Iklan

Belajar dari Wabah Tho'un di Damaskus, Akibat Panik! 'Diperintah Allah' 1000, Tapi Meninggal 50.000

08 April, 2020, 08.55 WIB Last Updated 2020-04-08T01:55:09Z
Ilustrasi
Wabah tho'un di Damaskus pada masa lalu akan menginspirasi umat Islam dalam menangani wabah covid-19 (corona) saat ini.

Kitab Hilyatul Auliya’ fi Thabaqat al-Asfiya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfani merekam percakapan antara seorang waliyullah dan segerombolan wabah tho'un. Ceritanya, sewaktu menempuh perjalanan menuju kota Damaskus, segerombolan wabah tersebut, konon, bertemu dengan salah satu Waliyullah. Lalu, terjadilah sebuah dialog antara mereka:

“Mau kemana kalian?”, selidik sang Waliyullah kepada wabah tho’un.
“Kami diperintah oleh Allah SWT untuk memasuki kota Damaskus,” jawab wabah tho’un.

Sang Waliyullah lalu bertanya kembali, “berapa lama dan berapa banyak manusia yang menjadi korban kalian?”

Wabah pun menjawab, “dua tahun dengan seribu korban yang meninggal dunia.”
Singkat cerita, setelah dua tahun berlalu, jumlah korban meninggal ternyata mencapai 50 ribuan orang. Dan ketika sang Waliyullah kembali bertemu dengan wabah penyakit tersebut, ia menggugat.

“Kenapa dalam dua tahun kalian memakan begitu banyak korban sampai 50 ribu orang yang meninggal? Bukannya kalian janji hanya memakan korban seribu orang?”, protes sang Waliyullah.

Wabah pun menjawab, “kami memang diperintah Allah SWT untuk merenggut seribu korban. Namun empat puluh sembilan ribu korban lainnya, meninggal akibat panik dan khawatir berlebihan yang meliputi pikiran dan benak mereka.”

Belajar dari Wabah Tho'un

Wabah yang terjadi di negeri Syam (Damaskus dan sekitarnya) itu telah menewaskan banyak orang. Bahkan akibat wabah tho’un tersebut, banyak perempuan remaja yang berguguran.

Keterangan ini dijelaskan dalam kitab Bazdlu al-Ma’un fi Fadhli Tha’un karya Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), tentang wabah Tho’un yang menyerang gadis-gadis tersebut dan kemudian dikenal dengan nama Tho’un Fatayat.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyelesaikan karyanya perihal wabah tho‘un ini pada Jumadil Akhir 833 H (sekira 1430 M).

Dalam buku itu diceritakan bagaimana wabah tho'un mengamuk di Damaskus pada 746 Hijriyyah (Dalam Al-Manbaji, 749 atau 764 Hijriyah).

Masyarakat berkumpul di sebuah padang terbuka dan berteriak dengan kerasnya. Mereka berkumpul, tidak terkecuali para pembesar kota tersebut. Mereka berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah. Tetapi setelah peristiwa itu, wabah tho'un membesar dan jumlah korban berjatuhan makin bertambah.

Padahal sebelum mereka berkumpul untuk berdoa, wabah tho'un sudah mereda. Al-Asqalani yang dikenal sebagai ahli hadits bermazhab Syafi'i juga menceritakan wabah tho'un yang terjadi pada zamannya.

Wabah mulai turun pada 27 Rabiul Akhir 833 Hijriyah. Jumlah korban jiwa awalnya hanya di bawah 40 orang. Pada 4 Jumadil Awwal 833 mereka berkumpul di sebuah padang terbuka setelah sebelumnya diumumkan untuk berpuasa tiga hari sebagaimana pelaksanaan shalat istisqa.

Pada waktu yang ditentukan, mereka berkumpul, berdoa, dan berdiam sejenak sebelum akhirnya membubarkan diri. Selang kurang dari sebulan setelah berdoa bersama itu, jumlah korban jiwa di Kairo setiap hari pernah mencapai di atas 1000 orang bahkan lebih.

Al-Asqalani bercerita bahwa dirinya sendiri menyaksikan bagaimana keganasan wabah tho'un menyerang di Damaskus. Ia menyaksikan kondisi kota yang berubah dan dinding kota yang miring porak-poranda. Ia menyaksikan kematian orang-orang tercinta.

Penduduk mengeluarkan liur darah dan bernafas sesak. Unta-unta pengangkut beban dan pengangkut masyarakat menderum berhenti karenanya. Angin mengamuk berembus kencang hilir-mudik.

Pada bulan Rabi‘ul Awwal masyarakat berkumpul untuk membaca Kitab hadits terkenal kesahihannya Jami'us Shahihil Bukhari. Mereka membaca Surat Nuh di mihrab sahabat sebanyak 3.363 kali atas petunjuk wangsit yang diterima melalui mimpi seorang warga. Mereka kemudian berdoa untuk mengusir wabah. Tetapi yang terjadi wabah makin menggila.

Kemudian khatib mulai membaca qunut dalam salat dan doa. Masyarakat juga mulai tunduk, khusyuk, menderita sakit, taubat, dan kembali kepada Allah. Sementara pejabat kepanjangan tangan penguasa memerintahkan pembatalan jaminan pembuatan peti mati dan akan menggabungkan semua urusan korban wabah.

Putusan ini diserukan di jalan-jalan. Sementara masyarakat membuat peti mati secara swadaya dan mewakafkannya. Mereka mengerahkan segenap tenaga untuk memasukkan jenazah.

Setelah itu masyarakat diberitahukan melalui sebuah pengumuman untuk berpuasa selama tiga hari. Mereka pun melakukannya. Puasa selesai, mereka berkumpul di masjid sebagaimana mereka mensyiarkan bulan Ramadhan.

Mereka keluar pada hari Jumat, tepatnya 17 Rabi‘ul Awwal, menuju Masjid Al-Qadam, sebuah daerah di pinggir Damaskus. Mereka dengan khusyuk berdoa kepada Allah untuk meredakan wabah tho'un. Banyak orang mengikuti ritual ini. Mereka datang dari pelbagai penjuru kota, termasuk anak-anak dan kafir dzimmi atau nonmuslim.

Setelah itu mereka bubar dan menyebar ke jalan-jalan. Mereka menangis tidak henti-henti dan tunduk kepada Allah. Setelah itu justru wabah tho'un semakin menjadi dan korban jiwa semakin banyak berjatuhan.

Pada 2 Rajab, angin berembus kencang setelah zuhur. Ia menerbangkan debu kuning, lalu debu merah, kemudian debu hitam sehingga membuat kabut gelap di muka bumi.

Selama sekira tiga jam masyarakat berdiam. Mereka berlindung kepada Allah dan beristighfar tiada henti hingga kabut gelap berangsur surut. Mereka berharap apa yang mereka alami selesai sudah.

Allah berkehendak lain. Korban justru makin berjatuhan tidak kurang-kurangnya. Wabah tho'un di Kota Damaskus justru mengganas hingga akhir tahun. Jumlah korban jiwa khusus untuk yang berada di dalam gerbang kota pernah mencapai 1000 jiwa per hari.

Khatib menshalatkan sebanyak 65 jenazah korban wabah sekaligus per sesi di masjid kota, sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan perlahan. Gaduh dan teriak histeris tidak terkendali memenuhi ruangan masjid.

Al-Asqalani yang juga dikenal sebagai penulis Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari dan kitab hadits hukum Bulughul Maram mengangkat perbedaan pandangan ulama perihal kumpul-kumpul untuk berdoa di padang terbuka sebagaimana salat istisqa.

Wabah di masa lalu itu, tentu saja menginspirasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga organisasi massa Islam semisal Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang telah menyerukan agar umat Islam menghindari ritual dengan mengumpulkan orang banyak. 

Shalat Jum'at dan salat berjamaah di masjid dan musala pun ditiadakan.
PBNU juga menginisiasi 'Doa Bersama dan Pertaubatan Global Bersatu Melawan Corona', pada Kamis 9 April mendatang secara daring. Lewat dimunajatkannya doa-doa, Shalawat Thibbil Qulub, syair Li-Khamsatun, dan juga amalan-amalan dari para kiai leluhur NU, ormas ini berharap wabah corona segera berlalu dan kita bisa melewatinya dengan keadaan selamat. Aamiin Ya Rabbal Alamin

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(QS. Al-Fatihah:5)
[Sindonews.com]
Komentar

Tampilkan

Terkini