kepada ketua kelompok tani, pak Lasminto," terang Tgk Jabat yang terkesan memberi isyarat bahwa dirinya mendapatkan informasi tersebut dari ketua kelompok tani.

Selanjutnya, pihak rekanan CV Tamindo Raya, atas nama Anto saat bertemu awak media mengatakan  bahwa, domba yang baru diserahkan kepada Kelompok Tani Rajawali sejumlah 39 ekor, mati 1 ekor, sehingga jumlah saat ini, yakni 38 ekor. Anto menambahkah 11 ekor lagi akan menyusul.

"Barang baru dikirim ke kelompok sebanyak 39 ekor, mati 1 ekor, jadi 38 ekor yang baru kami serahkan.11ekor lagi akan menyusul, karena kita mengumpulkan domba tersebut satu persatu kita beli dari masyarakat di Stabat karena barangnya agak susah dicari," terang Anto.
Ketika ditanya mengenai judul kegiatan 'Pengadaan Bibit Domba Unggul' tapi realisasi diduga tidak sesuai judul, Anto menjawab bahwa itulah kondisi barang, sesuai dengan harga yang sudah ditentukan oleh dinas, dan kalaupun domba yang sudah ada dianggap tidak sesuai maka dirinya siap untuk tidak melanjutkan paket pekerjaan tersebut walaupun dirinya harus menerima kerugian. 

Kemudian, saat disinggung tentang sikap PPK, Haji Ahmad yang terkesan memaksakan kegiatan ini dengan membeli bibit domba yang diduga bukan berkriteria unggul dengan merubah harga satuan, dan tidak menyarankan pihak rekanan untuk membeli bibit domba unggul yang sebenarnya dan sesuai judul, walau harga tinggi tapi volume diperkecil, karena dengan alasan, Haji Ahmad tidak berani mengambil resiko karena biaya tinjau pasar ke Medan tidak ada, sembari tersenyum Anto menanggapi bahwa kemungkinan Haji Ahmad sedang dalam kondisi panik sehingga memunculkan keterangan seperti itu.

Sebelumnya, awak media juga telah berupaya menghubungi pihak pemilik pokir yang berjudul 'Pengadaan Bibit Domba Unggul' yakni anggota DPRK Aceh Tamiang, Ustadz Dedi Suriansyah, S.Fil.I, MA, melalui telepon seluler untuk mempertanyakan tentang dugaan terkait kegiatan tersebut yang telah dijual ke pihak rekanan dan juga mempertanyakan tentang  fungsi pengawasan dari Ustadz Dedi selaku seorang anggota legislatif terhadap seluruh kegiatan pokir atas nama dirinya, termasuk kegiatan pengadaan bibit domba unggul yang dilaksanakan oleh rekanan CV Tamindo Raya, namun saat mengangkat telepon selulernya, Ustadz Dedi menyampaikan bahwa dirinya sedang mengikuti rapat paripurna.

Pada Kamis (30/09/2021), para awak media kembali menelpon PPK, Haji Ahmad dan menanyakan, apakah kegiatan pengadaan bibit domba unggul yang disalurkan untuk Kelompok Tani Sriwijaya telah di-PHO? Terkait pertanyaan tersebut Haji Ahmad melalui telepon selulernya menjawab bahwa kegiatan tersebut belum di-PHO.

"Belum di PHO, ini kondisinya seperti buah simalakama, nggak di PHO, barangnya sudah terbeli, di PHO, kondisi dombanya seperti ini," demikian jawaban dari Haji Ahmad.[*/Red]


 

Komentar

Tampilkan

Terkini