-->

Dukung Pemulihan Psikologis Pascabencana, Tim PKM UNESA Bekali Guru Pembelajaran Aman dan Responsif

10 Februari, 2026, 09.43 WIB Last Updated 2026-02-10T02:43:37Z
LINTAS ATJEH  |  STABAT - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Peduli Bencana LPPM Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melaksanakan kegiatan bertajuk “Praktik Pembelajaran Aman dan Responsif untuk Mendukung Psychological Well-Being Pasca Bencana”  beberapa hari lalu.

Ketua Tim PKM, Dr. Retno Tri Hariastuti, M.Pd Kons kepada media ini, Senin (09/02/2026), mengatakan, kegiatan ini berlangsung di Aula Serbaguna Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat melibatkan 50 guru dari berbagai satuan pendidikan. 

"Tujuannya adalah untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghadirkan pembelajaran yang aman, responsif, dan berorientasi pada pemulihan psikologis pascabencana," ujar Dr.  Retno.

Disebutkannya, anggota ini terdiri dari Sherrin Nurlita Widya, M.Pd dan Qurrota A’yuni Fitriana, M.Psi. Pelaksanaan PKM menitikberatkan pada pentingnya peran guru sebagai safe adult dan figur kunci dalam menciptakan sekolah sebagai ruang pemulihan (healing space) bagi peserta didik. 

Dr Retno menjelaskan, guru diharapkan mampu merespon kondisi emosional peserta didik secara empatik tanpa mengabaikan keberlanjutan proses pembelajaran.

Ia menguraikan, penyampaian materi diawali dengan penguatan pemahaman mengenai psychological well-being sebagai dasar kesiapan belajar, dilanjutkan dengan pembahasan dampak bencana terhadap aspek emosional, perilaku, sosial, dan akademik siswa.

"Dalam sesi ini, guru diajak memahami bahwa perilaku siswa pascabencana merupakan bentuk respons adaptif yang perlu dihadapi dengan empati, bukan dengan hukuman,' kata Dr. Retno.

Dikatakannya, kemudian peserta dibekali dengan prinsip pembelajaran aman yang mencakup keamanan fisik dan psikologis, relasi guru dan siswa yang hangat, aturan kelas yang jelas dan adil, serta proses pembelajaran yang bebas stigma

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Ia menekankan, pentingnya pembelajaran responsif, yaitu kepekaan guru terhadap emosi siswa, fleksibilitas dalam metode pembelajaran, penghargaan terhadap perbedaan reaksi siswa, serta empati sebagai landasan utama interaksi di kelas. 

Selain itu ungkapnya, peserta juga dikenalkan pada strategi praktis yang dapat diterapkan di kelas, antara lain penerapan rutinitas menenangkan, check-in emosi siswa, aktivitas kolaboratif, serta pemberian waktu jeda dalam proses belajar.

Dr. Retno menuturkan, teknik regulasi emosi sederhana turut diajarkan kepada para peserta agar nantinya dapat dipraktikkan bersama siswa, seperti teknik pernapasan 4–4–4, peregangan ringan, dan kegiatan menulis perasaan.
 
"Untuk memperkuat pengalaman belajar, kegiatan dilengkapi dengan ice breaking reflektif, seperti Cuaca Emosi dan Lingkar Harapan, yang bertujuan membangun rasa aman dan keterhubungan antarpeserta," ucapnya.

Lebih lanjut Dr. Retno memaparkan, peserta kemudian diajak mendiskusikan studi kasus nyata, kolaborasi layanan dengan konselor sekolah, serta alur rujukan jika ditemukan siswa yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

"Peserta diarahkan untuk menyusun rencana tindak lanjut berupa satu perubahan kecil yang siap diterapkan di kelas, refleksi mingguan, serta dokumentasi praktik baik" imbuhnya.
"Melalui rangkaian kegiatan ini, guru mampu menciptakan iklim kelas/ yang lebih tenang, meningkatkan kehadiran dan interaksi siswa, serta mendukung pemulihan motivasi belajar pascabencana," harap Dr. Retmo.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini