ACEH UTARA - Aktivis Liga
Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Konferensi-Kota
Lhokseumawe, Maimun Sanjaya meminta kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara
untuk memfasilitasi berdirinya koperasi pertanian di kawasan sentra pertanian
di Aceh Utara.
Hal ini dikarenakan pembangunan
ekonomi di sektor pertanian butuh keseriusan dan fokus Pemkab Aceh Utara sebab
kurang lebih 80 persen penduduk Aceh Utara adalah petani dan mempunyai lahan
yang cukup memadai. Hanya saja perputaran uang hasil produksi masih minim
dirasakan oleh petani itu sendiri, hal ini disebabkan karena ketiadaan koperasi
di sentra pertanian.
"Kita mendorong
pemerintah Aceh Utara untuk dapat memfasilitasi berdirinya koperasi di kawasan
sentra pertanian guna mendongkrak ekonomi kerakyatan karena dominannya penduduk
Aceh Utara adalah petani," ujar Maimun kepada LintasAtjeh.com, Minggu
(3/7/2016).
Selama ini kita menilai
Aceh Utara sebagai salah satu daerah lumbung padi di Aceh karena hasil produksi
padi mencapai ribuan ton tiap tahunnya. Dari hasil yang begitu besar namun
pihak petani tidak bisa menerima manfaat yang begitu besar.
Hal ini dikarenakan setiap
kali musim panen padi-padi petani langsung ditampung oleh tengkulak, karena
tidak adanya lembaga koperasi yang dapat membantu perekonomian petani. Para
tengkulak-tengkulak tersebut bukan tidak mungkin melakukan praktik permainan
harga beli dari petani sehingga petani merasakan hal yang tidak sewajarnya.
"Oleh karena itu,
kita meminta kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk dapat memfasilitasi
berdirinya koperasi di kawasan sentra pertanian Aceh Utara. Semua petani
nantinya dimasukkan dalam keanggotaan dan dipantau langsung oleh dinas terkait,"
kata Ketua Kajian & Bacaan LMND Maimun Sanjaya.
Dengan adanya koperasi,
lanjut mahasiswa pertanian Unimal ini, nantinya dapat memberikan solusi dari
masalah-masalah yang dihadapi petani seperti kurangnya pasokan pupuk bersubsidi
dan penyediaan sarana produksi lainnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan
petani.
Sejauh ini kita melihat
yang menikmati dan meraup keuntungan besar dari hasil pertanian adalah para
tengkulak-tengkulak pengumpul gabah, belum lagi masalah pupuk bersubsidi yang
tiap tahunnya bermasalah karena adanya kelangkaan. Padahal Aceh Utara merupakan
produsen pupuk yaitu PT. PIM. Seperti kejadian tahun lalu Aceh Utara kekurangan
pupuk sekitar 8000 ton di tahun 2015 dan harganya jauh melambung dari harga
yang ditetapkan oleh pemerintah.
"Makanya petani kita
terus-terusan begini, ini menjadi masalah besar jika pemkab hanya menyusun
program diatas meja tanpa tindakan nyata di sektor pertanian. Walaupun hasil
produksi tinggi namun tingkat kesejahteraan petani belum memadai karena
semuanya diambil oleh lembaga-lembaga perorangan. Kita tunggu saja gebrakan
disisa akhir jabatan cek mad," pungkas Maimun yang akrab dipanggil
panglima.[Rj]



.jpg)



