-->

Iklan

Di Masa Pandemi Covid-19, Efektifkah Pendidikan Dilakukan Secara Daring?

20 November, 2020, 04.53 WIB Last Updated 2020-11-23T01:32:44Z

PENDIDIKAN merupakan pengembangan individu di suatu negara. Baik negara maju ataupun negara berkembang pendidikan menjadi tolak ukur sebuah negara untuk mencapai perkembangan dalam berbagai sektor seperti ekonomi, pariwisata dan kebudayaan yang ada di sebuah negara. Tentu saja disetiap negara baik negara maju atau berkembang bisa dilihat dari kualitas pendidikannya. 

Semakin bagus pendidikannya maka akan semakin bagus pula negara itu menciptakan individu yang berkualitas. Sehingga bisa bersaing di dunia internasional dan dunia. Namun, saat ini dunia pendidikan mempunyai masalah serius tatkala wabah Corona melanda dunia. 

Pasalnya dengan mewabahnya Covid-19 ini tentu saja akan semakin membuat pendidikan yang ada di dunia khususnya Indonesia sedang mengalami cobaan yang begitu besar. Dimana hampir semua jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi mengalami kini tengah dicoba dengan adanya virus ini. Virus yang bermula dari kota Wuhan Tiongkok ini membuat hampir semua orang khawatir terhadap kondisi mereka. Hal ini dikarenakan virus ini menyerang pernapasan dan anggota tubuh lainnya. Bahkan virus ini bisa membuat komplikasi terhadap orang yang terkena virus Corona.


Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan untuk semua siswa dan mahasiswa melakukan pembelajaran secara daring. Begitu juga dengan guru ataupun dosen yang mengahruskan mengajar menggunakan metode online. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kasus virus Corona yang kian hari meningkat. 


Selain itu, arahan untuk tidak membolehkan siswa untuk bersekolah di masa pandemi diinstrusikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Terlebih lagi kasus Corona di Indonesia belum menurun. Keluarga di Indonesia sendiri semenjak terjadinya virus Corona perlu beradaptasi terhadap gaya baru pembelajaran di masa pandemi. 


Orang tua maupun anak-anak masih kurang familiar terhadap sistem pembelajaran ini. Hal ini dikarenakan sudah terbiasanya keluarga di Indonesia belajar di sekolah. Apalagi bagi orang tua yang awam terhadap teknologi. Sudah pasti menjadi persoalan yang berarti dimasa pandemi ini. 


Adanya kebiasaan baru ini yang menuntut adanya sistem teknologi di masa pandemi tak pelak membuat para orangtua di desa terpencil kebingungan terhadap sistem pembelajaran model seperti ini. Fasilitas sarana dan prasarana yang kurang memadai membuat sistem model pembelajaran daring masih kurang baik dijalankan di desa terpencil. Karena di desa di Indonesia masih sangat jarang adanya akses internet yang memadai. 


Terutama di daerah seperti NTT, Papua dan daerah perbatasan yang memiliki akses kurang memadai. Kurang tepatnya pemerintah untuk menerapkan pembelajaran daring di seluruh Indonesia malahan mendapatkan kecaman dari berbagai pihak seperti halnya DPR. Beberapa waktu lalu DPR mengkritik kinerja Kemendikbud dalam penerapan pembelajaran daring. Alhasil banyak pubilk yang sampai sekarang masih menanyakan seberapa efektifkah pendidikan saat Covid-19 ini. 


Dampak Covid-19 pada Proses Belajar

Proses belajar mengajar disaat pandemi sekarang ini tentu saja harus berdasarkan berbagai pertimbangan. Sekolah diharuskan untuk mengikuti berbagai kebijakan melakukan penerapan sekolah secara daring. Adanya kebijakan saat pandemi ini sudah pasti memiliki dampak tersendiri bagi siswa maupun guru sebagai pengajar. Beberapa dampak dari adanya pengajaran sistem daring berikut ini:


1.  Keterbatasan Penguasaan Teknologi Informasi 

Di Indonesia memiliki pulau yang sangat luas dan fasilitas seperti internet, telepon dan laiinya. Selain itu, guru-guru yang lahir sebelum tahu 80 masih terbilang asing untuk sistem pembelajaran daring seperti ini. Hal ini dikarenakan belum adanya sosialisasi dari pemerintah untuk media pembelajaran daring. Selain itu, guru maupun siswa tidak diberi waktu untuk melakukan percobaan media daring. Prakteknya yang dihasilkan pun akhirnya tidak sesuai ekpetasi dari  proses belajar ini. Banyak siswa yang masih belum paham tentang penggunaan sistem pembelajaran daring. Bagi di masyarakat perkotaan sudah pasti paham dengan sistem daring ini. Namun, bagi bagi siswa yang berada di pedesaan pembelajaran daring di saat pandemi ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa maupun guru di pedesaan. 


2. Akses Internet terbatas 

Masih kurangnya akses internet di seluruh Indonesia sendiri membuat sistem pembelajaran online masih menjadi persoalan sampai detik ini. Penyedia jaringan dari pemerintah maupun swasta masih belum mampu menyediakan pemerataan akses internet yang menjangkau keseluruh pelosok Indonesia. Adanya permasalahan ini tentu saja membuat kurangnya sumber materi yang masuk ke sekolah. Minimnya akses yang masuk ke sekolah menimbulkan permasalahan serius yang sampai saat ini perlu diselesaikan disaat pandemi. Supaya orang tua siswa tidak merasa bingung dan dipermainkan oleh kondisi pendidikan seperti ini. 


3. Kurang siapnya anggaran 

Pemerintah sebetulnya masih terbilang gagap mengantisipasi adanya virus Corona ini. Bukan hanya dengan perumusan anggaran untuk kegiatan perekonomian saja. Namun, dalam merumuskan anggaran pendidikan masih terkesan terburu-buru. Sehingga terkesan amburadul dan tidak karuan. Maka dari itu pemerintah perlu menyiapkan anggaran sebaik-baiknya dalam penyusunan anggaran belanja terutama pendidikan. Agar saat terjadi sesuatu seperti wabah Corona ini pemerintah dapat lebih siap untuk menggunakan anggaran ini sebaik-baiknya dalam pembelajaran daring. 


Lulusan Sekolah Mengahadapi Masalah

Bagi siswa yang lulus pada tahun 2020 ini bisa menjadi masalah tersendiri bagi lulusan SMK ataupun mahasiswa yang sudah purna tugas. Disaat kelulusan siswa dan mahasiswa ini harus mengahadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Hal ini disebabkan perusahaan ketika pandemi saat ini lebih memilih untuk tidak merekrut karyawan ataupun mengurangi karyawan. Permasalahan ini tentu saja menjadi persoalan yang harus dituntaskan oleh pemerintah sekali lagi. Siswa yang lulus saat pandemi menjadi permasalahan baru pengangguran di Indonesia.


Penulis: Ajie Muhammad Ikhsan (Mahasiswa KKN PKP Prodi Teknik Industri, Universitas Malikussaleh)


Dosen Pembimbing: Mutia Fonna, S.Pd., M.Pd


Komentar

Tampilkan

Terkini