-->

Menelusur Kapal Thailand Pengangkut Ratusan Rohingya di Aceh Timur

20 Mei, 2015, 22.08 WIB Last Updated 2015-05-20T15:08:46Z
bendera di kapal Thailand.(LA/chairul)
ACEH TIMUR - Kapal tongkang asal Thailand terombang-ambing di laut lepas sejauh 25 mil dari pesisir Desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur, Rabu (20/5/2015). Kapal itu dalam kondisi terhenti karena mesin rusak, bahkan nyaris tenggelam.

Nelayan Aceh bergegas menuju lokasi kapal dengan kekuatan empat kapal. Satu jam dalam perjalanan menuju lokasi, para nelayan melihat ratusan penumpang kapal sedang melambaikan tangan meminta pertolongan.

Kapal pun dilaju dengan kencang. Tiba disana, ternyata penumpangnya adalah etnis Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh. Saat itu pada pukul 02:30 Rabu dinihari, mereka saling rebutan melompat ke laut untuk menuju kapal nelayan Aceh.

Dua kapal nelayan Aceh kemudian mengangkut ratusan muslim Rohingya secara bergantian. Sementara dua kapal lagi menarik kapal Thailand tersebut ke pesisir. Namun, karena bobotnya terlalu besar, maka nelayan memutuskan untuk meninggalkan kapal tersebut.

Setibanya di daratan perkampungan, para Rohingnya ini disambut baik oleh warga Aceh. Bahkan, berbagai macam bentuk bantuan pun datang untuk mereka. Jumlah mereka hampir mencapai 400 orang, diantaranya anak-anak dibawah sepuluh tahun yang sebagian tak lagi memiliki orang tua.

Jurnalis lintasatjeh.com berpose di dalam kapal.(LA/chairul)
Laporan Chairul Sya'ban, Jurnalis lintasatjeh.com menyebutkan, kondisi para pengungsi yang berasal dari bagian Asia Tenggara itu sangat mengenaskan. Kurus kering kelaparan, bahkan sakit sekalipun.

"Kondisi mereka sangat mengenaskan, badan kurus kering karena kelaparan. Tapi, warga Aceh sudah memberikan bantuan berupa logistik dan pakaian," demikian Chairul Sya'ban melaporkan langsung dari Desa Simpang Lhee, Julok, Aceh Timur pukul 11:00 WIB.

Sementara itu Camat Julok, Zainuddin, mengatakan para pengungsi etnis Rohingya dan Bangladesh sudah didata sementara jumlahnya oleh petugas.

"Mereka sudah didata sementara, jumlahnya hampir mencapai 400 orang. Warga juga memberikan makanan buat mereka. Dan ini para pengungsi sudah dibawa ke penampungan Kuala Langsa untuk disatukan dengan Rohingya lainnya," kata Zainuddin.

2 bungkus kopi di kapal.(LA/chairul)
Pukul 12:00 WIB, Chairul Sya'ban jurnalis lintasatjeh.com menumpangi kapal nelayan Aceh bersama lima nelayan menuju ke lokasi kapal Thailand dengan memakan waktu satu jam.

Kapal berwarna hijau dengan panjang sekitar 50 meter itu terlihat oleng dan nyaris tenggelam.

Di dalam kapal, terdapat rempah-rempah dan bungkusan mie instan, kopi bersegel Thailand dan Malaysia, pakaian dalam wanita (CD, Bra), pakaian anak-anak, dan kotoran.

Bau tak sedap juga tercium di dalam kapal. Kemudian terdapat kain berwarna hitam ukuran satu meter yang dijadikan sebagai bendera dan bertuliskan "We Are Myanmar Rohingya" (Kami adalah Myanmar Rohingya).

Terlihat juga kondisi mesin yang sudah dalam keadaan kehabisan bahan bakar. Tak hanya itu, beberapa kabel jaringan listrik dalam kondisi hangus terbakar.
Mesin kapal yang rusak.(LA/chairul)

Kisah rohingya terdampar adalah gelombang ketiga terdampar di Aceh setelah ratusan Rohingya lainnya terdampar di perairan Aceh Utara, Langsa, dan Aceh Tamiang.

Kini, sampai pukul 15:00 sore tadi kapal tersebut masih berada dilokasi. Sementara Pemda setempat belum merencanakan kapal tersebut dibawa kemana.[chairul]
Komentar

Tampilkan

Terkini