-->

Peusaba: Kalau Begini, Banda Aceh Tidak Layak Jadi Ibukota Kebudayaan

31 Maret, 2021, 13.20 WIB Last Updated 2021-03-31T06:20:35Z
LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman mengatakan Kota Banda Aceh sama sekali tidak layak menjadi Ibukota Kebudayaan Indonesia. 

Peusaba mempertanyakan, bagaimana bisa menjadi Ibukota Kebudayaan, sedangkan kawasan pusat kebudayaan dan asal muasal Kota Banda Aceh di Titik Nol Kota Banda Aceh, menjadi tempat pembuangan tinja dan sampah. 

Sebelumnya diberitakan bahwa Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) menjadikan Banda Aceh sebagai Ibukota Kebudayaan Indonesia dalam rapat Pra Kongres JKPI 2021. Sementara Walikota Banda Aceh terus saja memaksakan kehendaknya untuk memusnahkan pusat kebudayaan tertua Banda Aceh di Gampong Pande.

Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam adalah asal mula Banda Aceh pada 22 April 1205 didirikan oleh Sultan Johan Syah, yang oleh Walikota dimusnahkan dengan sampah dan tinja. Bagaimana Banda Aceh bisa disebut kota berbudaya. Sedangkan pusat budaya jadi gunung sampah dan kolam tinja. 

'Tidak layak Banda Aceh dinobatkan sebagai Ibukota kebudayaan, karena tindakan pemusnahan kawasan pusat budaya oleh Walikota, justru merupakan perilaku yang jauh dari budaya yang beradab. Walikota tidak tahu adat dan buta budaya, dan tidak ada niat baik untuk menjaga dan melestarikan situs sejarah dan pusaka budaya bangsa, malah sengaja menghancurkan pusat kebudayaan, hal ini memalukan Aceh di mata dunia," tegas Ketua Peusaba.

Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman juga mempertanyakan Walikota Banda Aceh Aminullah Usman yang tidak berani membawa tamu dari luar ke Wilayah Titik Nol Kesultanan Aceh Darussalam di Gampong Pande, sebagai pusat kebudayaan tertua Kota Banda Aceh. "Seharusnya dibawa kesana oleh Walikota, supaya diperlihatkan bahwa di Titik Nol terdapat Gunung Sampah dan Proyek Tinja," kata Mawardi.

Peusaba memprotes JKPI yang didukung oleh pusat, yang menjadikan Banda Aceh sebagai Ibukota Kebudayaan. "Apakah ini langkah JKPI mendukung secara halus Walikota Banda Aceh untuk melanjutkan proyek IPAL pemusnahan makam Raja dan Ulama di Gampong Pande," tandas Ketua Peusaba.

Peusaba mengingatkan bahwa akan ada efek dunia akhirat bagi siapapun yang sengaja mendukung dan ikut dalam pemusnahan makam Raja dan Ulama di Gampong Pande. 

Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman mengingatkan bahwa Pangeran Diponegoro menjadi pahlawan besar karena mempertahankan makam indatunya yang dihancurkan Belanda. Akibatnya terjadi Perang Jawa yang membuat bangkrut Belanda. 

"Walikota Banda Aceh dan Pemerintah Pusat jangan coba-coba mengulangi kesalahan yang sama dan memancing kemarahan Rakyat dan Bangsa Aceh," demikian Peusaba mengingatkan, Rabu (31/03/2021).[Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini