-->








Tari Saman Jadi Perhatian Serius, Perlu Terobosan Baru untuk Generasi dan Ekonomi Gayo Lues

20 Agustus, 2025, 08.55 WIB Last Updated 2025-08-20T01:55:30Z

LINTAS ATJEH | GAYO LUES - Bincang-bincang santai di Dinas Pariwisata Gayo Lues bersama Lintas Aceh Dan Seputar Gayolues, pada hari Rabu (19/08/2025), Kembali menegaskan bahwa Tari Saman kini menjadi perhatian serius di bumi seribu bukit. 


Meski telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia, tantangan baru muncul: bagaimana Saman benar-benar memberi manfaat nyata, khususnya bagi seniman dan masyarakat Gayo Lues.


Dewan Pakar Saman Gayo Lues sekaligus Plt. Kepala Dinas Perindagkop Gayo Lues, Syamsul Bahri, S.Pd., M.AP, menilai akses para seniman untuk mengikuti kegiatan nasional maupun internasional yang bersumber dari APBN masih sangat terbatas. Padahal, ruang tersebut menjadi pintu besar bagi perkembangan Saman di kancah nasional hingga internasional.


"Kalau kita ingin Saman benar-benar menjadi ikon daerah yang mendunia, maka sinergi harus dibangun. Tidak cukup hanya mengandalkan APBD, kita juga harus merangkul DPR RI, DPRA, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif, bahkan jaringan investor yang tertarik pada nilai budaya,” tegas Syamsul Bahri.

Ia menambahkan, momentum pameran dan festival budaya merupakan ajang strategis memperkenalkan Saman di mata dunia. Dari sana, dunia tidak hanya mengenal seni budaya, tetapi juga potensi ekonomi kreatif, pariwisata, hingga perdagangan di Gayo Lues.


Syamsul juga mengingatkan bahwa sejak 2014 dirinya telah menggagas pembangunan Saman Center sebagai pusat pengembangan, pelestarian, dan promosi budaya Gayo. Namun, hingga kini rencana itu belum terealisasi. Menurutnya, pemerintah bersama pihak terkait perlu segera mengkaji ulang dan mewujudkan pembangunan gedung tersebut demi masa depan budaya dan wisata Gayo Lues.


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM


Kekhawatiran Generasi Muda


Plt. Kepala Dinas Pariwisata Gayo Lues, Mursyidi, menyoroti berkurangnya minat generasi muda terhadap Saman.

“Padahal Saman sudah diakui UNESCO, tetapi ironisnya generasi penerus justru banyak yang awam bahkan kurang memahami makna filosofis dari tarian ini. Jika tidak segera diatasi, maka lambat laun Saman bisa terancam punah,” katanya.


Senada dengan itu, Kabid Kebudayaan Sabirin menyebutkan bahwa Saman bukan sekadar tari, tetapi juga sarana pendidikan karakter, kebersamaan, dan spiritualitas masyarakat Gayo. “Generasi muda perlu dikenalkan bukan hanya pada gerakannya, tetapi juga filosofi yang ada di baliknya,” jelasnya.


Adat sebagai Identitas


Kasat Pol PP Gayo Lues, Syabri, mengingatkan pentingnya adat istiadat Gayo sebagai pondasi dalam melestarikan Saman. “Saman lahir dari adat Gayo. Kalau adat istiadat sudah pudar, maka kekuatan Saman pun akan melemah. Karena itu, menjaga adat sama pentingnya dengan menjaga Saman,” ujarnya.


Harapan Bersama


Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa pelestarian dan pengembangan Saman tidak bisa hanya ditopang pemerintah daerah atau seniman semata. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor bersama DPR RI, kementerian terkait, hingga lembaga internasional. Semua pihak berharap percepatan pembangunan Saman Center dapat segera diwujudkan agar Saman tidak hanya diakui dunia, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan masyarakat Gayo Lues.[Is]

Komentar

Tampilkan

Terkini