LINTAS ATJEH| ACEH UTARA - Poster peringatan Milad Aceh Utara ke-800 karya Syech Mulyadi, S.Pd., Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Muara Batu yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) kabupaten Bireuen, mendapat perhatian luas di media sosial Aceh.
Poster yang diunggah melalui akun media sosial Syech Mulyadi pada Sabtu (05/09/2026) tersebut ramai dibagikan kembali oleh warganet. Visual yang menggabungkan unsur sejarah, adat dan budaya Aceh Utara membuat poster tersebut menjadi salah satu konten yang menarik perhatian masyarakat menjelang momentum Milad Aceh Utara ke-800.
Poster tersebut mengusung tema “Dari Kejayaan Masa Lalu, Menuju Aceh Utara yang Maju, Bermartabat dan Berkelanjutan.”
Dalam desainnya, Syech Mulyadi, S.Pd. tampil bersama Mansur AB., S.Pd., keduanya mengenakan busana adat Aceh. Visual tersebut dipadukan dengan sejumlah simbol yang merepresentasikan identitas sejarah dan budaya Aceh Utara.
Di antaranya terdapat Monumen Islam Samudera Pasai, ornamen rumah adat Aceh, motif tradisional Aceh, serta elemen alam dan sungai yang memperkuat pesan tentang akar sejarah dan kekayaan budaya daerah.
Kombinasi tersebut membuat poster tidak hanya berfungsi sebagai ucapan peringatan Milad, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga identitas sejarah dan budaya Aceh Utara di tengah perkembangan zaman.
Sosok di Balik Poster
Syech Mulyadi, S.Pd. merupakan Ketua K3S Kecamatan Muara Batu, organisasi yang menjadi wadah koordinasi kepala sekolah di tingkat kecamatan. Di luar bidang pendidikan, ia juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan melalui kiprahnya sebagai Wakil Ketua PMI Bireuen.
Keterlibatan tersebut memberikan dimensi tersendiri pada pesan yang dibawa melalui poster, yakni perpaduan antara semangat pendidikan, pengabdian sosial, pelestarian budaya dan pembangunan daerah.
Penyebaran poster tersebut mendapat respons dari warganet karena mengangkat tema yang dekat dengan identitas masyarakat Aceh: sejarah, adat, budaya dan masa depan daerah.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Alih-alih menggunakan desain perayaan yang semata-mata bersifat seremonial, poster tersebut menempatkan perjalanan sejarah Aceh Utara sebagai titik awal untuk menyampaikan optimisme terhadap masa depan.
Pesan utama yang ingin dibangun adalah bahwa kejayaan sejarah tidak cukup hanya untuk dikenang, tetapi perlu dijadikan inspirasi dalam membangun generasi dan daerah yang lebih maju, bermartabat serta berkelanjutan.
Poster pertama kali dibagikan melalui media sosial Syech Mulyadi pada Sabtu, 5 September 2026. Setelah dipublikasikan, poster tersebut kemudian mendapat perhatian pengguna media sosial dan dibagikan kembali oleh warganet.
Penyebaran secara organik melalui media sosial membuat pesan mengenai Milad Aceh Utara ke-800 menjangkau khalayak yang lebih luas, terutama masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah, kebudayaan dan perkembangan Aceh Utara.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang komunikasi personal, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan kembali sejarah dan identitas daerah kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Milad Aceh Utara ke-800 menjadi momentum penting untuk melihat kembali perjalanan panjang daerah sekaligus memandang masa depan.
Jejak sejarah Aceh Utara, termasuk keterkaitannya dengan Samudera Pasai, menjadi bagian penting dari identitas yang perlu terus dirawat. Nilai sejarah tersebut kemudian diterjemahkan dalam poster melalui simbol-simbol budaya dan pesan pembangunan.
Melalui karya visual tersebut, Syech Mulyadi menyampaikan semangat agar sejarah tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan masa depan Aceh Utara yang lebih baik.
“Dari kejayaan masa lalu, kita mengambil inspirasi untuk melangkah menuju Aceh Utara yang maju, bermartabat dan berkelanjutan,” menjadi pesan utama yang tercermin dalam tema poster tersebut.
Dengan demikian, viralnya poster Milad Aceh Utara ke-800 bukan hanya menunjukkan tingginya perhatian warganet terhadap sebuah karya visual, tetapi juga memperlihatkan bahwa narasi sejarah dan budaya daerah masih memiliki daya tarik kuat ketika dikemas secara kreatif dan relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.[*/Red]
