-->

Di Tengah Lumpur dan Air Mata, Polri Hadir Menjaga Asa Pendidikan Anak-Anak Jangka

15 Januari, 2026, 12.55 WIB Last Updated 2026-01-15T05:55:41Z
LINTAS ATJEH | BIREUEN - Kepedulian Polri terhadap masyarakat pascabanjir terus digalakkan. Memasuki minggu ketiga pascabanjir Aceh, saat ini Polres Bireuen kembali melaksanakan Giat Polri untuk Masyarakat dengan menyasar fasilitas pendidikan. Pada Kamis, 15 Januari 2026, puluhan personel Polres Bireuen turun langsung membersihkan sisa endapan lumpur di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 48 Bireuen, Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen.

Kapolres Bireuen melalui Koordinator Lapangan Kabag Ops Polres Bireuen, Kompol Darmansyah, yang didampingi Kapolsek Jangka Iptu Saifannur, kepada media menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Polri hadir di tengah masyarakat, khususnya dalam pemulihan pascabanjir.

“Sejak minggu kedua pascabanjir, Polres Bireuen fokus membersihkan endapan lumpur di rumah ibadah, fasilitas umum, dan sekolah-sekolah mulai dari TK hingga SLTA. Setiap hari kami menurunkan minimal 60 personel gabungan dari Polres, Polsek, dan Pos Polisi. Tidak ada hari libur, termasuk hari Minggu. Semua bergerak dalam satu tim yang dikoordinir oleh Kepala Tim,” ujar Kabag Ops.

Terlihat para personel Polres Bireuen bahu-membahu bergotong royong membawa kereta sorong, cangkul, sekrop, dan peralatan lainnya untuk membersihkan lumpur tebal di halaman dan lingkungan sekolah. Aksi kemanusiaan ini turut dibantu para guru serta siswa kelas tinggi yang dengan tulus menyediakan minum dan membantu pekerjaan ringan.

Kepala MIN 48 Bireuen, Fazliadi, S.Ag, melaporkan bahwa saat banjir melanda, ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter. Setelah surut, endapan lumpur masih menyisakan ketebalan sekitar 1,5 cm di dalam ruang kelas dan mencapai 40 cm di luar ruangan. Sekolah ini memiliki 12 ruang belajar serta satu ruang tata usaha dan guru yang ikut terdampak.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

“Alhamdulillah, berkat kerja sama para guru dan bantuan alat berat dari Kemenag Bireuen, sejak 5 Januari kegiatan belajar mengajar sudah kembali aktif. Namun kondisi kami masih sangat terbatas. Banyak buku rusak dan hilang, mobiler sekolah rusak, bahkan ada 10 siswa kami yang kehilangan rumah akibat banjir. Mereka yang berdomisili di wilayah Kuala Ceurapee, Kecamatan Jangka,” ungkap Fazliadi dengan nada haru.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Polres Bireuen atas kepedulian dan bantuan nyata yang diberikan. “Kehadiran Polri sangat berarti bagi kami, tidak hanya membersihkan lumpur, tetapi juga menguatkan semangat guru dan siswa untuk bangkit,” tambahnya.

Sementara itu, salah seorang guru MIN 48 Bireuen, Lizarwati, S.Pd.I, memperlihatkan tumpukan buku pelajaran yang rusak serta kondisi siswa yang terpaksa belajar dengan pakaian seadanya.

“Ini anak-anak kami, jangan hanya seragam, rumah mereka pun hilang, Pak,” ucapnya sambil memeluk seorang siswa dengan mata berkaca-kaca.

Meski diliputi kesedihan, anak-anak tetap tampak ceria dan bersemangat mengikuti pelajaran, mengenakan pakaian biasa maupun seragam yang tersisa. Pemandangan ini menjadi potret pilu sekaligus harapan bahwa pendidikan tidak boleh terhenti oleh bencana.
Apa yang dilakukan Polres Bireuen menunjukkan bahwa kebersihan lingkungan pascabanjir bukan sekadar soal fisik, tetapi juga menyangkut pemulihan martabat dan masa depan generasi muda. Lingkungan sekolah yang bersih adalah langkah awal memulihkan psikologis anak-anak korban bencana. Pendidikan harus tetap berjalan, karena di sanalah harapan ditanamkan kembali. Kehadiran Polri di tengah lumpur dan air mata menjadi simbol bahwa negara hadir, menjaga asa, dan memastikan anak-anak tetap memiliki masa depan yang layak meski diterpa musibah.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini