-->



Ekpedisi Melacak Jejak Perang Aceh 1873 dan Gugurnya Kohler

28 Maret, 2022, 21.15 WIB Last Updated 2022-03-28T14:15:08Z
LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Pada 26 Maret 1873, Ultimatum Perang di Kirimkan oleh Belanda kepada Sultan Aceh. ultimatum ditolak Sultan dan Panglima Polem Cut Banta. Akhirnya Pasukan Aceh bersiap Teuku Kali Malikon Ade mempertahankan Kuta Meugat dan Pejuang Aceh mempertahankan Kuta Pante Ceureumen Ulee Lheu. Serangan kapal laut dibalas bertubi-tubi dari Aceh barulah  8 April 1873 Belanda mendarat besar-besaran di Kawasan Pante Cermin.

"Menurut Informasi yang didapatkan dari masyarakat Ulee Lheue kalau pelabuhan Ulee lheu dulu adalah Kuta Pante Cermin. Tak jauh dari jembatan Ulee lheue didalam  air juga terdapat reruntuhan dan bebatuan yang diperkirakan Kuta Meugat. Setelah tsunami kawasan Ini penuh air namun Berbeda kondisinya 149 Tahun sebelumnya kawasan ini adalah kawasan pantai berpasir"  demikian Kata Muammar Al Farisi Koordinator Peusaba yang meneliti jejak Agresi Pertama Belanda di Aceh tahun 1873.
Setelah terjadi pertempuran dahsyat yang mati-matian dipertahakan oleh pejuang Aceh maka Syahid Teungku Imuem Lamkrak dan Rama Setia. Belanda menuju kawasan Maharaja Kuta  Pahang sekarang terletak di Gampong Alue Deah Teungoh. Pada zaman dulu para pangeran diletakkan dibeberapa Kuta seperti Pocut Kleng putra Sultan Ahmad Syah (1727-1735)  yang menguasai Kuta Pahang. 

Makam Maharaja Gampong Pahang masih ditemukan walaupun sudah bersemak-semak sedangkan Kuta Maharaja Gampong Pahang sudah lama dihancurkan Belanda. Belanda mendapatkan serangan bertubi-tubi dari pihak Aceh. Pihak Aceh sejak lama sudah memperhitungkan Belanda akan datang ke Aceh makanya ibukota di perkuat di Kuta Pantai Cermin, Kuta Meugat, Kuta Bugeh,  Kuta Rantang, Kuta Pocut, Lampoh Tube Poteu Jeumaloy, Kawasan Mesjid Raya Baiturrahman dan Kuta Gunongan serta Istana Darud Donya. 

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Dalam perang Dahsyat Belanda sampai ke Kawasan Peukan Lampaseh dari Lampaseh ke  Keudah dan Merduati serangan langsung diarahkan Ke Mesjid Raya Baiturrahman Bandar Aceh Darussalam. Ibukota dipertahankan oleh tiga Panglima perang tangguh Teuku Imuem Luengbata, Teuku Nanta Setia dan Teuku Ce' atau Teuku Ibrahim Lamnga Pertempuran dahsyat terjadi di Mesjid Raya Baiturrahman Bandar Aceh dan Lampoh Teube Poteu Jeumaloy atau Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail (1703-1726) basis pasukan pertahanan di Lampoh Teube Poteu Jeumaloy berhasil mempersempit Belanda dan terpojok untuk merebut mesjid Raya Baiturrahman Bandar Aceh dan Belanda kalah Belanda terpukul mundur dengan meninggalkan mesjid Raya yang terbakar dengan meriam dan peluru api. 

Tanggal 14 April 1873 Belanda datang dengan kekuatan besar-besaran pertempuran amat dahsyat banyak pasukan Belanda terbunuh dan pasukan Aceh mati syahid Mesjid Raya Baiturrahman dan Lampoh Teube Kawasan Pemakaman Poteu Jeumaloy menjadi arena perang. Akhirnya peluru sniper Aceh mengenai Dada Kohler yang sedang meneropong ke kawasan Istana. 

Belanda lari terbirit-birit akhirnya beberapa pasukan Belanda ditangkap yang ditanyakan:"Beutoi Jih Keunong (benar Kohler yang kena) Yang dijawab Ya oleh pasukan Belanda yang ditangkap pasukan kesultanan Aceh.

"Kemudian pasukan itu dilepaskan. Akhirnya karena kalah Belanda melarikan diri dari Aceh," demikian penjelasan Muammar Al Farisi. 
Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman meminta pemerintah untuk menjaga situs penting perang Aceh Belanda agar generasi muda tahu sejarah Aceh.  Banyak sekali orang membaca sejarah Aceh dan kehebatan perang Aceh namun banyak yang tidak tahu lokasi perang Aceh melawan Belanda. 

"Makanya kedepan perlu pembinaan edukasi sejarah dan wisata titik perang Aceh Belanda kepada generasi muda Aceh," tutup Ketua Peusaba Aceh tersebut, Senin (28/03/2022).[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini