-->

UPTD SDN 3 Percontohan Peusangan Mulai Bangkit Pasca Banjir

14 Januari, 2026, 15.43 WIB Last Updated 2026-01-14T08:43:21Z
LINTAS ATJEH | BIREUEN - UPTD SD Negeri 3 Percontohan Peusangan yang terletak di Gampong Pante Gajah, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, terus menunjukkan semangat kebangkitan pascabencana banjir. Hingga Rabu, 14 Januari 2026, sekolah yang berada di jalur nasional Banda Aceh–Medan ini telah mencapai sekitar 75 persen bersih dari endapan lumpur akibat banjir besar yang melanda kawasan tersebut.

Saat banjir, ketinggian air mencapai kurang lebih 1,5 meter, dan setelah surut meninggalkan endapan lumpur setebal 0,5 hingga 1 meter di ruang-ruang kelas maupun halaman sekolah. Kondisi ini sempat melumpuhkan aktivitas belajar mengajar dan merusak berbagai sarana pendidikan.

Namun, komitmen terhadap dunia pendidikan tidak pernah surut. Pascabanjir, upaya pembersihan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan guru-guru sekolah, wali murid, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Peusangan, Jeumpa, dan Jeunieb, serta sejumlah relawan. Bantuan juga datang dari komunitas Exxim Ojek Online Aceh, Mei Gacoan, Relawan Rumah Zakat, dan unsur TNI.

Kepala UPTD SDN 3 Percontohan Peusangan, Nisrina, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kebersihan sekolah bukan hanya soal fisik, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter.
“Sekolah kami sudah sekitar 75 persen bersih dari lumpur. Hari ini beberapa rombongan belajar sudah mulai aktif, sementara siswa kelas tinggi ikut membantu relawan TNI yang masih membersihkan lingkungan sekolah,” ungkapnya.

Menurut Nisrina, sekolah yang dipimpinnya memiliki 21 rombongan belajar (rombel) dengan 30 guru ASN dan 15 guru honorer. Meski fasilitas belum sepenuhnya pulih, proses pendidikan tetap diupayakan berjalan. Anak-anak terlihat ceria mengikuti pembelajaran meski harus belajar di atas lantai, sementara sebagian siswa lainnya dengan penuh kepedulian ikut bergotong royong membersihkan halaman sekolah.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Pemandangan ini menjadi cerminan pentingnya pendidikan kebencanaan dan kebersihan sejak dini. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar nilai empati, kerja sama, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan. Sekolah menjadi ruang pembelajaran hidup, di mana krisis justru melahirkan karakter tangguh.

Di sisi lain, para guru berjuang menyelamatkan perangkat pembelajaran. Terlihat seorang guru memilah RPP dan modul ajar Kurikulum Merdeka yang basah dan koyak akibat banjir. Hal ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mengancam keberlangsungan administrasi dan mutu pembelajaran.

Dukungan TNI turut mempercepat dalam masa pemulihan, Serda Otis, Ketua Regu Yonif TP 837 Kasatria Trunojoyo Jawa Timur, mengatakan pihaknya menurunkan 10 personel untuk membersihkan sekolah selama satu hari penuh.
“Besok akan digantikan oleh regu lain dari kesatuan yang sama agar pembersihan bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Kehadiran TNI dan relawan memberi pesan kuat bahwa sekolah adalah aset bersama. Kebersihan lingkungan sekolah pascabencana bukan sekadar membersihkan lumpur, tetapi juga upaya memulihkan rasa aman, semangat belajar, dan masa depan anak-anak.
UPTD SDN 3 Percontohan Peusangan hari ini menjadi simbol bahwa di tengah keterbatasan, pendidikan tetap harus berjalan. Dengan lingkungan yang bersih, sehat, dan didukung semangat gotong royong, sekolah diharapkan segera pulih sepenuhnya dan kembali menjadi ruang belajar yang layak, bermartabat, dan inspiratif bagi generasi penerus bangsa.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini