LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Penghentian aktivitas gotong royong oleh BPJN Aceh untuk memperbaiki Jalur Tajuk Enang Enang Pintu Rime Gayo menimbulkan kekecewaan di kalangan Masyarakat.
Pelaksana tugas kerja BPJN Aceh, Zulkarnaini menegaskan bahwa langkah tersebut dinilai terlalu membahayakan Masyarakat dan dianggap sia sia, mengingat struktur tanah yang masih belum stabil pasca bencana yang kurang lebih terjadi pada tujuh bulan yang lalu dapat berpotensi rusak kembali apabila kawasan tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Alokasi dana dan kerja keras Masyarakat untuk menyewa alat alat konstruksi dinilai menjadi alasan utama kekecewaan Masyarakat terhadap keputusan BPJN Aceh.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Alfin Gusriandi (wakil SEMA fakultas tarbiyah dan keguruan uin ar-raniry) mengkritisi kinerja BPJN Aceh yang dianggapnya terlalu lambat dalam mengambil sikap dan mengonfirmasi struktur tanah.
"Saya menyayangkan kinerja BPJN Aceh karena telah membiarkan Jalur Nasional vital Enang Enang terbengkalai selama tujuh bulan tanpa adanya konfirmasi," ungkapnya kepada redaksi, Jum'at (26/06/2026).
Alfin Gusriandi yang juga merupakan salah satu putra daerah Aceh Tengah menganggap jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Bireun tersebut merupakan urat nadi logistik dan ekonomi Aceh Tengah, membiarkannya lumpuh selama berbulan bulan tanpa adanya kejelasan konfirmasi teknis dinilai wajar jika disebut lamban oleh publik.[*/Red]
