-->


Agama Sebagai Penawar Kekosongan Jiwa

31 Desember, 2021, 13.09 WIB Last Updated 2021-12-31T06:09:26Z
BARU-BARU INI, jagat maya dihebohkan dengan berita seorang publik figur yang memperlakukan boneka bak anak sendiri. Perhatiannya terhadap sebuah mainan yang diciptakan anak manusia melebihi kadar batas dan sangat bertolak belakang dengan pola pikir kewarasan. 

Meski hidup sebagai public figure papan atas di Indonesia, kaya raya, tampan, popularitasnya baik, punya segalanya tapi kondisinya saat ini amat memprihatinkan. Ia bagai berada dalam dua dunia, dunia nyata dan dunia bayang-bayang. 

Bukankah Allah SWT telah menjelaskan dalam firmannya bahwa dosa dalam bentuk bagaimanapun akan diberikan keampunan kecuali dosa syirik. Betapa sayangnya, kita yang saat ini hidup dalam dunia modern, berilmu pendidikan tapi menempuh jalan yang menuju kepada kesyirikan itu. 

Tanpa kesadaran, semua hal mungkin untuk dilakukan. Hilangnya akal sehat adalah dampak dari kekosongan jiwa. Sunyi yang sebenarnya bukanlah berada di tempat sepi sendirian akan tetapi jiwa yang tidak pernah diurus, kebutuhannya tak terpenuhi dan sering diabaikan ketika ia menginginkan haknya. 

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Hal  utama yang diperlukan jiwa adalah spiritual. Agama adalah pemberi ketentraman yang hakiki. Ketika jiwa disirami dengan cahaya iman maka ia tidak akan mengalami kekosongan. Jiwa yang tidak kosong itu tidak akan punya masa untuk melakukan hal konyol yang tidak berlandaskan akal sehat. Kebahagiaan berasal dari dalam diri. Sejauh mana pun kaki melangkah, jika jiwa hampa kebahagian tidak akan ditemukan. 

Kembali lagi kepada  inti tulisan ini, agama adalah obat untuk jiwa. Kebagusan spiritual akan menghasilkan kenyamanan dalam menempuh perjalanan hidup. Boleh saja kita kekurangan fisik dan finansial, akan tetapi selama hubungan kita dengan Allah SWT baik, seluruh waktu yang kita miliki akan terasa indah. Sebaliknya, sehebat apapun jabatan, ketenaran, dan lain sebagainya justru tidak punya nilai jika jiwa terasa kosong dan hidup dipenuhi dengan bayang-bayang. 

Bersyukurlah, jalani kehidupan ini dengan baik. Hidup amat sangat singkat dan kematian suatu hal yang pasti. Pandai-pandailah merawat diri, karena setelah tiada, kita akan ada untuk tidak lagi tiada. 

Penulis: Lisa Ulfa (Alumni Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar Raniry/Pengajar di SMP Assalam Islamic School)
Komentar

Tampilkan

Terkini