-->

Kisah Haru Mbok Tarmo, Rela Dimadu Suami dengan Anak Kandung

29 Oktober, 2020, 20.22 WIB Last Updated 2020-10-29T13:22:17Z

Kisah Miris Mbok Tarmo. Channel YouTube TRANS TV Official ©2020 Merdeka.com


LINTAS ATJEH | GUNUNG KIDUL - Sudah empat puluh tahun berlalu, rumah tangga Mbok Tarmo dengan Giyono terjalin. Meski akhirnya sempat dirundung ujian, tatkala sang suami menikahi putri pertama Mbok Tarmo.


Terdengar miris memang, namun ia mampu mengikhlaskan, tinggal bersama dan dimadu dengan anaknya sendiri. Hal ini demi menjaga keutuhan keluarga.


Ujian bertubi-tubi telah ditempa sejak lama, Mbok Tarmo memiliki empat anak dan tiga cucu yang tidak sempurna. Kisah haru yang begitu mengetuk pintu hati dan introspeksi diri dari sosok Mbok Tarmo.


Berikut kisah lengkapnya.

Channel YouTube TRANS TV Official ©2020 Merdeka.com


Tidak sanggup marah

Mbak Tarmo kini telah berusia 65 tahun, warga Semin, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebelumnya ia pernah menjalin biduk rumah tangga dan dikaruniai lima buah hati.


Putri sulungnya bernama Damiyem. Sosok yang kini telah menjadi istri kedua bagi suami Mbok Tarmo, yakni Giyono. Tentu saja, ia tak sanggup marah menerima keputusan tersebut.


"Sama anak saya sendiri, ya kek gimana bu. Menyesal gimana saya. Itu anak saya sendiri, mau marah ya anak saya," kata Mbok Tarmo seperti dikutip dari channel YouTube TRANS TV Official.


"Nggak sedih mbak, nggak apa-apa. Nggak marah-marah saya, benar," tambahnya.


Cucu dari Anak Pertama

Kini Mbok Tarmo ikut merawat para cucunya, buah hasil pernikahan Damiyem dan Giyono. Posisinya hingga saat ini, Giyono masih berstatus sebagai suami Mbok Tarmo.


Cukup berat baginya, menerima kenyataan hidup yang getir tersebut. Ia tak menyangka, buah hati dari hasil pernikahan pertamanya, akan menjadi istri kedua dalam rumah tangga barunya.


Terdapat Paksaan

Channel YouTube TRANS TV Official ©2020 Merdeka.com


Salah satu bentuk berbakti Mbok Tarmo pada sang suami, ialah merelakan dimadu. Meski sayangnya harus dengan anak kandungnya sendiri. Diakui Damiyem, awalnya ia menolak. Tapi ada paksaan dari Giyono.


"Mboten purun wau menawa kula ditari nggih wegah, namung dipekso (tidak mau, waktu ditanya untuk menikah ya tidak mau, tapi bapak memaksa)," kata Damiyem sembari menunduk seraya menahan sesuatu.


Menikah Lagi Demi Keluarga

Channel YouTube TRANS TV Official ©2020 Merdeka.com


Alasan kuat Giyono memutuskan untuk menikah lagi, sebab ingin menjaga keturunan. Selama menjalani pernikahan dengan Mbok Tarmo, tidak memberi anak.


"Supaya punya tumbuh. Saya nggak punya tumbuh, bapak nikahi anak saya supaya punya tumbuh," jelas Mbok Tarmo.


Sehingga menikah lagi, demi keluarga. Meski secara adat Jawa, dinilai kurang baik, tapi diyakini oleh Giyono hal itu sudah diperhitungkan secara matang.


"Mungkin ada apa itu aja oleh orang Jawa. Tapi saya, mungkin saya sudah hitung jangkep (cukup) itu. Nggak saya takut ada apa-apa. Karena saya itu tujuannya satu jalur, bagaimana saya bisa menyambung sejarahnya Mbok Tarmo ini," papar Giyono.


Empat Anak Miliki Penyakit Mental

Channel YouTube TRANS TV Official ©2020 Merdeka.com


Begitu kuat mengetahui perjalanan hidup Mbok Tarmo selama ini. Apalagi hingga kini ia masih mengurus keempat anaknya yang mengalami cacat mental, dan masih mengenyam pendidikan di SLB Darma Putra Semin, Gunung Kidul.


Ia mengaku sempat terpikir, bila anaknya memberi keturunan. Berarti kelak akan ada yang membantu mengurusi anak-anaknya yang disabilitas tersebut.


"Iya bingung, kula ngantos (saya sampai) punya anak dinikah kalih bapak (dinikahi oleh bapak). Kula niku (saya itu) supaya punya tumbuh, ada yang ngerumat anak saya yang bodoh-bodoh itu," ujar Mbok Tarmo.


5 Cucu dari Damiyem

Semakin miris ternyata, usai mengetahui bahwa Damiyem memiliki lima anak. Tiga orang di antaranya mengalami cacat mental yang sama. Hanya dua buah hatinya yang terlahir normal.


Kendati demikian, bentuk kasih sayang Giyono begitu terasa. Ia tetap memberi perhatian lebih pada anak-anaknya yang terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK).


"Sekali tempo ada yang kaya ujug-ujug (tiba-tiba) stres gitu lo. Itu selalu saya awasi. Saya tidak selalu melepaskan ke bapak dan ibu guru, tapi saya juga mengawasi," ujar Giyono.


Dua Anak Tinggal di Panti

Channel YouTube TRANS TV Official ©2020 Merdeka.com


Kedua putra Mbok Tarmo yang seharusnya sudah cukup usia menikah, Padimin dan Pardi. Hingga kini masih mengenyam pendidikan di SLB (Sekolah Luar Biasa) dan sesekali tinggal di panti. Tapi setiap hari suka pulang ke rumah untuk ikut makan.


"Orang dua-duanya tiap hari ya pulang. Sungguhpun ada panti asuhan, tiap hari ya pulang, makan di rumah. Ya ini kalau saya nggak siap sama mboknya kan gimana. Mosok njagakke, kuwi wis ning panti asuhan, nggak usah, ha nanti gimana kalau pulang tujuannya mau makan," tukas Giyono.


Ada ketakutan tersendiri yang menyelimuti Mbok Tarmo. Di usianya yang telah renta, masih ada tanggungan anak-anak ABK.


"Ya pikiran, saya mikir anak saya cacat begini nanti saya meninggal, anak saya gimana ini," ucap Mbok Tarmo.


Tak Pilih Kasih

Channel YouTube TRANS TV Official ©2020 Merdeka.com


Hal istimewa yang dibanggakan oleh Mbok Tarmo dari suaminya, ialah bentuk kasih dan sayang. Diakuinya, Giyono selalu perhatian pada anak-anaknya. Baik pada anak tiri, anak yang cacat, maupun yang normal.


"Nggak, saya nggak khawatir. Maka kalau yang 'berkebutuhan' saya utamakan sekolah. TK sampai SD sekuat tenaga, saya sebagai orang tua, harus membina anak yang normal lebih tajam. Karena nanti akhirnya anak itu bisa tekun, patuh membina anak yang seperti ini (cacat)," ujar Giyono.


Tak ada rasa takut, Giyono yakin, kelak anaknya bisa membantu menyejahterakan saudaranya yang lain.


Tak Ada Biaya ke Rumah Sakit

Channel YouTube TRANS TV Official ©2020 Merdeka.com


Sangat disayangkan, seluruh keturunan Giyono tak ada yang pernah menerima pemeriksaan dari rumah sakit. Sebab diakuinya, tak ada biaya perjalanan, apalagi untuk berobat.


"Belum pernah. Jadi saya merasa kalau saya bawa ke rumah sakit, pertama persyaratan untuk trasnport yang tidak ada," jelas Giyono.


Kerja Sebagai Buruh

Saat ini Giyono masih bekerja sebagai buruh tani, didampingi kedua istrinya. Mengerjakan tugas pertanian milik orang lain.


"Sungguhpun cukup tua, disebut-sebut orang tani. Tapi pertanian saya belum bisa menjalani pertanian, karena kalau khusus berarti harus punya tanah," imbuhnya.


Begitu miris dan layak menjadi inspirasi. Meski getir hidup yang menimpa terbilang berat, Giyono mengaku tidak pernah takut sengsara dan merasa berkecukupan. Ia nampak mensyukuri hidup.


"Saya tidak merasa gengsi. Saya tidak merasa takut rekoso (susah), nggak. Sungguhpun cukup tua, angkat junjung masih kuat, buruh masih siap untuk anak," tegas Giyono.[Merdeka]

Komentar

Tampilkan

Terkini