-->

Mahyeddin, Perajin Rotan Pejuang Keluarga Asal Bireuen

16 Agustus, 2016, 16.15 WIB Last Updated 2016-08-16T09:49:53Z
BIREUEN - Pos jaga Desa Pandak Kecamatan Makmur selalu menemani kesibukan laki-laki usia senja ini. Hampir dua bulan terakhir pria ini menumpang tinggal di pos jaga tersebut sambil membuat bangki (Bahasa Aceh), serupa alat yang digunakan untuk membuang sampah dan pengangkut pasir dari sungai ke darat tempo dulu. Bangki tersebut terbuat dari rotan yang dianyam.

Mahyeddin (53) namanya, seorang laki-laki miskin yang tinggal di Desa Pandak Kecamatan Makmur, sebelumnya bekerja serabutan yang rela bekerja apa saja demi menghidupi keluarga kecilnya. Kadang-kadang menjadi buruh tani, kadang-kadang menjadi buruh bangunan, hasilnya yang tidak seberapa digunakan untuk menafkahi istri dan 5 orang anaknya.

Sejak cerai dengan istrinya Ti Hawa dan menunggu masa Iddah istrinya, Mahyeddin menumpang tinggal di Pos Jaga Desa Pandak sambil menganyam Bangki, tak disangka buah karya laki-laki usia senja tersebut sangat menarik dan laku dipasaran.

Ditemani putri bungsunya yang berusia 6 tahun, Mahyeddin memulai kisahnya kepada LintasAtjeh.com pada Minggu malam (14/8/2016).

"Kami orang miskin yang tidak berpendidikan, ya harus bekerja keras untuk menafkahi keluarga. Ya saya hanya bisa membuat bangki," kisahnya.

Perjuangannya dalam mencari bahan baku bukanlah mudah, menempuh perjalanan sendirian ratusan kilometer dengan sepeda ontelnya demi mencari rotan ke pedalaman Desa Alue Groe Kecamatan Sawang yang berbatas dengan Bener Meriah. Sendirian mengarungi hutan belantara demi mendapatkan bahan baku rotan kecil yang dibutuhkan.

"Biasanya saya tinggal di hutan selama 2 hari untuk mencari bahan baku rotan," tambahnya.

Setelah mendapatkan bahan baku yang dibutuhkan, pria tua sang pejuang keluarga ini kembali ke Desa Pandak untuk memulai memproduksi bangki-bangkinya. Satu persatu bangki diolah tangan yang tak kencang lagi kulitnya.

"Satu hari saya hanya mampu menghasilkan 4 unit bangki siap jual," kisahnya.

Setelah memproduksi bangki-bangki tersebut dijual ke pasar-pasar Geureugok dan Kutablang dengan harga Rp. 25.000 per unit.

Sesekali tampak warga yang iba membantunya memproduksi bangki-bangki tersebut, bahkan berkat didikannya banyak warga Desa Pandak yang sudah mahir membuat bangki.

Mursal salah seorang pemuda di Desa Pandak yang sering membantunya, mengakui bahwa dirinya sekarang sudah bisa membuat bangki dan sering membantu Mahyeddin di Pos Jaga.[DD]
Komentar

Tampilkan

Terkini