-->



Istihza Makin Marak, Dimana Peran Penguasa Muslim?

27 Oktober, 2021, 10.39 WIB Last Updated 2021-10-27T03:39:12Z
BAGI sebagian orang menonton komika dan stand up Comedy adalah hiburan untuk merefresh pikiran dari lelahnya aktivitas harian, terkadang dengan lelucon para pelakon komedian bikin penonton tertawa. Sejauh yang di tampilkan adalah hal-hal positif tentu hal ini tidak menjadi masalah, namun mirisnya panggung stand-up Comedy mulai bergeser dari perannya menghibur menjadi ajang Istihza ( mengolok menjadikan bahan tertawaan) yang dilarang Islam. Merendahkan baik sesama individu, kelompok, Islam dan juga ulama, meski menurutnya ini adalah bagian dari lawakan semata.

Lagi-lagi publik di hebohkan dengan perkataan salah satu komedian yang terang-terangan merendahkan Islam dan juga penghinaan terhadap ulama. Seperti  dilansir dari CNN Indonesia.com, (17/10/2021). Dalam video itu terlihat McDanny sedang membawakan sebuah acara yang diiringi oleh alunan musik dari DJ. McDanny kemudian melontarkan pernyataan saat musik berhenti sejenak “F**k Habib Rizieq,” kata pria yang bernama Dani Jaya Wardhana itu sambil tertawa. Viralnya video tersebut turut diiringi dengan tagar #Tangkap McDanny yang populer di Twitter. 

Kasus di atas bukanlah kasus pertama yang di alami oleh kaum muslim saat ini, pelaku istihza sudah sering terjadi baik di negeri ini maupun di negeri Muslim lainnya. Para pelaku penghinaan terhadap Islam seolah-olah tumbuh subur, tanpa ada efek jera bagi pelaku selanjutnya. Jadi wajar, meski pelaku telah di beri sanksi berupa penjara namun tetap saja tidak memberikan efek jera serta menghentikan menjamurnya para pelaku penista agama dan ulama yang baru.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Sistem sekuler yang di terapkan saat ini sungguh berhasil mencetak para individu yang senantiasa berperilaku bebas tanpa memandang baik atau buruk, sesuai dengan norma agama atau tidak. Baginya selama tidak melukai orang lain maka sah-sah saja hal itu di lakukan meski harus merendahkan agama Islam. Sejatinya kebebasan berekspresi telah di lindungi oleh payung liberalisme makanya wajar jika istihza tumbuh subur bak jamur di musim hujan

Bagi mereka bercanda adalah hal biasa, apalagi jika hal ini bisa membuat orang lain tertawa dan terhibur, karena bagi komika membuat penonton tertawa adalah kewajiban, dari sinilah mereka di tuntut kreatif  meski bahan pembicaraannya adalah sesuatu yang merendahkan agamanya sendiri, tidak peduli bagaimana perasaan umat Islam, jika tidak ada yang protes maka hal tersebut tidak menjadi soal. Jika pun ada yang protes maka cukup meminta maaf dan mengatakan jika dia khilaf. Meskipun para pelaku penghinaan di tangkap, namun bukan karena kasus penghinaannya melainkan karena terjerat kasus lain misalnya telah menggunakan narkotika seperti yang terjadi pada McDanny di tangkap karena terbukti telah mengkonsumsi narkoba, bukan karena telah menghina Islam dan ulama. 

Dari sini jelas bahwa negara menumbuh suburkan istihza (mengolok menjadikan bahan tertawaan) yang di larang Islam. Sedangkan penyebaran syiar Islam justru semakin di batasi. Salah satunya suara adzan yang dianggap terlalu bising karena setiap masjid adzan bersamaan. Begitu juga dengan pergeseran tanggal merah pada perayaan umat Islam 1 Muharram dan maulid nabi Muhammad Saw. Semua ini semakin membuktikan betapa negara membatasi syiar jika itu berkaitan dengan Islam sementara tidak untuk hal-hal lain. Jika demikian apakah masih pantas umat Islam berdiam diri dengan kondisi yang ada?

Islam Kaffah Mampu Menutup Pintu Penistaan

Islam dan khilafah menutup pintu penghinaan dan memberikan sanksi tegas untuk pelaku istihza. Meski demikian bukan berarti Islam adalah agama yang kaku. Di dalam Islam perbuatan manusia terikat kepada hukum syarak, bukan untung rugi. Ketakwaan individu sangat penting di jaga karena dari sini mereka akan sadar kualitas setiap ucapan dan tingkah lakunya. Begitu juga dengan niatnya, tidak ada alasan bahwa niat saya hanya menghibur agar mereka tertawa.

Bercanda adalah suatu yang mubah, hanya saja Islam melarang bercanda atau mengada-ada cerita bohong demi untuk menghibur orang lain. Rasulullah Saw pun kadang bercanda dengan para sahabatnya, namun candaan yang tidak merendahkan orang lain apalagi agama. Dari sini jelas bahwa Islam tidak melarang kaum muslim melakukan hal tersebut selama tidak melanggar hukum syarak.

Lalu bagaimana jika ada yang sengaja melakukan penghinaan, maka khilafah akan mengambil tindakan tegas bagi para pelaku tujuannya adalah untuk memberikan efek jera sehingga pintu penistaan tertutup rapat. Ketegasan ini yang pernah terjadi pada masa Khalifah Abdul Hamid II pada masa pemerintahan khilafah Utsmaniyah dimana kerajaan Inggris akan mengadakan pertunjukan drama Voltaire yang didalamnya terdapat penghinaan terhadap Rasulullah Saw. Ketika sang Khalifah mendengar kabar tersebut, dia langsung  mengambil tindakan dengan mengultimatum sang raja jika pertunjukan tidak di hentikan maka akan ada jihad akbar, dengan ancaman ini maka drama tersebut tidak jadi diadakan. 

Di dalam Islam seseorang di larang melakukan penistaan terhadap Islam maupun ulama, karena ini bisa mengantar pada sifat kekufuran, digolongkan murtad jika pelakunya seorang muslim dan hukuman yang akan di berikan adalah hukuman mati. Maka dari sini jelas bahwa hanya Islam yang mampu menuntaskan Istihza, karena hanya dengan penerapan secara sempurna dalam bingkai khilafah setiap aturan kehidupan akan tertata. Mulai dari penjagaan pola pikir dan sikap individu, menyajikan tontonan yang berkualitas bukan tontonan yang merusak meski atas nama hiburan semata. Negara juga mampu melahirkan para generasi yang takut akan siksa akhirat bukan hanya mengejar popularitas namun dengan mudahnya melakukan penistaan demi panggung.

Wallahu a’alam

Penulis: Widiawati, S.Pd (Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Muslimah)
Komentar

Tampilkan

Terkini