LINTAS ATJEH | ACEH BARAT - Asisten Lapangan (Aslap) SPPG, Woyla Timur, Pasi Janeng, Kabupaten Aceh Barat, Muhammad Safrizal menanggapi wacana menjadikan kantin sekolah sebagai tempat produksi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Safrizal, dapur produksi MBG paling tepat berada di SPPG, bukan di kantin sekolah.
"Produksi makanan untuk ribuan siswa setiap hari itu bukan perkara sederhana. Butuh standar, sistem, dan pengawasan ketat. Oleh karena itu, dapurnya harus di SPPG, bukan di kantin sekolah," kata Safrizal, dalam rilis yang diterima LintasAtjeh.com, Kamis (10/09/2026).
Ia menjelaskan, ada 4 alasan dapur MBG harus di kelola oleh SPPG, yang pertama terkait standar keamanan pangan harus ketat.
Menurut Safrizal, dapur SPPG dibangun sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN). Ada area cold storage, pemisahan bahan mentah dan matang, tempat pencucian 3 bak, ventilasi, sanitasi, dan pengelolaan limbah.
"Kalau di kantin sekolah, tidak semua punya fasilitas itu. Risiko kontaminasi, keracunan, dan masalah kebersihan jadi besar. Ini menyangkut kesehatan anak-anak," jelasnya.
Yang kedua, lanjutnya, terkait Efisiensi dan Skala Produksi. 1 SPPG di Woyla Timur Pasi Janeng dirancang untuk melayani belasan sekolah sekaligus.
"Lebih efisien membangun 1 dapur besar di SPPG daripada memaksa 15 sekolah membangun 15 dapur kecil. Dari sisi anggaran, tenaga, dan pengawasan jauh lebih hemat kalau terpusat," katanya.
Kemudian, alasan ketiga terkait tidak nyamannya bisa mengganggu proses belajar mengajar siswa. Safrizal khawatir jika produksi dipindah ke sekolah akan menambah beban guru dan kepala sekolah.
"Sekolah tugasnya mendidik. Kalau disuruh ngurus belanja, masak, cuci, distribusi ribuan porsi, kapan ngajarnya? Jangan sampai MBG malah mengganggu KBM," tegasnya.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASTATJEH.COM
Alasan keempat soal pengawasan lebih mudah dan profesional. Dengan sistem terpusat, pengawasan dari BGN, Dinas Kesehatan, dan BPOM bisa dilakukan di satu titik. Menu juga disusun ahli gizi agar sesuai Angka Kecukupan Gizi AKG.
"Di SPPG ada ahli gizi, ada SOP, ada pencatatan. Mutu dan gizi makanan bisa dijaga konsisten setiap hari," ujarnya.
SPPG Juga Bisa Serap Ekonomi Lokal
Selain soal teknis, Safrizal melihat SPPG juga punya peran penting dalam menggerakkan ekonomi desa. SPPG Aceh Barat Woyla Timur Pasi Janeng yang berlokasi di Desa Pasi Janeng berkomitmen menampung hasil petani lokal.
“Kebutuhan bahan pangan MBG setiap hari itu besar. Beras, sayur, telur, ikan. Ini bisa kita serap dari petani Woyla Timur dan sekitarnya. Jadi MBG bukan hanya mengenyangkan anak, tapi juga menghidupkan petani dan UMKM,” katanya.
Ia mencontohkan, operasional 1 SPPG juga menyerap puluhan tenaga kerja seperti juru masak, helper, penerima barang, admin, driver, sampai tim kebersihan. Semuanya bisa direkrut dari masyarakat lokal.
Sekolah Tetap Punya Peran Penting
Safrizal menegaskan, pihaknya tidak bermaksud mengesampingkan sekolah. Sekolah tetap memegang peran vital dalam keberhasilan MBG.
"Sekolah tetap penting untuk memastikan makanan sampai ke anak tepat waktu, dalam kondisi baik, dan dimakan bersama-sama. Tapi untuk urusan produksi, serahkan ke fasilitas yang memang disiapkan untuk itu, yaitu SPPG," katanya.
Harapan ke Pemerintah Daerah
Safrizal berharap pemerintah daerah dan BGN tetap konsisten menjadikan SPPG sebagai pusat produksi MBG.
"Harapan kami, kebijakan MBG jangan setengah-setengah. Kalau mau berhasil dan aman, fokuskan di SPPG. Biar sekolah fokus mengajar, petani dapat pasar, dan anak-anak dapat makanan bergizi yang aman," pungkasnya.[AK]