-->

Aceh Serambi Mekkah, Masih Relevankah?

20 Desember, 2019, 12.55 WIB Last Updated 2019-12-20T05:55:46Z
SEJARAH dahulu membuktikan Aceh adalah bumi yang sangat kental dengan syariat islam dan berbagai peraturan syariat yang banyak sekali lahir dari Aceh. Tapi zaman ke zaman Aceh terus berkembang dengan adanya westernisasi atau mengambil budaya barat di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat banyak generasi bangsa Aceh kurang tahu tentang bagaimana hebatnya dahulu sewaktu masa kerajaan islam di Aceh. 

Banyak dari remaja sekarang tidak tahu tentang sejarah seperti apa Aceh dahulu, seperti apa Aceh berjaya dulu. Kita harus kenal dulu siapa jati diri kita sebenarnya, harus bangga menjadi anak asli Aceh yang dimana kita punya sejarah yang hebat tapi suram di masa depan yang kita jalani. Dimana keadilan dan adil itu tidak berpihak kepada masyarakat yang kurang mampu, yang seharusnya dibantu malah terlentang di dalam keadaan yang pahit, salah siapa? Salah kita semua.

Dimana kita tidak lagi peduli lagi dengan anak yatim, dengan para orang-orang fakir, orang kaya dimana-mana dan orang miskin juga tidak kalahnya dimana-mana. Jaminan dalam kehidupan tidak ada, sebenarnya kita bukan bangsa yang miskin, tapi kita bangsa yang kaya akan moral dan kaya dengan sumber daya alam yang berlimpah. Tapi yang sangat miskin dari kita sekarang adalah moralitas dan norma yang tidak ada lagi sama kita. Keberkatan Allah cabut di bumi Aceh tercinta dimana mencari uang dari pagi ke pagi lagi yang ada tinggal adalah shalat dan hutang.

Ini curahan anak bangsa yang ingin sekali merasakan kebangkitan islam dan idelisme di Aceh. Sekarang yang lebih parahnya adalah orang yang membuat peraturan dia sendiri yang melakukan asusila di bumi Aceh, dimana juga proyek prostitusi sampai sekarang masih ada di beberapa hotel berbintang, siapa yang berkuasa itulah yang menanggung dari semua ini.

Cafe bertebaran di Aceh sedangkan masjid yang bagus dan megah sepi, ada pepatah mengatakan "Kalau mau lihat orang islam di hari shalat Hari Raya Ied, kalau mau lihat orang beriman di shalat subuh".

Dan yang membuat opini juga belum tentu benar, tapi mengapa saya angkat judul ini, dikarenakan saya sangat ingin kita peka dengan keadaan sekarang, dimana sosial kita sekarang sangat menurun.

Dulu kita sangat bangga dengan budaya dengan saling berbagi. Contoh, orang tua kita masak kuah pliek memberinya kepada tetangga, tetangga pun membalas dengan memberi kuah leumak, sekarang sangat kurang yang masih seperti itu, kemana budaya kita? Ingatlah kita hanya manusia, kelebihan itu hanya milik Allah, manusia hanyalah mahkluk biasa yang tidak bisa hidup dengan sendirinya.

Saya sangat sedih lihat perempuan Aceh saat ini, dimana kemuliaan dan tahtanya seolah begitu mudah dilepaskan. Allah sangat luar biasa dalam menciptakan perempuaan, dengan keindahan yang luar biasa, tapi sekarang perempuan di Aceh begitu lempang membungkus tubuhnya dengan pakaian ketat, hoe ka marwah tanyo Aceh?

Dunia sudah tidak lama lagi, ayo kita sama-sama bertaubat memohon ampun kepada Allah, sebelum pintu taubat di tutup. Waktu tidak terasa, kematian tidak ada yang bisa menebak, Allah bisa kapan saja menyuruh malaikat untuk mencabut nyawa kita. Masih ada waktu untuk kita berubah menjadi lebih baik lagi kedepan, santuni anak yatim, kita bantu orang-orang fakir, tidak perlu kita mengharapkan kepada pemerintah.

Karena kalau kita mau menolong sesama, pasti anak yatim dan fakir miskin tidak akan lapar. Dimana juga Nabi Muhammad SAW sangat suka dengan orang yang mau membantu anak yatim. Nabi sangatlah sayang dengan kita yaitu ummatnya, tapi kita apa teringat kepada kekasih Allah yaitu Nabi Muhammad SAW.

Tidak lama lagi kita akan memperingati tsunami yang ke-15, pasti kita merasakan sedih yang sangat mendalam, para keluarga yang sudah duluan pergi untuk selamanya. Jangan ada lagi tumpah darah di bumi Aceh, sudah banyak sekali tragedi yang menumpahkan darah rakyat Aceh.

Doa kita bersama untuk pemimpin kita untuk benar-benar mengurangi kemiskinan, pengangguran di Aceh dan bisa membawa Aceh sejahtera untuk kehidupan anak cucu kita kedepan. Semoga kita selalu senantiasa mengingat kepada Allah  SWT dan Nabi Muhammad SAW untuk selamatnya kita di dunia dan akhirat nanti.

Penulis: Al Gafar Fathurrahman (Mahasiswa Fakultas Ilmu Politik UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Komentar

Tampilkan

Terkini