-->


Komedian Fico Fachriza Ditangkap Kasus Narkoba, Ternyata Generasi Keluarga DN Aidit

14 Januari, 2022, 14.57 WIB Last Updated 2022-01-14T08:01:14Z
capture/Instagram/Fico Fachriza. Fico Fachriza Komika Kerabat PKI

LINTAS ATJEH | JAKARTA - Kabar tak sedap kembali hadir di dunia hiburan.

Dimana baru-baru ini ada artis berinisial FF yang tertangkap kasus Narkoba setelah Ardhito Pramono dan Jefri Nichol.

Rencananya, polisi baru akan mengumumkan siapakah artis berinisial FF yang tertangkap narkoba hari ini, Jumat 14 Januari 2021 sore.

Sebelum FF, dua pemeran Dear Nathan Thank You Salma, yaitu Ardhito Pramono dan Jefri Nichol juga mengalami nasib serupa.

Dear Nathan Thank You Salma sendiri tetap tayang di bioskop pada 13 Januari 2022, meskipun salah satu pemainnya Ardhito Pramono dibekuk polisi karena kepemilikan narkoba jenis ganja.

Di film Dear Nathan Thank You Salma, Ardhito Pramono berakting bersama Jefri Nichol, Amanda Rawles, dan Indah Permatasari.

Lantas kira-kira siapakah FF?

Profil

Pemilik nama lengkap Fico Fachriza ini lahir pada 24 Mei 1994 ini adalah pelawak tunggal dan aktor berkebangsaan Indonesia.

Fico yang merupakan alumni SMA Negeri 5 Depok ini mengawali karier melawaknya melalui acara Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim ketiga pada tahun 2013 lalu.

Ia menembus babak lima besar, dan menjadi juara kedua.

Fico merupakan cucu dari Murad Aidit, adik dari D.N. Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia. Fico adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

Kakak Fico yang bernama Rizki Ananta Putra juga merupakan seorang pelawak tunggal.

Mereka tampil bersama di Stand Up Comedy Indonesia musim ketiga, tetapi sang kakak harus tereliminasi lebih awal pada penampilan keduanya.

Ia dikenal dengan kesannya yang bego (atau terlihat bodoh) karena terkadang tema dengan pembicaraannya sering tidak menyambung. Contoh lawakan yang diangkat olehnya adalah seperti berikut ini:

"Kecap ini sering diremehkan, padahal kecap punya peran penting. Kalau enggak ada kecap, bisa-bisa nasi uduk sama nasi goreng ketukar. Padahal, itu juga nasi uduk sudah dengki banget sama nasi goreng yang lebih dulu go international."

"Aku ke sini (kantor Redaksi Kompas.com) tadi naik ojek, di jalan ketemu orang gila naik sepeda. Terus, orang gilanya bilang, 'Mas, Mas, mau tukeran enggak motornya sama sepeda?',

'Ah, Bapak gila kali. Masa tukeran?', 'Ya kali aja Masnya mau ikutan gila'."

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Generasi Keluarga PKI

Sebut saja Fico Fachriza, Komika tanah air yang mengaku masih ada hubungan darah dengan ketua PKI.

Dalam kicauannya di Twitter beberapa waktu lalu, komika bertubuh gempal tersebut mengaku baru saja melakoni wawancara dengan media BBC Indonesia dengan tema seputar PKI.

Siapa sangka, komika yang pernah menjadi finalis ajang stand up comedy tersebut ternyata masih memiliki kerabat dekat dari pimpinan senior PKI yakni D.N. Aidit.

Melalui unggahan di akun Twitternya, Fico tampak memposting foto kecilnya saat bersama kakeknya, Murad Aidit.

Murad Aidit merupakan adik kandung dari Dipa Nusantara Aidit atau yang dikenal dengan D.N. Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia (PKI).

September, bulan-bulannya rame diwawancarain seputar PKI. Kemaren udah sama bbc.

Anw, ini foto gua sama kakek gua, Murad Aidit," tulisnya.

"Kontribusi Aidit buat bangsa ini sejak sebelum Indonesia merdeka itu buanyak banget. Bang Fico harus tetep bangga.

Bertahun-tahun temenan sama pico baru minggu lalu dia cerita dan insting membunuh fico ga ada sama sekali tapi insting mencari duitnya malah lebih serem.

"Baru tauu Fico cucu adeknya ketua PKI mantep bener, kelucuan kelucuan pasti mengalir dari darah pendahulunya, rispekk," ungkap warganet mengomentari unggahan Fico di akun Twitter dan Instagramnya, @ficofachriza_.

Melansir Serambinews, Fico mengungkapkan jika kisahnya sebagai generasi ketiga keluarga Aidit.

Ia mengaku sempat merasa diasingkan di sekolahnya lantaran cucu dari seorang yang keturunan PKI.

"Jadi kira-kira kelas 4, lah tahun 2004-an, sudah mulai pelajaran sejarah PKI. Terus saya Juga tau kayaknya kakek saya ini orang PKI juga.

Ternyata kayak kejam banget kan PKI yang diajarkan di sekolah. Wah ternyata kakek saya penjahat, kayaknya baik banget kalau ke saya.

Guru sejarah lagi ceritain, terus karena saya tahu kakek saya itu adiknya D.N Aidit 'wah berarti kakek saya jahat dong buk' terus ditanya 'emang kakek kamu siapa?' Murad Aidit gitu saya jawab.

"Terus teman-teman SD jadi pada 'wah komunis-komunis gitu. enggak boleh jadi imam sholat', ungkap Fico.

Menurut penuturan sang cucu, Fico Fachriza, Murad Aidit dibiayai kuliah oleh DN Aidit.

Murad sempat dipanggil balik ke Indonesia dengan tawaran menjadi menteri.

"Yang lucu cerita yang paling saya inget, katanya dari perjalanan dari penjara Bogor ke Bandung. Di perjalanan dia (Murad dan tahanan lain) disuruh kencing.

"Namun, Murad tetap bersikeras untuk menolak tawaran tersebut.
Di situlah insting bertahan hidup dia bekerja. katanya ah 'enggak mau ah' katanya gitu.

Dan ternyata teman-teman dia yang disuruh kencing, ditembakin. Laporannya, katanya orang-orang tahanan itu mencoba kabur,".

Kakeknya, Murad Aidit dipenjara selama 15 tahun.

"Dan ternyata selama 15 tahun itu ternyata baru terbuka baru bahwa kakek saya tidak aktif menjadi anggota partai (PKI).

"Baru pas zaman presiden GusDur, ada yang minta maaf soal salah tangkap ini. Bahkan Gus Dur juga sempat meminta maaf ke Pramoedya Ananata Toer," ungkapnya.

Fico juga menceritakan akhir hayat sang kakek yang menghabiskan waktu dengan membuka sebuah warung dan warung telekomunikasi.

"Yang saya ingat, kakek dulu habisin waktunya dengan buka wartel dan warung, terus saya suka nyolongin duitya di wartel.

Saya kan kalau libur sekolah suka di rumah kakek, abang saya juga sempat tinggal di sana. Terus kalau saya jagain wartel suka saya ambilin duitnya,".

Dia menuturkan jika kakeknya mempunyai keinginan untuk hidup sangat tinggi.

"Dia pernah bilang, saya enggak akan mau mati sebelum Soeharto duluan. Setidaknya meskipun kalahh dalam kehidupan, 'saya menang dalam umur'," ujarnya lagi.

Sosok Kakek Fico Fachriza

Pada 1962-1965, Murad belajar ekonomi ke Universitas Lumumba, Moskow.

Saat kuliah, Murad dibiayai oleh DN. Aidit.

Di Masa itu, Murad adalah seorang intelektual yang menguasai 7 bahasa.

Murad dipanggil kembali ke Indonesia dengan tawaran menjadi menteri.

Namun saat pulang, setibanya di bandara ia ditangkap dan diasingkan ke pulau Buru hingga 1979, dikutip dari NarasiTV.

Nasib Keluarga DN Aidit

Derita Keluarga DN Aidit Usai Peristiwa G30S/PKI, Meninggal Satu Per Satu, Sumbunyikan Nama 44 Tahun

Peristiwa G30S/PKI merupakan aksi pengkhianatan para pembelot negara, tepatnya pada malam di tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965.

Dalam peristiwa itu tak lepas dari sosok ketua umum PKI Dipa Nusantara (DN) Aidit.

Melansir wikipedia, DN Aidit merupakan pria kelahiran Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, pada 30 Juni 1923.

DN Aidit merantau ke Jakarta dan meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 1940.

Ia sempat mendirikan perpustakaan Antara di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat.

Kemudian, Aidit mempelajari politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda.

Berawal dari situ, Aidit mulai berkenalan dengan tokoh politik Indonesia seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mohammad Yamin.

Pada tahun 1954, Aidit terpilih menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI pada Kongres PKI.

Selanjutnya, Aidit terpilih juga menjadi Sekretaris Jenderal PKI.

Aidit sebagai pemimpin PKI membuat partai tersebut menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Cina.

Di zaman itu juga, PKI mempunyai program untuk segala lapisan masyarakat seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Lekra.

Pada 30 September 1965 terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan yang dilakukan suatu kelompok militer pimpinan Let. Kol. Untung.

Dikenal sebagai Peristiwa G-30-S tersebut menuduh PKI di balik peristiwa tersebut dan Aidit sebagai dalangnya.

Akibatnya, Aidit diburu oleh tentara.

Tak hanya kehidupan Aidit yang berubah semenjak saat itu keluarganya juga menjadi sorotan masyarakat.

Berikut TribunJakarta.com sekilas kisah keluarga DN Aidit setelah peristiwa G30S dikutip dari buku Aidit: dua wajah Dipa Nusantara, seri buku Tempo: Orang Kiri Indonesia.

Ayahanda Aidit

Ayahanda Aidit, Abdullah menginap di kediaman sang anak ketika malam 30 September 1965.

Saat itu, ia melihat DN Aidit dibawa pergi tiga tentara bersama pengawal pribadi bernama Kusno.

Kala kejadian tersebut, sebenarnya ayahanda Aidit telah menetap di Belitung.

Ayahanda Aidit melihat massa berteriak-teriak saat mendatangi rumah DN Aidit.

Kejadian tersebut berlangsung saat hari ditemukannya lima jenazah jenderal di Lubang Buaya.

Adanya peristiwa itu, ayahanda Aidit kerap menghibur cucu-cucunya jika Aidit dan ibunda mereka akan pulang.

Putra bungsu Abdullah Aidit, Murad Aidit menyatakan, sang ayah terbang ke Belitung kemudian dan menetap disana.

3 tahun setelahnya, sang ayah jatuh sakit dan meninggal dunia saat rumah kosong karena sang istri, menginap di rumah saudaranya.

Tetangga tak mengetahui jika Abdullah telah meninggal dunia karena jarang ke rumah tersebut, takut terkena getah peristiwa G30S.

Hingga kemudian, jenazah Abdullah membusuk tiga hari.

Adik DN Aidit, Basri Aidit tengah bekerja di Kantor Central Comittee PKI di Kramat, Jakarta Pusat ketika peristiwa 30 September 1965 terjadi.

Sehari setelah kejadian, Basri ditangkap dan ditahan di penjara Kramat.

Pada tahun 1969, ia kemudian dibuang ke Pulau Buru.

Basri keluar dari Pulau Buru di tahun 1980.

Selanjutnya, ia membeli rumah di kawasan Bogor, Jawa Barat berkat bantuan keluarganya di Belitung.

Di Bogor, ia berkebun seraya mengajarkan bahasa Inggris untuk anak tetangga.

Istri Aidit

Soetanti sedang bertengkar dengan suaminya ketika malam 30 September 1965.

Tanti ketika itu ingin Aidit tetap di rumah dan tak mengikuti kemauan para penjemputnya.

Meski demikian, Aidit tetap pergi.

Tiga hari setelahnya, Tanti meninggalkan rumah dan tiga anak lakinya.

Ternyata Tanti ketika itu menyusul suami ke Boyolali dan bertemu Bupati Boyolali yang merupakan tokoh PKI.

Lalu, keduanya berangkat ke Jakarta dengan cara menyamar sebagai suami istri.

Tak hanya itu, mereka juga mengambil dua bocah sebagai anak angkat.

Awal sandiwara mereka ini sukses namun kemudian tetangga mulai curiga karena sikap anak angkat yang tak pernah manja ke orang tuanya.

Hingga keduanya ditangkap.

Tanti mengalami perpindahan penjara dari satu penjara ke penjara lainnya sampai tahun 1980, diantaranya tahanan Kodim 66 dan Penjara Bukit Duri.

Lepas dari masa hukuman, Tanti sempat membuka praktek sebagai dokter.

Meski demikian, ia mengalami sakit-sakitan dan meninggal dunia tahun 1991.

Anak Aidit

Ilham Aidit, anak DN Aidit menceritakan ketika peristiwa 30 September itu ia berusia 6,5 tahun.

Kala itu ia telah melihat tulisan di dinding besar bertuliskan 'Gantung Aidit' seakan-akan sudah tahu jika kehidupannya ke depan akan sulit.

"Entah kenapa seperti ada yang berbisik pada waktu itu, kalau mulai dari hari ini hidup saya akan lebih sulit," kata Ilham Aidit menceritakan pada masa itu di Gedung Nusantara V DPR RI, Jakarta, Jumat (1/10/2010).

Melihat tulisan yang menyebut nama ayahnya, Ilham kecil langsung gemetar tubuhnya, dan meyakinkan bahwa dirinya akan menjadi musuh negara.

"Padahal seminggu yang lalu bahkan sebulan sebelumnya saya sempat bertemu dan bermain dengan ayah saya (DN Aidit)," ungkapnya.

Namun, nasib baik masih berpihak kepadanya, ternyata masih ada orang yang mau mengangkatnya sebagai anak.

Meski demikian, saat ia menempuh pendidikan SMP, banyak teman yang mengejek dirinya pakai kata 'Aidit gantung.'

Hal itu membuat dirinya marah dan kerap berkelahi.

Hingga kemudian, ia dipanggi oleh Pastur di sekolahnya.

Pastur itu mengatakan, ia tahu latar belakang Ilham dan cerita masa lalunya.

"Ia mengamati raport saya setiap catur wulan selalu baik, dan ia menasehati saya banyak hal,"imbuhnya.

Setelah itu, ia mengaku berupaya keras untuk mengubur nama Aidit yang berada di belakangnya.

Bahkan setiap kali ia akan menulis nama, ia selalu berhenti lama untuk ingin menuliskan nama Aidit di belakangnya, tetapi hal tersebut selalu diurungkannya dan selalu berusaha menutup serapat-rapatnya.

"Kalau saat mengisi nama dalam kertas ujian, saya selalu lama menulis nama Aidit di belakang nama saya," katanya mengenang saat itu.

Setelah 44 tahun akhirnya pada tahun 2003, ia mulai bisa menuliskan nama lengkapnya Ilham Aidit setelah dirinya bergabung dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa.

"Saat itu saya bergandengan dengan Amelia (Anak Jenderal Achmad Yani) dan saat itu Kompas menulis nama saya dengan lengkap. Itulah awal dari kehidupan yang baru," ungkap Ilham Aidit.[Sripoku]

Komentar

Tampilkan

Terkini