Iklan

Darud Donya Aceh Minta Dunia Selamatkan Kaum Rohingya

27 Juni, 2020, 13.17 WIB Last Updated 2020-06-27T06:17:27Z
LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Ketua Darud Donya Aceh, Cut Putri meminta dengan hormat kepada negara-negara di dunia untuk memperhatikan secara serius masalah Rohingya. Apalagi penderitaan masyarakat Rohingya yang tidak diakui sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. 

Hanya rakyat Aceh yang menerima pengungsi Rohingya dengan tangan terbuka. Darud Donya mengingatkan masalah ini bisa menjadi sejarah kelam bagi dunia hingga ratusan tahun yang akan datang apabila pada masa ini dunia berdiam diri dengan penderitaan sebuah etnis. 

Seperti diketahui bahwa pada hari Kamis (25/06/2020), sebanyak 94 orang kaum Rohingya yang terombang ambing di laut Aceh kembali diselamatkan oleh rakyat Aceh. 

Mereka ditemukan di lautan dalam kondisi kelaparan, kehausan dan dalam perahu yang nyaris tenggelam. Evakuasi ke daratan dilakukan langsung oleh rakyat Aceh dalam suasana cuaca hujan deras dan petir, dengan penuh rasa kasih dan sayang, mereka ditarik ke daratan. 

Rakyat Aceh pun saling bahu membahu menyiapkan tempat beristirahat dan saling sumbang menyumbang makanan dan keperluan untuk pengungsi yang juga terdiri dari anak-anak dan orang-orang tua itu.

Bangsa Aceh sejak dahulu kala selalu membantu orang-orang yang tenggelam atau karam di perairan tanpa peduli asal usulnya. Sejarah Aceh mencatat bahwa saat Mani Purindam Nenek Moyang dari Tun Sri Lanang tenggelam di kawasan Samudera Pasai, maka rombongannya kemudian ditolong langsung oleh Raja dan Rakyat Pasai, dan diberikan harta secukupnya untuk dapat pergi melanjutkan perjalanan ke tempat tujuannya ke Malaka. 

Kini  ratusan tahun kemudian, ketika Aceh adalah salah satu kawasan termiskin di Indonesia, namun Bangsa Aceh dengan penuh kehormatan masih tetap meneruskan tradisi mulia leluhur bangsa Aceh untuk menyelamatkan orang-orang yang karam dan kesusahan di lautan. 

Ketua Darud Donya, Cut Putri menceritakan bahwa pada masa lalu Rohingya adalah sebuah kerajaan bernama Arakan yang memiliki hubungan akrab dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Kapal Arakan banyak yang datang ke Aceh untuk berdagang dan menjalin persaudaraan dengan Aceh Darussalam. 

Namun sejak Arakan dikalahkan, banyak situs sejarahnya yang hilang dan sengaja dimusnahkan, kemudian sejarah jati diri mereka dilenyapkan, sehingga jadilah mereka bangsa tanpa negeri. 

Darud Donya Aceh meminta negara-negara muslim untuk aktif membantu meringankan penderitaan kaum Rohingya. Apalagi seperti diketahui juga bahwa dalam konvensi dunia ke-18 The Malay and Islamic World Organisation/Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang dihadiri oleh 22  negara rumpun melayu sedunia, telah menghasilkan salah satu resolusi dunia yaitu: "Menyelamatkan sejarah-sejarah Islam di negara-negara Islam, salah satunya di Palestina, Rohingya, dan Aceh".
Darud Donya Aceh juga meminta bantuan secara khusus kepada Pemerintah Turki agar dapat membantu Aceh menangani krisis pengungsi Rohingya, dan melibatkan Aceh secara langsung dalam penyelesaian konflik di kawasan Myanmar, karena Aceh juga terdampak langsung dengan banyaknya Pengungsi Rohingya yang datang ke Aceh. Untuk itu Darud Donya Aceh meminta Turki dan UNHCR agar dapat melibatkan Aceh untuk membantu langsung dalam menyelesaikan permasalahan Rohingya.

"Kaum Rohingya adalah saudara kita, apalagi mereka adalah saudara muslim kita yang teraniaya. Bagaimanapun, kemanusiaan adalah diatas segalanya. Apabila kita tidak menolong, maka malu lah kita dihadapan Allah," tegas Cut Putri, Pemimpin Darud Donya Aceh.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini