-->
















Segudang Prestasi Anak Korban Konflik Aceh

27 Juli, 2015, 07.56 WIB Last Updated 2015-07-27T13:24:59Z
Aula Andika Fikrullah Albalad
ACEH BESAR - Januari 2004 menjadi tahun yang kelam bagi  Aula Andika Fikrullah Albalad. Saat usianya baru 11 tahun, ia harus menjadi anak yatim. Ayahnya, Ridhwan Kr Is meninggal dunia direnggut konflik Aceh pada waktu itu.


Namun kematian ayahnya tidak menimbulkan sedikit pun dendam dalam hatinya. Sebaliknya, Aula kecil tumbuh menjadi anak yang cerdas. Dibimbing ibunya, ia besar dan meraih segudang prestasi. Tahun 2014 lalu, ia dinobatkan sebagai Raja Baca Provinsi Aceh.



Kontras dengan Aula menjadi Raja Baca Provinsi Aceh, sang ibu, Siti Sarimah, justru sama sekali tidak bisa membaca. Ibunya, Siti Sarimah, dulunya tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah.


“Ayah saya menjadi salah satu korban konflik Aceh, beliau meninggal dalam konflik. Ibunda saya, adalah seorang perempuan yang tak pernah mengecap indahnya bangku pendidikan, beliau buta akan baca dan tulis,” ujar Aula kepada VIVA.co.id. Minggu, 26 Juli 2015.


Putra bungsu almarhum Ridhwan dan Siti Sarimah itu dinobatkan sebagai Raja Baca Aceh pada September 2014 oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah. Anak muda ini berhasil mengalahkan 98 pesaingnya yang mengikuti seleksi untuk memperoleh gelar tersebut. 


Sang ibu, menjadi motivator utama Aula.


Mereka tinggal di kawasan Lampasi Engking, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Kesehariannya, sang ibu, Siti Sarimah adalah seorang penjual sayur. Ia tidak menyangka kalau hidup dalam kesederhanaan, anaknya mampu meraih segudang prestasi.


“Ibu saya menjadikan kekurangannya sebagai kekuatan untuk menjadikan kami anak-anaknya untuk berprestasi. Dengan keringat dan kasih sayang, ibu membesarkan kami hingga saya bisa meraih banyak prestasi,” kata Aula.   


Sebenarnya, pada tahun 2004 tersebut tak cuma ayahnya yang menjadi korban konflik. Dua bulan setelah kepergian ayahnya, abang kandung Aula juga ikut menjadi korban kekejaman konflik. Lalu pada Desember tahun itu, kakak Aula kemudian menjadi korban ketika tsunami terjadi.


“Tahun itu (2004) tiga orang keluarga saya meninggal dunia. Ayah dan abang karena konflik, kemudian kakak saya karena tsunami,” kata Aula mengenang ayah dan keluarganya.


November nanti, Aula baru akan berusia 21 tahun. Saat ini ia masih kuliah semester 7 di program studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Ia tercatat sebagai penerima beasiswa bidik misi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Perguruan Tinggi (DIKTI).


Selain sebagai Raja Baca, Aula juga mengoleksi sejumlah prestasi lainnya.  Pada Mei 2014 lalu, Aula berhasil menjadi salah satu delegasi Aceh pada kegiatan Indonesia Youth Forum di Wakatobi Sulawesi Tenggara.  Disana, ia dianugerahi sebagai Duta Promosi Pariwisata Kabupaten Wakatobi dengan masa kerja 2014-2016.


Ia juga tercatat sebagai peserta terpilih pada Paris Model United Nation, Mumbai Model United Nation, dan Entreprenuer Winter School yang masing-masing perhelatan tersebut diselenggarakan di Prancis, India, serta Hong Kong.


Tahun 2015, ia juga menjadi salah satu peserta Gerakan Mari Berbagi (GMB). Kemudian ia juga dinobatkan sebagai runner up duta wisata Aceh Besar tahun 2015.[Viva]
Komentar

Tampilkan

Terkini