-->

Kebijakan Ekonomi dan Politik Perdagangan Kerajaan Aceh Darussalam

04 Mei, 2023, 12.22 WIB Last Updated 2023-05-04T05:22:02Z
ISLAM datang ke Indonesia pertama kali secara damai dan saling tolerir antar penganut agama lain. Islam pertama kali dibawa oleh bangsa Arab dan India ke Indonesia. Penyebab datangannya karena keduanya terpikat dengan beberapa rempah di Nusantara sehingga keduanya membentuk golongan Islam semangat dakwah. Proses pengIslaman yang ada di Indonesia ini dipermudah dnegan adanya dukungan dari pihak pedagang muslim yang dtaang dan warga Indonesia itu sendiri.  Kerajaan Aceh Darussalam sendiri memiliki fokus penting dalam perkembangan Islam. Keberadaannya menjadi fase berbagai bentuk perkembangan peradaban yang akan tercatat sebagai sejarah di Indonesia. Letak Aceh yang berada di pinggir perairan membuat kerajaan ini berkembang dalam perekonomian maritimnya. Aceh ini juga membuat Islam berkembang sangat pesat. Hadirnya kerajaan Aceh Darussalam ini semakin menyemarakkan gerakan masyarakat di sekitar pesisir.

​Dalam hal sosial, masyarakat Aceh sebagian penduduknya bercocok tanam padi dan lada yang menjadi suatu kepentingan tersendiri di sejumlah daerah di Aceh. Masyarakat Aceh juga banyak menanam pohon buah, pohon kelapa maupun pohon pinang. Adapun jenis padi yang ditanam oleh masyarakat yaitu padi kering dan padi basah. Sistem pertanian dilakukan oleh masyarakat Aceh sebagai bentuk mata pencaharian mereka yang sudah dimulai sejak zaman Pra Islam dan sebelum masuknya Kolonial di daerah Aceh. Namun pada periode 1500-1800 M sebagian besar mata pencaharian masyarakat Aceh bercocok tanam dan mereka juga melakukan perdagangan. Disamping itu masyarakat Aceh juga bekerja sebagai tukang emas, tukang kapal dan lain sebagainya.

Kebijakan Sultan Iskandar Muda

Kerajaan Aceh merupakan kekuatan Islam di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Dalam menerapkan kebijakannya beliau berpegang teguh pada 4 bentuk diplomasi. Pertama, Strategi diplomasi kancil untuk dunia internasional. Kedua, Strategi diplomasi melalui perkawinan (besan) antar negara. Ketiga, Strategi diplomasi kekuatan dengan senjata seperti tentaraatau militer. Keempat, Strategi diplomatik ekonomi yaitu didasarkan pada tujuan untuk mencapai pengaruh dan politik. Adapun alat perang yang digunakan oleh pasukan Aceh adalah meriam. Meriam tersebut berasal dari kerjasama antara kerajaan Aceh dan Turki Utsmani. Selain itu Sultan Iskandar Muda juga membentuk ekspendisi Militer untuk membenahi kota Aceh dan menjaga agar tidak ada pihak asing yang ikut campur dalam kesultanan Aceh.

Sultan Iskandar Muda juga pernah mengadakan siding rencana terhadap pelaksanaan program kerajaan dengan menghadirkan para pejabat dan ulama serta para tokoh masyarakat dan orang-orang kaya untuk membahas mengenai rumusan adat yang akan dijadikan sebagai pedoman bersama baik dari pihak kesultanan maupun masyarakat. konsolidasi tersebut dilaksanakan di balai masjid Baiturrahman. Setelah disahkannya perundang-undangan tersebut diberilah nama adat meukuta alam yang membahas tentang distribusi dan tugas pengelola kerajaan. Beliau juga mengeluarkan kebijakan mengharamkan riba dalam wilayah kekuasaannya.

Perekonomian Aceh Pada Era Sultan Iskandar Muda

​Sejarah mengatakan bahwa kondisi ekonomi kerajaan Aceh Darusalam pada tahun 1500-1800 M didukung dengan masyarakatnya yang dominan berdagang dan bercocok tanam. Sultan Iskandar Muda terus berusaha memperluas kekuasannya hingga sampai semenanjung Malaka. Pada masa pemerintahannya, Aceh mampu menjadi kerajaan yang besar dan mandiri perekonomiannya melalui perdagangan. Komoditi yang dihasilkan dari kerjaan Aceh terdiri atas beras, daging, ikan, buahbuahan, dan binatang ternak.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM 

​Peningkatan perekonomian kerajaan Aceh sangat dipengaruhi oleh kontribusi komoditas lada yang cukup besar dalam dunia perdagangan. Hal ini sejalan dengan sistem yang ingin diterapkan oleh Sultan Iskandar Muda yaitu dengan meningkatkan pendapatan kerajaan Aceh melalui sektor perdagangan. Upaya yang dilakukan beliau untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan cara memonopoli perdagangan lada di Aceh maupun daerah sekitarnya.

​Upaya Sultan Iskandar Muda dalam meningkatkan perekonomian kerajaan Aceh yaitu meningkatkan pendapatan kerajaan Aceh melalui perdagangan. Khususnya perdagangan lada yang menjadi komoditas utama pada saat itu. Karena komoditas yang paling dominan di Sumatera adalah lada. Lada menjadi barang ekspor yang pokok karena selalu mengalami peningkatan disebabkan peminat dari ekspor lada ini sangat banyak baik dalam negeri maupun luar negeri. Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda perdagangan di Bandar Aceh bertambah ramai. Agar dapat memenuhi permintaan lada yang semakin meningkat, maka Sultan Iskandar Muda memonopoli perdagangan lada baik di Aceh sendiri maupun di daerah sekitarnya.

​Selain itu kerajaan Aceh juga menjalin kerjasama dan menjalin persahabatan dengan beberapa kerajaan lokal di Nusantara maupun negara asing seperti Eropa, Inggris, India dan sebagainya. Adanya kerja sama dengan kerajaan negara lain semata-mata untuk meningkatkan sistem perekonomian kerajaan Aceh karena kerajaan luar sangat ingin berdagang di daerah Aceh sehingga mereka akan setuju dengan semua persyaratan yang diajukan oleh Sultan Iskandar Muda seperti pajak dan bea cukai. Kerajaan Aceh pun juga melakukan perdagangan ke luar negeri sebagai bentuk timbal balik atas kerjasama yang sudah disepakati. Aceh mengekspor gajah, kuda dan juga belerang, sutera, gading maupun kayu cendana. Namun ekspor utamanya adalah lada.

Dalam hal ini Penulis berkesimpulan,  selain itu kerajaan Aceh juga menjalin kerjasama dan menjalin persahabatan dengan beberapa kerajaan lokal di Nusantara maupun negara asing seperti Eropa, Inggris, India dan sebagainya. Adanya kerja sama dengan kerajaan negara lain semata-mata untuk meningkatkan sistem perekonomian kerajaan Aceh karena kerajaan luar sangat ingin berdagang di daerah Aceh sehingga mereka akan setuju dengan semua persyaratan yang diajukan oleh Sultan Iskandar Muda seperti pajak dan bea cukai.

Kerajaan Aceh pun juga melakukan perdagangan ke luar negeri sebagai bentuk timbal balik atas kerjasama yang sudah disepakati. Aceh mengekspor gajah, kuda dan juga belerang, sutera, gading maupun kayu cendana. Namun ekspor utamanya adalah lada. Sultan Iskandar Muda berhasil menjadikan kerajaan Aceh berjaya dalam bidang perdagangan. Untuk lebih meningkatkan perekonomiannya, Sultan Iskandar Muda menjalin kerjasama dengan beberapa kerajaan lokal hingga mancanegara melalui kegiatan ekspor impor.

Penulis: Twk Abd Razak Al Khuzaifi (Mahasiswa  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala)
Komentar

Tampilkan

Terkini