-->



Mengapa Kematian Ditakuti?

09 Februari, 2022, 09.30 WIB Last Updated 2022-02-09T02:33:07Z
SEHARUSNYA, kematian adalah sebuah hal yang ditunggu dengan rasa penuh haru. Karena, setelah kematian menghampiri, kita tidak  perlu lagi mengeluarkan keringat dalam mencari dan memenuhi kebutuhan atau pun mengeluarkan air mata untuk sebuah kesedihan, Menahan rasa sakit, kecewa, dan segala hal yang menjadi penyebab timbulnya duka lara.

Kematian adalah suatu hal yang pasti. Dalam al-Qur'an Surat Al Ankabut ayat 57, Allah SWT berfirman "Kullu Nafsin Dzaikatul Maut". Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dari ayat tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang hidupnya kekal. Sebuah kemustahilan ciptaan itu bersifat kekal karena sifat "baqa" adalah sifat yang hanya ada pada Pencipta yakni Allah Azza Wajalla.

Kematian adalah akhir dari perjalanan manusia. Setelahnya, kita akan meniti kehidupan yang baru, kehidupan yang tidak mampu diterjemahkan oleh akal pikiran. Bahkan ada dari golongan manusia yang berpandangan bahwa setelah kematian, manusia akan kembali dilahirkan sebagai wujud yang lain. Hal ini adalah sebuah bukti bahwa manusia tidak punya daya dan kemampuan untuk mengetahui perihal dirinya tanpa hidayah keimanan.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Dalam bukunya yang berjudul "Tasawuf Modern", Buya Hamka Menerangkan bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi manusia takut menghadapi kematian. Pertama, tidak tau hakikat mati. Kedua, tidak insaf (mengetahui) kemana kita pergi sesudah meninggal. Ketiga, takut terkena siksa. Keempat, Tidak tahu kemana diri sesudah kematian. Kelima, takut dan sedih akan meninggalkan harta dan anak. 

Orang yang tidak berilmu sangat takut akan kematian, lantaran mengingat dirinya akan ditinggalkan seorang diri di liang lahad yang kelam. Selain itu, mereka juga takut disiksa atas dosa-dosanya. Buya Hamka juga menyebutkan bahwa kubur bukanlah perhentian rohani melainkan perhentian jasmani. Setelah dikuburkan, Jasmani akan berubah sifatnya dari tubuh manusia menjadi tanah akan tetapi rohani tidaklah hilang dan tetap akan menerima pertanggungjawaban atas apa yang pernah dikerjakannya selama hidup di dunia.

Penulis: Lisa Ulfa (Alumni Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry)
Komentar

Tampilkan

Terkini