SETIDAKNYA ada tiga (3) tipe/kelompok tokoh atau pakar setelah bertemu Presiden Prabowo, berdiskusi panjang, baik di Istana maupun di rumah pribadi Presiden, di Hambalang atau di Kertanegara.
Pertama, tokoh atau pakar yang menyadari Presiden punya data, keyakinan, pertimbangan, dan feeling, dalam setiap langkah atau keputusan yang diambilnya. Tokoh atau pakar ini terbagi dua pula.
Satu, mereka yang memahami dan tak masalah dengan langkah atau keputusan yang diambil Presiden, tapi memilih pasif atau tak terlalu mendukung, tapi juga tak terus mengkritisi. Kalau boleh sebut nama, Adian Husaini, misalnya.
Dua, mereka yang memahami dan tak masalah dengan langkah atau keputusan Presiden itu, tapi memilih aktif mendukung, minimal menyuarakan bahwa sudah tepat apa yang dilakukan Presiden. Chatib Basri nama yang bisa disebut di sini.
Kedua, tokoh atau pakar yang juga menyadari Presiden punya data, keyakinan, pertimbangan, dan feeling dalam mengabil langkah atau keputusan, tapi baru benar, jika apa yang dimintanya dipenuhi.
Tokoh atau pakar yang seperti ini bukan malah mendukung Presiden usai bertemu, tapi cenderung mendikte langkah Presiden sesuai dengan apa yang dimauinya, bukan apa yang dimaui Presiden.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Presiden sudah ada pada jalan yang benar dengan langkah atau keputusannya, tapi akan lebih benar, jika Presiden mengganti si ini dan si itu. Dan kalau bisa dirinyalah yang ditunjuk sebagai penggantinya. Nama Abraham Samad mungkin layak disebut.
Ketiga, tokoh atau pakar yang yakin Presiden punya data, keyakinan, pertimbangan, dan feeling, tapi ia tetap menyuarakan peristiwa hari-hari yang terus terjadi di lapangan. Presiden bicara hal besar, ia bicara hal kecil yang ingin juga dijangkau Presiden.
Kalau boleh disebut nama, Najwa Shihab bisa dimasukkan pada kategori ini. Presiden terlihat kelabakan menjawab pertanyaan Najwa Shihab, tapi sebetulnya tidak juga. Mana bisa peristiwa hari-hari itu dijangkau Presiden setiap saat.
Memang, peristiwa hari-hari itu menjadi tanggung jawab Presiden juga. Misalnya, penyiraman air keras pada aktivis, tahanan rumah terduga korupsi, dan lain-lain. Tapi yang dilihat dari semua itu adalah komitmen Presiden, tak bisa menghentikannya saat itu juga.
Fenomena Presiden bertemu tokoh atau pakar di bidangnya dan berdialog panjang lebar adalah fenomena baru kepresidenan kita. Apalagi direkam dan dipublikasikan. Niat, tekad, keyakinan, dan isi kepala terlihat jelas di situ. Tak bisa dibuat-buat.
Sebagai mantan komandan pasukan khusus, pengusaha sukses, dan ketua umum partai yang merangkak dari bawah, pandangan-pandangan Presiden Prabowo memang tak bisa diremehkan. Ia punya cara dan strategi, yang layak untuk diberikan kesempatan memimpin negara-bangsa kita semua.
Penulis: Erizal Jamal Dt Tumangguang (Profesor Riset pada Pusat Riset KKEK BRIN/Penasihat PERHEPI dan AAI)

.jpg)

