-->

Iklan

Forkab Aceh Desak Pemerintah Pusat Investigasi Program Ghaib Pemerintah Aceh

15 November, 2019, 19.12 WIB Last Updated 2019-11-15T12:12:04Z
BANDA ACEH - Ketua Umum Forum Komunikasi Anak Bangsa (Forkab) Aceh, Polem Muda Ahmad Yani yang juga Ketua Koordinator Yayasan Kerja Indonesia Jaya (YKIJ) Daerah Aceh, sebuah yayasan yang didirikan dari Relawan Sahabat Jokowi, angkat bicara dan menanyakan Pembangunan Rumah Sehat Sederhana (RSS) untuk kaum Dhuafa dari Baitul Mal Aceh. Hingga memasuki bulan Nopember 2019, belum dilaksanakan pembangunan Rumah Dhuafa yang semula direncanakan mulai 2017 lalu itu, hingga kini tak kunjung terealisasi.

Padahal Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah sudah menginstruksikan kepada Lembaga Baitul Mal Aceh untuk segera merealisasikan program pembangunan rumah dhuafa 3 bulan yang lalu. Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, Rahmad Raden mengatakan pada bulan Oktober yang lalu, bahwa Baitul Mal Provinsi Aceh akan membangun 1.100 rumah dhuafa pada tahun 2019 dan sebagian rumah dhuafa ini sedang dalam proses pengerjaan. Diperkirakan akan rampung seluruhnya pada akhir tahun karena merupakan program prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh serta menjelaskan Pemerintah Aceh sangat fokus dan konsisten meraih target untuk membantu warga yang kurang mampu. "Namun kenyataannya di lapangan, pembangunan RSS oleh Baitul Mal Provinsi Aceh belum ada sama sekali terlaksana," ujar Polem.

Dikatakannya, Baitul Mal merupakan lembaga keistimewaan yang hanya dimiliki oleh Provinsi Aceh, zakat yang dihimpun oleh Baitul Mal Provinsi Aceh saat ini terus meningkat setiap tahunnya. Ini seiring kepercayaan masyarakat Aceh untuk Lembaga Baitul Mal menyalurkan zakat semakin tinggi. Tapi zakat tersebut yang programnya disalurkan akan membangun RSS seperti hilang ditelan bumi.

Polem Muda Meminta kepada Plt Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah dan Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, Rahmad Raden
bertanggungjawab atas pernyataan yang pernah dimuat di media. Jangan hanya cuma berbicara tapi tidak terbukti "Ibarat Kentut Dalam Genggaman".

Masih kata Polem, masyarakat Aceh sudah cukup susah dengan kondisi perekonomian yang ada. Jangan lagi diberikan harapan palsu dan pembohongan publik, harapan rakyat Aceh yang belum mampu dibangunkan rumah yang sederhana tipe 36.

"Maksud Pemerintah Aceh adalah sasarannya untuk membahagiakan 1000 lebih masyarakat Aceh, tersalurkan dengan baik. Namun ternyata hanya pembohongan publik agar dibaca dan didengar oleh Pemerintah Pusat bahwa program sudah terealisasi yang nyatanya tidak ada. Padahal pembangunan rumah itu dengan optimisme bisa diselesaikan pada akhir 2019 dan bantuan rumah dhuafa ini ditargetkan bisa menurunkan angka kemiskinan di Provinsi Aceh," tukasnya.

Plt Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah sebagai Pelaksana Tugas Harian Gubernur Aceh, sambungnya, apabila belum mampu memikul tugas dan tanggungjawab sebagai tugas seorang Plt Gubernur yang amanah, sebaiknya mengundurkan diri saja dari jabatannya yang sekarang.

"Karena rakyat Aceh perlu seorang Pemimpin yang bekerja nyata bukan karya kata alias Pemberi Harapan Palsu (PHP)," tegas Polem

"Kami Forkab Aceh, memohon dan meminta kepada Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Pemerintah Pusat, memberikan perhatian khusus untuk menurunkan Tim Investigasi dari KPK, BPK-RI dan Kemendagri ke Provinsi Aceh dan melakukan penyisiran sampai ke kabupaten kota perbatasan Aceh. Karena kami masyarakat Aceh sudah bosan dan muak dengan Pemerintahan Daerah yang korupsi uang rakyat," tutup Polem Muda.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini