![]() |
| IST |
DHAKA - Sejumlah pria muda
berpakaian rapi memasuki restoran the Holey Artisan Bakery, di wilayah Gulshan,
Dhaka, Banglades, Jumat malam lalu. Tak ada yang menduga jika sekelompok
pemuda itu ternyata membawa senjata api, sejumlah bom, dan pedang. Tak lama setelah itu,
tragedi pun terjadi. Sekelompok pemuda itu lalu melakukan penyanderaan terhadap
seluruh pengunjung yang sebenarnya sedang menikmati malam panjang di tempat
tersebut.
Ketika penyanderaan
selama kira-kira 10 jam berakhir para Minggu pagi, didapati 28 korban tewas,
yang seluruhnya adalah warga negara asing dari luar Banglades. Seorang warga Banglades
yang menjadi saksi dalam peristiwa itu mengaku mendengar para penyandera
mengucapkan kalimat yang mengerikan di telinga para warga asing itu.
“Kalian semua tak perlu
takut, kami datang ke sini hanya untuk membunuh mereka yang bukan Muslim,"
demikian kalimat yang didengar saksi mata itu, seperti dikutip laman Los
Angeles Times.
Selama ini wilayah
Gulshan dikenal sebagai kawasan para ekspatriat. Di sana banyak berkumpul warga
asing, termasuk kantor-kantor diplomatik, hotel, dan apartemen. Kendati demikian, warga
Banglades pun bisa bisa menikmati sajian di tempat ini, termasuk di saat bulan
suci Ramadhan seperti sekarang ini.
Enam penyerang tewas
dalam baku tembak dengan pasukan keamanan Banglades yang melakukan upaya penyelamatan
beberapa jam setelah penyanderaan. Sementara seorang pelaku
penyanderaan ditangkap hidup-hidup.
The Amaq News Agency yang terafiliasi dengan kelompok teroris
Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) pada Sabtu merilis sejumlah foto
bergambar para pelaku penyerangan yang dideskripsikan sebagai warga Banglades.
Terlihat lima orang
dengan senyum mengembang berpose di depan bendera ISIS. Mereka pun menyebut
orang-orang ini dipersenjatai dengan pisau, parang, senapan serbu, dan granat.
Menanggapi kasus ini,
Perdana Menteri Banglades Sheik Hasina Wajed dalam siaran di jaringan televisi
setempat mengimbau warganya untuk meletakkan kepercayaan di tangan Pemerintah. Dia
pun menyatakan hari berkabung nasional selama dua hari ke depan, menyusul
insiden ini.
“Kami tak menghendaki
teroris hidup di Banglades," kata Hasina.
“Saya tak mengerti apa
yang mereka yakini, Muslim macam apa sebenernya mereka ini?" ungkap dia
lagi.
Baca
Al Quran
Seorang saksi mata
Hasnat, bercerita kepada ayahnya Rezaul Karim, para penyandera meminta semua
orang yang ada di dalam restoran itu untuk membaca Kitab Suci Al Quran. Mereka yang bisa membaca
Al Quran kemudian dipisahkan dari tawanan yang lain, begitu yang disaksikan
Hasnat.
Peristiwa yang menelan
korban jiwa dari warga sejumlah negara, di antaranya Italia, Amerika Serikat, Jepang, dan India, tentu
mengundang reaksi keras. Kementerian
Dalam Negeri AS segera mengeluarkan pernyataan bahwa ada warganya yang tewas
dalam serangan itu.
Mereka lalu menegaskan
akan memberikan dukungan penuh kepada Perdana Menteri Hasina atas komitmen
perempuan itu dalam memberantas ekstrimisme di Banglades.
Sementara, Perdana
Menteri Jepang Shinzo Abe langsung membentuk tim kerja yang dikirim ke
Banglades untuk membantu langkah investigasi.[Kompas]



.jpg)



