-->

Peringati Milad GAM ke 38, Mantan Kombatan Maknai Perdamaian Tanpa Keadilan

04 Desember, 2014, 18.30 WIB Last Updated 2014-12-04T15:56:25Z
Kita awali dengan membaca bismillahirrahmannirrahim, selanjutnya mari sama-sama kita bacakan Surah Al Fatihah tiga kali untuk arwah para syuhada, para pemimpin kita yang telah syahid di masa Konflik Aceh dalam membela kebenaran, menuntut keadilan, membela harkat dan martabat rakyat Aceh. Damailah Negeriku sejahteralah bangsaku, Amin Yarabbal Alamin.

Selamat Hari jadi GAM ke 38, 4 Desember 1976-4 Desember 2014. Bila hari ini adalah Ulang tahun GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang ke 38, maka hari ini pula kami memperingati hari gerakan perlawanan rakyat terhadap negara yang tidak mampu memberi rasa keadilan bagi rakyatnya yang telah mengorbankan harta, darah dan nyawa demi berdirinya sebuah negara kesatuan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Dengan semangat 4 Desember 1976, dari masa perjuangan bersenjata hingga ke perjuangan masa damai ini, rasa nasionalisme kita jangan meredup walaupun sudah 10 kali kita merayakan upacara ini secara sederhana, tanpa menggunakan baju dinas PDL dan senjata di tangan. Momentum 4 Desember dapat kita jadikan sebagai bahan renungan dan pertimbangan bagi kita, betapa pahitnya perjuangan kita dulu, hendaklah jangan dianggap sepele oleh kawan-kawan kita hari ini, umur perjuangan sudah memasuki 38 tahun.

Setelah sembilan tahun penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) belum ada tanda-tanda keseriusan pemerintah RI untuk menutup rapat ide-ide pemberontakan dalam negara. Oleh karena itu kami selaku anak bangsa yang telah berjanji dan telah menandatangani hitam diatas putih untuk melupakan keinginan merdeka pisah dari NKRI. Seharusnya pemimpin Indonesia menanggapi secara serius, bukan menyepelekan tandangan Perdana Menteri GAM (Malik Mahmud Al Haytar). Karena begitu sulitnya untuk merintis sebuah perdamaian dengan menghentikan perang dengan senjata dan membubarkan pasukan perang yang sudah terlatih dan sudah bersumpah "Hidup Merdeka Mati syahid". Ini slogan prajurit GAM daripada Ta Hudep dalam kehinaan leubeh jroh ta mate dalam kemuliaan (Daripada kita hidup dalam kehinaan lebih baik kita mati dalam kemuliaan).

Ucapan sumpah prajurit GAM, semua dengan nama Allah, semua demi Allah dan demi Rasulullah. Jelas sumpah itu bukan main-main karena kunci utama dalam memperkuat perdamaian adalah dengan cara merekrut kembali dan membina prajurit GAM yang se-ideologi dengan pimpinan GAM yang sudah siap berdamai, bukan mengabaikan mereka begitu saja. Inilah yang sering saya tulis di jejaring sosial facebook. Karena membubarkan sayap Militer GAM tanpa pembinaan dan ketrampilan ataupun bimbingan cara hidup dalam Negeri Damai dan cara hidup tanpa kekerasan, sama saja dengan memelihara anak harimau lalu melepaskan ke pemukiman penduduk. Biarpun anak harimau kelihatan jinak, tetapi sesekali ia akan menggigit jika kelaparan.

Hal ini yang perlu kita fahami bersama bahwa menelantarkan Mantan Tentara GAM sama juga dengan membiarkan bangkitnya kembali semangat perlawanan rakyat terhadap negara. Maka jika ingin menyelesaikan permasalahan Aceh secara permanen, mari bangkitkan semangat juang untuk perdamaian, jangan cuma damai di mulut tapi masih perang di hati.

Sudah 7 kali berganti presiden 7 kali rakyat Aceh tertipu, maka dengan momentum hari jadi GAM yang ke 38, mari kita peringati bersama sebagai hari bersejarah dan kita tinggalkan cara-cara kekerasan terus kita kenang masa-masa sulit selama 38 tahun. Hari ini adalah hari lahirnya perjuangan rakyat Aceh, mari kita lupakan masa suram dan kita mulai berjuang dengan cara-cara damai, mari kita lupakan ide merdeka pisah dari NKRI dan kita ganti dengan Gerakan Aceh Merdeka dalam NKRI (GAM dalam NKRI). Inilah ketulusan hati kami demi merawat perdamaian yang sudah tercapai.

Demi permanenisasi perdamaian yang telah tercapai, inilah kesefahaman bersama yang tidak ada paksaan, karena berdamai bukanlah menghentikan perjuangan secara total, tapi berdamai hanya demi menghindari jatuhnya korban rakyat Aceh dan melanjutkan perjuangan dengan cara-cara politik dan diplomasi. Kita berdamai bukan karena keterpaksaan, tetapi kita berdamai dengan ketulusan hati. Memperingati Milad GAM hari ini bukan juga untuk mengorek luka yang sudah lama kering, tetapi memperingati Milad GAM setiap 4 Desember hanya untuk mengkampanyekan perdamaian.

Semoga dengan Milad GAM yang ke 38 menjadi inspirasi bagi kita yang cinta perdamaian dan cinta perjuangan. Kita semua tidak ingin kembali kemasa lalu tetapi yang kita inginkan masa depan Aceh lebih baik dari masa lalu. Menyangkut tentang penghentian permusuhan antara TNI/Polri dan TNA GAM tidak lain hanyalah untuk menghindari jatuhnya korban di pihak sipil yang tak berdosa. Penghentian permusuhan hanya demi menyelamatkan rakyat Aceh, karena selama 38 tahun konflik Aceh, lebih kurang sepuluh ribu nyawa melayang, sedangkan cita-cita bangsa belum sepenuhnya tercapai. Perjuangan suci harus kita awali dengan niat yang suci, jangan biarkan kesucian ini dinodai oleh pihak-pihak yang ingin mengambil manfaat diatas penderitaan rakyat.

Kita sudah melewati masa-masa sulit dan kita sudah berhenti berjuang dengan senjata. Hari ini kita serahkan sepenuhnya kepada eksekutif, legislatif serta DPD/Senator, DPR RI asal Aceh untuk memperjelas status Aceh pasca penandatanganan MoU damai antara RI dan GAM. Apakah status Aceh daerah Khusus dalam NKRI atau MoU cuma sandiwara petinggi Republik Indonesia. Jika UU PA tidak terealisasi, lebih baik mundur saja para wakil rakyat Aceh yang selama ini suka mengobral janji diatas pentas dan di media, atau lupakan saja Aceh dan jangan lagi bawa-bawa nama Aceh untuk kepentingan pribadi.

Hari ini kita perlu mengawasi dan mengoreksi diri, khusus dalam internal jama'ah perjuangan Aceh. Karena siapapun yang menyetujui perubahan pada bendera Aceh yang telah disahkan oleh DPRA, siap-siap menerima kehancuran politiknya dan siap-siap juga dicap "Pengkhianat" oleh bangsa Aceh. Kita boleh saja meminta maaf pada orang yang masih hidup hari ini, tetapi bagaimana caranya kita meminta maaf kepada ribuan orang yang telah meninggal demi perjuangan suci ini, demi membela harkat dan martabat rakyat Aceh, demi bendera warisan indatu. Sudah cukup mantan Gubernur Aceh yang mengkhianati bangsa Aceh, karena Gubernur lama sama sekali tidak mencoba mengimplementasikan UU PA semasa menjabat sebagai Gubernur Aceh.

Oleh karenanya bagi pejuang Aceh yang ada dalam lingkaran kekuasaan hari ini, baik yang di legislatif Aceh, DPD RI, DPR RI dan eksekutif Aceh jangan lagi mengikuti jejak Pang Tibang, yang mengorbankan rakyat demi kekuasaan. Kekuasaan bukan untuk mengabdi pada rakyat dalam melanjutkan cita-cita perjuangan tetapi kekuasaan hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Dikhianati itu sangat sakit rasanya. Masalah Qanun Bendera dan Lambang Aceh yang belum selesai sampai saat ini, sebetulnya tidak ada hambatan lain, hanya saja karena sifat plin-plan Gubernur Aceh sekarang. Andai saja Abu Doto atau Gubenur H. Zaini Abdullah berani dan tegas masalah bendera Aceh, pasti sudah kelar dalam satu tahun beliau menjabat.

Jika dalam masa setahun Abu Doto menjabat Gubernur dan beliau langsung memanggil seluruh Bupati/Walikota untuk membahas soal Qanun Bendera Aceh, kemungkinan bendera Bintang Bulan sudah berkibar di setiap instansi di seluruh kabupaten/kota di Aceh. Pemerintah pusat sudah tidak punya lagi celah hukum untuk mencabut Qanun Bendera dan Lambang Aceh, karena sudah melewati masa waktu 60 hari. Jika itu dilakukan maka sangat keliru ataupun sangat tidak logis Qanun Bendera dan Lambang Aceh dijadikan alat bargainning untuk negosiasi masalah RPP bagi hasil migas.

Para elit politik Aceh yang ada di eksekutif, legislatif Aceh maupun di legislatif pusat serta saudara senator asal Aceh yang ada di Senayan, janganlah terkecoh dengan isu yang dihembuskan oleh si Pak Tedjo Menkopolhukam. Jangan baru dikatakan Aceh boleh mengelola migas sampai 200 mil dari garis bibir pantai anda terus latah dengan cepat mengangguk-anggukkan kepala, untuk segera mengubah Bendera Aceh. Sebetulnya anda belum tahu berapa persen pembagian hasil Aceh dengan pusat, tapi anda sudah mengangguk-angguk (pu hom neuh meuka neu agoek ajue). Karena di Aceh, Bendera Bintang Bulan itu harga mati dan anda tahu akibatnya jika menyetujui perubahan pada Bendera dan Lambang Aceh.

Jika itu terjadi, maka jangan harap perdamaian Aceh akan terus berlanjut. Bendera saja diubah apalagi untuk berbicara tentang kelangsungan hidup rakyat banyak. Begitulah anggapan orang Aceh nantinya pada pemimpin Aceh hari ini jika mengubah Bendera Aceh. Jika itu terjadi maka obok demi obokan dan letusan senjatapun akan terdengar lagi, karena penyakit lama akan segera kambuh lagi. Ribuan nyawa sudah melayang, ribuan rakyat Aceh telah jadi korban hingga tidak cukup tinta pena untuk kita tulis apa yang sudah terjadi, betapa besarnya pengorbanan rakyat Aceh untuk perjuangan ini, walau berakhir dengan damai, tapi harapan kita damai bermartabat dan saling menghargai antar pihak.

Yang penting kita harus ingat satu hal ! Ribuan nyawa melayang karena mempertahankan harkat dan martabat, rakyat Aceh rela mati demi bendera itu. Jika saudara-saudara tidak mampu memperjuangkan turunan UU PA, baik itu RPP Migas, PP Pertanahan serta Bendera dan Lambang Aceh, lebih baik saudara-saudara mundur dari jabatan, karena jabatan itu adalah amanah rakyat bukan teumpat meuleumak dengan kemewahan yang difasilitasi oleh negara dengan uang rakyat.

Untuk mahasiswa dan pemuda Aceh harus ikut berpartisipasi memperjuangkan kejelasan turunan UU PA, jika UU PA tidak terealisasi dalam waktu dekat ini, kita semua harus bersikap tegas pada eksekutif dan legislatif di Aceh. Sesegera mungkin kita gerudheuk seluruh instansi Pemerintah Aceh. Sesungguhnya kekuatan terbesar di Aceh berada di tangan mahasiswa dan pemuda Aceh oleh karena itu jangan disia-siakan waktu kita, terus memantau dan menyuarakan tentang implementasi UU PA sesuai dengan poin-poin perjanjian damai. Semoga penderitaan kita di masa lalu akan menjadi sebuah kekuatan untuk meraih masa depan yang lebih gemilang. Karena apapun yang kita dapatkan di dunia ini tidaklah kekal, begitu juga dengan pangkat dan jabatan itu semua hanya bersifat sementara, namun hendaklah kita memelihara damai ini untuk membangun kembali apa yang telah hancur.

Harapan kita bersama, perdamaian ini menjadi perdamaian yang terakhir dan perdamaian yang hakiki karena kekacauan dan kehancuran akan merusak negeri. Biarpun kita tidak bisa menyembuhkan luka tetapi kita tidak perlu lagi menyakiti. Karena tidak semua pendapat itu sama dan sejalan apa yang kita fikirkan. Dan tak semua sehaluan apa yang kita rancangkan, perbedaan pendapat hal yang lumrah. Maka dari situlah kita belajar tentang arti saling menghargai. Orang bijak itu pandai menghargai dan memotivasi orang lain walaupun ia tidak sesuai dengan keyakinan itu. Semoga dengan perdamaian ini para mantan kombatan bisa hidup layak dan bisa berdampingan dengan seluruh masyarakat Aceh menuju Aceh yang lebih sejahtera, Aceh lebih maju dan Aceh lebih jaya. Selamat Milad GAM ke 38.


Penulis: Imran Nisam adalah seorang mantan kombatan asal Nisam Aceh Utara yang cinta perdamaian.
Komentar

Tampilkan

Terkini