-->


Modus Janjikan Rumah Dhuafa, Pj Keuchik Babahrot Diduga Tipu Warganya Sendiri

05 Januari, 2022, 09.44 WIB Last Updated 2022-01-05T02:44:57Z

LINTAS ATJEH | ABDYA - Pj Keuchik Gampong Pantee Rakyat Kecamatan Babahrot Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) di duga menjadi pelaku penipuan terhadap salah seorang warganya sendiri.

Abdullah (37) yang mengaku ditipu oleh Pj Keuchik tersebut dengan iming-iming akan mendapatkan bantuan rumah dhuafa.


"Pj Keuchik tersebut meminta uang pelicin untuk mendapatkan satu unit rumah bantuan dari program gampong," kata Abdullah, Selasa (04/01/2022). 


"Saya diminta uang senilai Rp.10 juta oleh keuchik. Katanya akan diberikan bantuan rumah dhuafa yang berukuran 8x12 meter," ungkapnya.


Abdullah juga mengaku, saat itu dirinya tidak memiliki uang dengan jumlah yang diminta oleh keuchik tersebut. Sehingga setelah bernegosiasi, dirinya hanya memberikan uang tunai sebesar Rp. 3 juta. 


"Saya tidak punya uang Rp.10 juta, sehingga saya harus berhutang kepada mertua. Sekarang saya malu karena uang belum dikembalikan serta rumah yang dijanjikan juga tidak ada tanda-tanda dibangun sampai saat ini," terangnya. 


Kejadian itu, lanjut Abdullah, terjadi pada Oktober 2020 lalu, hingga saat ini bantuan rumah dhuafa yang dijanjikan keuchik itu belum ada kejelasan. Abdullah juga mengaku telah berusaha meminta agar uang diberikannya untuk dikembalikan saja. Namun, dirinya kembali menerima janji manis bahwa rumah bantuan tersebut akan dibangun secepatnya.


"Saat diminta untuk dikembalikan,  keuchik kasih harapan akan dibangun pada bulan Juni 2021 lalu. Nyatanya, sampai sekarang tidak ada kepastian dan kejelasan," ujarnya. 


Secara bersamaan, salah seorang warga Gampong Pantee Rakyat, yang  enggan disebutkan namanya juga mengatakan, menurut informasi kejadian tersebut telah lama menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat setempat.


"Kami juga mendengar informasi itu, bahwa keuchik diduga meminta uang kepada calon penerima rumah dhuafa program gampong untuk besaran jumlahnya mencapai jutaan rupiah," terangnya.


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM


Ia juga berharap, agar pihak berwenang dapat mengambil tindakan tegas dalam menyikapi permasalah tersebut. Sehingga kaum dhuafa di Gampong Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot tidak menjadi korban penindasan dan penipuan.


"Sebagai warga Gampong Pantee Rakyat, kami meminta kepada pihak yang berwajib untuk segera menindaklanjuti perkara ini. Jika memang tidak terbukti, hal itu bisa menepis isu-isu yang telah berkembang di masyarakat," sebutnya.


Sementara itu, Pj Keuchik Pantee Rakyat, Abu Bakar Idris membenarkan, bahwa ia ada mengambil uang dari Abdullah. Tetapi, uang yang diambilnya bukanlah sebagai pelicin untuk mendapatkan rumah bantuan, melainkan hutang.


"Iya benar, saya ada mengambil uang dari Abdullah, tetapi bukan berkaitan dengan rumah bantuan dhuafa," katanya.


Abu Bakar mengaku, pada akhir tahun 2020 lalu dirinya didatangi oleh seseorang yang tidak ia kenal. Saat itu, orang tersebut menawarkan program bantuan rumah kepadanya.


"Saya tidak kenal dengan orang itu, dan saya juga lupa menanyakan nama dan alamatnya. Dia menawarkan program rumah bantuan kepada saya selaku keuchik," paparnya.


Sebagai Pj Keuchik, lanjutnya, dia menyeleksi penerima bantuan rumah yang dijanjikan Orang Tak Kenal (OTK) tersebut untuk dua warga, salah satunya Abdullah.


"Untuk Gampong Pantee Rakyat mendapatkan dua rumah. Satu rumah saya berikan kepada Abdullah dan satunya lagi saya berikan kepada adik kandung saya," jelas Abdullah. 


Lebih lanjut, tambahnya lagi, dirinya menyampaikan kepada Abdullah agar menyiapkan uang untuk kebutuhan yang mungkin sewaktu-waktu diperlukan, jika program rumah tersebut terwujud. 


"Uang yang saya minta ke Abdullah Rp.3 juta itu adalah bentuk hutang, tidak ada kaitannya dengan rumah. Malahan saya bilang ke dia, kalau saya sudah ada rezeki nanti uang itu akan saya kembalikan," pungkasnya.[WA]

Komentar

Tampilkan

Terkini