Ambulans tersebut tertahan di Desa Ketukah karena jalan utama menuju Kecamatan Terangun amblas dan tak lagi bisa dilalui kendaraan. Kondisi ini bukan sekadar persoalan kendaraan, tetapi menyangkut nyawa dan keselamatan masyarakat yang bergantung pada layanan kesehatan darurat.
Tanpa menunggu lama, Babinsa Koramil 01/Terangun bergerak cepat. Bersama unsur Muspika dan warga setempat, ia menyatukan langkah dan tekad. Jalur alternatif yang dipilih bukan jalur biasa—melainkan jalan lintas perkebunan warga dengan medan ekstrem, licin, berlumpur, sempit, serta tanjakan curam yang menguji keberanian dan kekuatan fisik.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Di bawah terik matahari dan lumpur yang mengikat kaki, proses penarikan ambulans berlangsung penuh ketegangan. Setiap tarikan tali, setiap dorongan tenaga, disertai risiko tergelincir dan terguling. Namun tak satu pun mundur. Semangat gotong royong dan rasa tanggung jawab terhadap keselamatan warga menjadi kekuatan utama yang mengalahkan medan.
Setelah perjuangan panjang dan melelahkan, ambulans akhirnya berhasil dikeluarkan dari jalur ekstrem dan tiba dengan selamat di Puskesmas Terangun. Keberhasilan ini disambut rasa lega dan haru, karena satu-satunya kendaraan medis darurat itu kini kembali siap melayani masyarakat.
Aksi tersebut menjadi potret nyata pengabdian tanpa pamrih. Babinsa Koramil 01/Terangun kembali membuktikan bahwa TNI tidak hanya hadir menjaga keamanan, tetapi juga berdiri di garis terdepan saat rakyat membutuhkan pertolongan, bahkan di tengah medan tersulit sekalipun. [Is]
