-->

Nasionalisme Membumi di ‎Dayah Darussalam Al-Walyyah Labuhanhaji Barat Gelar Upacara HUT ke-81 RI

17 Agustus, 2026, 17.36 WIB Last Updated 2026-08-17T10:37:16Z
LINTAS ATJEH | ACEH SELATAN - Merah Putih berkibar di tengah kompleks Dayah Darussalam Al-Walyyah, di bawah langit pagi yang cerah, ribuan santri, dewan guru dan keluarga besar dayah berdiri dalam barisan, memperingati 81 tahun perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia.

‎‎Namun, upacara di lingkungan dayah tersebut tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dijadikan ruang untuk menghubungkan ajaran Islam, nasionalisme, perdamaian dan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

‎Upacara tersebut turut hadir Pengasuh Ponpes/Dayah Abuya H. Mawardi Waly Alkhalidy, MA dan Sekretaris Umum sekaligus Ketua Yayasan Mah,ad Aly Muda Waly, Tgk. H. Abi Hidayat Muhibbudin Waly, SE, para Dewan Guru dan Santri Dayah Darussalam Al-Walyyah, Senin, 17 Agustus 2026.

‎Upacara digelar di dua titik terpisah, masing-masing untuk santriwan dan santriwati. Suasana berlangsung khidmat. Para santri mengenakan pakaian putih dengan peci hitam, sementara barisan santriwati tampil dalam busana putih. Merah putih menghiasi lingkungan kompleks dayah, mempertegas suasana kebangsaan di lembaga pendidikan Islam yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan pendidikan keislaman di Aceh.

‎Dalam upacara santriwan, Tgk. Abi Safriadi, S.Ag, bertindak sebagai inspektur sekaligus pembina upacara.

‎Dalam amanatnya, Tgk. Abi Safriadi, menyampaikan perdamaian sebagai nafas nasionalisme. Ia mengajak para santri tidak memandang nasionalisme sebatas simbol penghormatan kepada bendera atau perayaan kemerdekaan.

"Nasionalisme harus diwujudkan melalui sikap menjaga persatuan, perdamaian, persaudaraan dan kemajuan bangsa," ungkap Tgk. Abi Safriadi.

‎Ia mengaitkan semangat perdamaian dengan keteladanan Nabi Muhammad SAW, khususnya melalui peristiwa Sulh Hudaibiyah, yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai salah satu contoh penting bagaimana perdamaian dan kesepakatan dapat ditempuh untuk mencegah konflik yang lebih besar.

‎Pesan tersebut menjadi relevan bagi Indonesia, khususnya Aceh yang memiliki sejarah panjang perjuangan, konflik dan perdamaian.

‎Cinta damai, menjaga perdamaian dan menghormati sesama manusia, kata Abi Safriadi dalam substansi amanatnya, merupakan bagian dari akhlakul karimah. 

"Karena itu, semangat kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada mengenang perjuangan masa lalu, tetapi diteruskan dengan menciptakan kehidupan bangsa yang aman, adil dan bermartabat," terangnya.

‎Bagian penting dari amanat tersebut adalah penekanan terhadap hubungan antara Pancasila dan nilai-nilai yang diajarkan Islam.

‎Abi Safriadi mengajak para santri memahami lima sila bukan hanya sebagai teks yang dihafal, melainkan sebagai nilai yang harus diterjemahkan ke dalam perilaku kehidupan berbangsa dan bernegara.

‎Menurut pesan yang disampaikan, sila pertama memiliki keterkaitan kuat dengan nilai tauhid dan akidah. Ketuhanan Yang Maha Esa menempatkan kehidupan berbangsa dalam kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral kepada Tuhan. 

Bagi santri, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui keimanan, ibadah, kejujuran, amanah dan menjauhi perilaku yang merusak kehidupan bersama. ‎Dengan demikian, ketuhanan tidak berhenti sebagai pengakuan formal, tetapi menjadi sumber akhlak dalam kehidupan sosial.

‎Nilai kemanusiaan, dalam konteks kehidupan santri, diterjemahkan melalui penghormatan terhadap martabat manusia. Setiap orang harus diperlakukan secara adil, tanpa merendahkan, menyakiti atau melakukan tindakan yang menghilangkan hak orang lain.

‎Di sinilah akhlakul karimah memiliki ruang yang sangat besar. Ilmu agama yang dipelajari di dayah harus melahirkan pribadi yang santun, menghargai sesama dan mampu menempatkan kemanusiaan sebagai bagian dari tanggung jawab moral.

‎Persatuan menjadi pesan yang sangat penting. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjaga persaudaraan. Perbedaan suku, daerah, organisasi, latar belakang sosial maupun pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk memutus persaudaraan sesama anak bangsa.

‎Bagi para santri, persatuan Indonesia harus dimulai dari lingkungan terdekat: menghormati guru, menyayangi sesama santri, menghargai masyarakat dan menjaga keharmonisan di tengah perbedaan.Persaudaraan setanah air menjadi fondasi penting bagi kehidupan kebangsaan.

‎Nilai sila keempat juga dapat diwujudkan melalui tradisi musyawarah. Dalam kehidupan masyarakat, persoalan tidak semestinya selalu diselesaikan dengan pertentangan. Perbedaan pandangan dapat dipertemukan melalui dialog, kebijaksanaan dan penghormatan terhadap pendapat orang lain.

‎Tradisi musyawarah yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat dan pendidikan keagamaan menjadi modal sosial untuk membangun kehidupan demokratis yang tetap berakar pada etika dan tanggung jawab.

‎Sila kelima mengandung pesan agar kemerdekaan benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

‎Karena itu, kepada para santri, Abi Safriadi menekankan pentingnya ilmu dan pendidikan sebagai bekal mencerdaskan kehidupan bangsa. Santri tidak hanya dituntut menjadi pribadi yang memahami ilmu agama, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat kepada masyarakat dan negara.

‎Ilmu yang diperoleh di dayah harus melahirkan pengabdian. Dari dayah untuk masa depan bangsa. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa nasionalisme di lingkungan dayah tidak harus dilepaskan dari identitas keislaman. Justru, keduanya dapat berjalan beriringan.

‎Santri dapat menjadi pribadi yang taat beragama sekaligus mencintai tanah air. Pendidikan Islam dapat melahirkan generasi yang memiliki akhlak sekaligus wawasan kebangsaan.

‎Dalam konteks itulah, upacara kemerdekaan menjadi lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Ia menjadi proses pendidikan karakter. Para santri diajak memahami bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu mengandung tanggung jawab.

‎Kemerdekaan harus dirawat. Persatuan harus dijaga. Perdamaian harus dipelihara dan pendidikan harus digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

‎Momentum HUT ke-81 RI di Dayah Darussalam Al-Walyyah juga menjadi kesempatan untuk mengenang jasa para pahlawan, ulama, santri dan pemuda yang mengambil bagian dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

‎Dalam kesempatan tersebut turut disinggung kiprah Abuya Syekh H. Muhammad Muda Waly Al-Khalidy, salah satu ulama besar Aceh yang memiliki pengaruh luas dalam pendidikan Islam dan kehidupan keulamaan di Aceh.

‎Penyebutan sosok Abuya Muda Waly dalam momentum kemerdekaan menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak hanya dibentuk oleh tokoh-tokoh politik dan militer. Ulama, santri dan lembaga pendidikan Islam juga mempunyai tempat penting dalam membangun kesadaran masyarakat, pendidikan dan kehidupan kebangsaan.

‎Warisan tersebut kemudian diteruskan melalui pendidikan generasi berikutnya. Semangat yang diwariskan Abuya Muda Waly tidak hanya dapat dilihat dari sejarah keulamaannya, tetapi juga dari tradisi pendidikan yang terus berkembang melalui generasi penerus.

‎Karena itu, ketika para santri berdiri di bawah kibaran Merah Putih pada 17 Agustus 2026, yang sedang dirayakan bukan semata-mata usia Republik Indonesia.

‎Bahwa ilmu, agama, akhlak, persaudaraan dan kecintaan kepada tanah air harus berjalan bersama. Pesan itu menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman, ketika generasi muda menghadapi tantangan yang tidak lagi sama dengan masa perjuangan fisik para pendahulu.

‎Jika dahulu para pahlawan berjuang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan, maka generasi hari ini memiliki medan perjuangan berbeda: kebodohan, kemiskinan, perpecahan, intoleransi, penyalahgunaan teknologi dan berbagai persoalan sosial lainnya.

‎Senjata utama santri menghadapi tantangan tersebut adalah ilmu, akhlak dan persatuan.tutup Abi Safriadi.

‎Upacara santriwati juga berlangsung dengan suasana khidmat. Bunda Hj. Wardiati Djamaluddin Waly, S.E. bertindak sebagai inspektur sekaligus pembina upacara. Dua titik pelaksanaan tersebut memperlihatkan besarnya partisipasi keluarga besar dayah dalam memperingati kemerdekaan.

‎Dayah Darussalam Al-Walyyah saat ini menaungi sekitar 2.600 santri, selain para dewan guru dan unsur pendidikan lainnya. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi generasi muda yang sedang ditempa melalui pendidikan keislaman.

‎Mereka bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi generasi yang memahami agama, tetapi juga diharapkan mampu mengambil peran di tengah masyarakat dan negara.

‎Di tengah halaman dayah, Merah Putih berkibar. Para santri berdiri dalam barisan. Sebagian menundukkan kepala dalam suasana khidmat, sebagian lainnya mengikuti rangkaian upacara dengan penuh perhatian.

‎Pemandangan itu menyampaikan pesan sederhana tetapi kuat. Indonesia tidak hanya dirawat dari gedung pemerintahan, tetapi juga dari ruang-ruang pendidikan. Dayah menjadi salah satu ruang penting untuk menanamkan nilai agama sekaligus kebangsaan kepada generasi muda.

‎Dari ruang-ruang pendidikan seperti inilah nasionalisme dapat ditanamkan sejak dini—bukan sebagai slogan, melainkan sebagai karakter. Ketuhanan diwujudkan melalui keimanan dan akhlak, Kemanusiaan diwujudkan melalui sikap adil dan beradab, Persatuan diwujudkan melalui persaudaraan, Kerakyatan diwujudkan melalui musyawarah, Keadilan sosial diwujudkan melalui kepedulian dan pengabdian.
Sesuai amanat pembina upacara tentang lima sila tersebut pada akhirnya tidak cukup hanya diucapkan dalam upacara. Ia harus hidup dalam perilaku sehari-hari.

‎Dan pesan itulah yang terasa kuat dari halaman Dayah Darussalam Al-Walyyah Labuhanhaji Barat pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia: menjadi santri yang saleh, berilmu, berakhlak, cinta damai, mencintai tanah air dan siap mengabdi untuk bangsa.

‎Upacara pun menjadi lebih dari sekadar peringatan kemerdekaan. Ia menjadi pengingat bahwa merawat Indonesia adalah bagian dari tanggung jawab moral generasi hari ini, merawat persaudaraan, menjaga perdamaian dan mengamalkan Pancasila.[NB/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini