-->

Nabi itu Diteladani, Bukan Sekadar Dicintai

26 Agustus, 2026, 09.49 WIB Last Updated 2026-08-26T02:49:56Z
SUDAH BERULANG KALI kita memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Masjid penuh, selawat dikumandangkan, ceramah tentang akhlak Rasulullah disampaikan, lalu acara selesai. Tidak ada yang salah dengan mengingat kelahiran beliau. Persoalannya adalah apa yang terjadi setelah acara selesai. Sebab, Maulid seharusnya bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi kesempatan untuk mengenal Nabi, memahami perjuangannya, mencintainya, lalu mengikuti ajarannya, termasuk menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan politik.

Cinta kepada Nabi tidak berhenti pada rasa kagum. Ada prosesnya, mulai dari mengenal beliau, memahami kehidupan dan perjuangannya, kemudian mengikuti apa yang beliau ajarkan. Proses itu adalah ma'rifat, mahabbah, lalu ittiba'. Artinya, semakin kita mengenal Nabi, seharusnya semakin besar pula kemauan untuk mengikuti beliau dalam kehidupan. Ini termasuk cara beliau mengatur masyarakat dan menjalankan kepemimpinan politik.

Masalahnya, kita sering membaca sirah hanya sebagai cerita masa lalu. Padahal perjalanan Rasulullah ﷺ penuh perjuangan. Ketika berada di Madinah, perjuangan itu juga hadir dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Beliau bukan hanya mengajarkan ibadah, tetapi memimpin masyarakat dan menjalankan urusan negara serta menyebarkan dakwah ke luar negeri muslim. Karena itu, mengenal Nabi seharusnya tidak hanya membuat kita tahu kisah hidup beliau, tetapi juga memahami bagaimana beliau menjadi teladan dalam kehidupan politik dan kepemimpinan.

Lantas mengapa kita masih sering memisahkan keteladanan Nabi dalam akhlak dan ibadah dari keteladanan beliau dalam politik dan kepemimpinan?

Ketika Teladan Kepada Nabi Dipersempit

Salah satu persoalannya adalah cara kita menempatkan Rasulullah ﷺ sebagai teladan. Kita mudah meneladani beliau sebagai pribadi yang rajin beribadah, penyayang, jujur, dan berakhlak baik. Namun, tidak sedikit yang berhenti di sana. Padahal ketika berada di Madinah, Rasulullah ﷺ juga menjadi pemimpin masyarakat dan kepala negara. Beliau mengatur kehidupan masyarakat, menyelesaikan perselisihan, mengangkat hakim dan penguasa daerah, serta membuat berbagai kebijakan. Michael Hart bahkan menempatkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah karena kepemimpinan beliau yang mampu mengatur masyarakat dan negara.

Akibatnya, perayaan Maulid kadang terlihat bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari. Kita bisa menghadiri acara Maulid dengan pakaian terbaik, bershalawat bersama, dan menangis ketika mendengar kisah Rasulullah, tetapi setelah pulang masih menghadapi masalah kejujuran, ketimpangan sosial, korupsi, riba, dan berbagai persoalan perilaku. Bahkan dalam urusan politik, kita sering memuji Nabi sebagai pemimpin yang amanah tetapi tidak menjadikan kepemimpinan politik beliau sebagai bagian dari teladan yang perlu dipelajari. Cinta kepada Nabi akhirnya lebih terlihat sebagai seremoni daripada momentum perubahan. Padahal Rasulullah ﷺ meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai warisan yang harus dibaca, dipahami, diamalkan, dan disebarkan.

Persoalannya menjadi semakin serius ketika agama dipisahkan dari kehidupan bersama. Sekularisme membuat agama dipersempit menjadi urusan pribadi semata, sementara kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan hukum berjalan dengan aturan yang terpisah dari agama. Padahal ittiba' kepada Rasulullah ﷺ tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga cara berpikir, akhlak, ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kalau cinta kepada Nabi hanya diterapkan di masjid, sementara urusan politik berjalan dengan ukuran yang berbeda, sebenarnya kita sedang mengikuti siapa?

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Kita dapat melihat sekaligus merasakan akibatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang sangat bersemangat mengadakan Maulid, tetapi tidak peduli ketika Al-Qur'an semakin jauh dari kehidupan. Ada yang lantang memuji akhlak Nabi, tetapi masih menganggap jabatan sebagai jalan mendapatkan kekuasaan dan kekayaan. Ada pula masyarakat yang merayakan Maulid dengan meriah, sementara persoalan sosial di sekitarnya tidak selesai. Seharusnya, politik seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari keteladanan Nabi. Rasulullah ﷺ sendiri menjalankan kepemimpinan politik di Madinah. Negara hadir mengatur masyarakat, menyelesaikan perselisihan, dan menjalankan berbagai urusan publik.

Islam Menjawab Kehidupan Secara Menyeluruh

Islam tidak mengajarkan kehidupan yang dipisah-pisahkan. Hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama berjalan bersama dan menurut ketentuan syari’at. Karena itu, Rasulullah ﷺ menjadi teladan dalam ibadah sekaligus keluarga, akhlak, ekonomi, masyarakat, politik, dan negara. Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa mengikuti Rasul adalah bagian dari bukti kecintaan kepada Allah:

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Ali ‘Imran ayat 31)

Lebih lanjut, Islam juga tidak memisahkan kesalehan pribadi dari kehidupan keluarga dan masyarakat. Rasulullah ﷺ menjadi teladan dalam keluarga, dikenal lembut kepada istri dan menyayangi anak serta cucunya. Beliau juga mengajarkan keadilan dalam ekonomi dan menjaga hak orang-orang yang lemah. Dari sini terlihat bahwa kesalehan tidak cukup diukur dari hubungan seseorang dengan Allah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia dan menjalankan tanggung jawabnya. Begitu pula dalam politik, kepemimpinan Nabi menunjukkan bahwa urusan masyarakat bukan sesuatu yang berada di luar keteladanan beliau.

Karena itu, Rasulullah ﷺ juga harus ditempatkan sebagai teladan politik. Ketika berada di Madinah, beliau tidak meninggalkan urusan masyarakat kepada orang lain. Beliau mengatur masyarakat, menyelesaikan perselisihan, membuat perjanjian, mengangkat hakim, menunjuk penguasa daerah, serta menjalankan berbagai urusan kenegaraan. Dengan demikian, politik tidak bisa begitu saja dikeluarkan dari pembahasan tentang keteladanan Rasulullah ﷺ. Jika beliau kita jadikan teladan dalam keluarga dan akhlak, mengapa kepemimpinan politik beliau justru kita tinggalkan?

Kemudian Rasulullah ﷺ ketika berada di Madinah tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi mengatur masyarakat dan menjalankan berbagai kebijakan sebagai kepala negara dengan tatacara syari’at. Karena itu, negara seharusnya tidak meminggirkan agama ke ruang pribadi ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat serta menjadikan jihad dan dakwah sebagai agenda utama politik luar negerinya. 

Hari ini, kita justru memiliki Al-Qur'an, Sunnah, dan Rasulullah ﷺ sebagai teladan. Yang menjadi persoalan adalah sejauh mana warisan itu benar-benar hadir dalam kehidupan. Maulid seharusnya menjadi kesempatan untuk mengubah kebiasaan tersebut, dari acara yang hanya selesai di panggung menjadi komitmen untuk menjalankan ajaran Nabi dalam kehidupan nyata secara menyeluruh.

Khatimah
Karena itu, perayaan kelahiran Nabi saw. perlu kita jadikan momentum untuk kembali memperjuangkan kehidupan yang merindukan syariat Islam secara menyeluruh. Bukan hanya mengambil akhlak Nabi tetapi meninggalkan aturan yang beliau bawa, bukan hanya mengagumi beliau sebagai pribadi namun harus dibarengi dengan meneladaninya sebagai pemimpin masyarakat dan kepala negara.

Penulis: Hadi Irfandi, S. Pd (Pengamat Sosial Kepemudaan di Islamic Civilization In Malay Archipelago Forum/ICOMAF)
Komentar

Tampilkan

Terkini