-->

Kewarasan Ibu Ambruk di Sistem yang Buruk

29 Maret, 2022, 08.46 WIB Last Updated 2022-03-29T01:46:52Z
PERISTIWA memilukan kembali terjadi, seorang ibu di Tonjong Brebes, Jawa Tengah, tega menganiaya dengan menggorok ketiga anak kandungnya hingga salah satu diantaranya yaitu anak kedua, ART, (7)  meninggal dunia, kemudian dua anak lainnya yaitu, KSZ (10) dan E (5)  mengalami luka parah dengan banyak luka sayatan.

Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu, 20 Maret 2022 dini hari, Hamidah yang merupakan saksi yang juga bibi dari korban, menuturkan bahwa Kanti Utami yang merupakan pelaku sekaligus ibu kandung korban diduga mengalami defresi sehingga tega menganiaya ketiga anaknya.(mediablitar.com, 27/3/2022)

Kejadian ini menambah panjang deretan kasus ibu kandung membunuh anaknya sebagaimana pernah terjadi beberapa tahun belakangan, diantaranya;  kasus di Nias tepatnya di Desa Banua Sibohou kabupaten Nias Utara, seorang ibu inisial ML (30) tega membunuh 3 anaknya yang masih balita(15/12/2020), di Yogyakarta Khoir Umi Latifah seorang ibu nekat membakar tubuhnya beserta kedua anaknya(12/8/2010), di Bandung ibu berinisial DRY membunuh dua anaknya setelah itu dia pun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri (8/4/2021), di Palembang, ibu berinisial NSW ditemukan gantung diri setelah membunuh dua anaknya (18/11/2020) dan di NTT seorang ibu juga tega membunuh anaknya yang baru berusia tiga bulan (18/10/2020).(kompas.com, 22/3/2022)

Demikian setidaknya beberapa kasus diantara banyaknya kasus serupa melanda kaum ibu di negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim, mirisnya lagi rata-rata motifnya karena himpitan ekonomi.

Pilu, rasa itu lah yang bisa mewakili setiap ibu melihat kondisi ini, hilang sudah kewarasan para pelaku hingga tega berbuat sekejam itu kepada anak kandungnya.

Kewarasan seorang ibu kembali dipertontonkan dengan peristiwa Brebes ini, bagaimana tidak, seorang  ibu yang fitrahnya lembut, penuh kasih sayang, yang sudah seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anaknya, justru berbuat sebaliknya.

Polres Brebes terus berupaya mendalami aksi nekat Kanti Utami, saat diminta keterangan oleh pihak kepolisian, keterangan Kanti Utami terus berubah-ubah, hal ini membuat polisi perlu memeriksa kejiwaan pelaku.(Haluanpadang.com, 22/3/2022).

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Inilah fakta yang terjadi ditengah masyarakat, kompleksnya permasalahan hidup yang menghimpit setiap individu, apalagi peran ibu yang luar biasa ditengah banyaknya persoalan hidup tentu bukan hal mudah untuk dijalani

Sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini, membuat rakyat berjibaku sendiri untuk menyelesaikan persoalan hidupnya, kehadiran negara sebagai pengurus rakyat bak api jauh dari panggang. Negara dalam sistem ini hanya menempatkan diri sebagai regulator antara rakyat dan para kapitalis.

Kita bisa lihat pada kasus Kanti Utami, seorang ibu yang menurut tetangganya pendiam ini justru memikul beban yang sangat berat, dari permasalah ekonomi kemudian LDR dengan suami sehingga kurangnya perhatian serta beban masa lalu yang buruk, setidaknya inilah yang didapati dari keterangan pelaku.

Inilah kemudian yang menghilangkan kewarasan Kanti Utami hingga terbersit di benaknya untuk menghilangkan nyawa anak-anaknya. Menurut keterangan dari polisi, pelaku mengaku hanya ingin menyelamatkan anak-anaknya agar tidak hidup susah, tidak merasakan sedih, jadi harus mati biar tidak sedih seperti dia, sekalipun caranya salah pelaku yakin kematian anaknya adalah jalan terbaik.

Selama ini menurut Kanti Utami, dia mengaku kurang kasih sayang dari suami, dia sudah tidak sanggup lagi hidup dengan ekonomi yang pas-pasan, apalagi suaminya sering menganggur. " Saya ini tidak gila, pengen di sayang sama suami, suami saya sering menganggur," katanya.(mediablitar.com, 21/3/2022))

Dampak inilah yang terjadi dari penerapan sistem kapitalisme, sistem yang memang menempatkan rakyat yang miskin akan semakin termiskinkan dan si kaya akan semakin kaya, sistem ini membuat masyarakat berada dalam kelas sosial ekonomi yang begitu terpisah, bagaimana tidak, sistem ini memberikan keleluasaan para pengusaha/oligarki untuk menguasai dan mengelola harta-harta kekayaan rakyat serta memonopoli kebutuhan mereka.

Sehingga kemudian sumber-sumber kekayaan yang ada hanya berputar di para pengusaha/oligarki, contohnya Kita bisa melihat bagaimana polemik minyak goreng, rakyat kesulitan menghadapi mahalnya harga minyak goreng namun justru pengusaha lah yang diuntungkan.

Kemudian sistem sekuler kapitalis yang penerapannya  memisahkan agama dari kehidupan, tidak akan menjadikan agama sebagai solusi dalam kehidupannya, sehingga ketika mengalami tekanan ekonomi, dan berbagai permasalahan hidup bukannya bertawakal, sabar, ikhlas menerima qadha/takdir yang menimpanya, mereka justru stres, ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri atau membunuh orang lain seperti pelaku lakukan terhadap anak-anaknya.

Faktor ekonomi yang hampir selalu menjadi alasan di balik kasus semacam ini, dan kembali berulang tentu berbanding terbalik dengan kondisi negeri ini yang kaya akan sumber daya alam, namun masih banyak keluarga yang hidup kesulitan ekonomi karena kepala keluarganya tidak memiliki pekerjaan. Maka kasus semacam ini tidak cukup hanya dengan memperbaiki kejiwaan individu pelakunya namun ada faktor yang lebih dari itu dan mendasar yaitu penerapan sekularisme kapitalis yang sistemik yang harus dihentikan.

Maka sudah seharusnya kita mencampakkan dan Mengganti sistem ini dengan sistem yang tentu memberikan jamin kesejahteraan  kemakmuran dan keamanan bagi rakyatnya, dan sistem itu hanya ada di Islam yaitu sistem pemerintahan Khilafah.

Dalam sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah, melandaskan aktivitasnya pada pengurusan, pelayanan dan perlindungan rakyatnya dengan penerapan syariah secara praktis, sehingga negera akan menjalankan sistem ekonomi Islam yang berprinsip mensejahterakan setiap individu.

Maka agar kesejahteraan itu dapat diraih, negara akan menyediakan lapangan pekerjaan yang luas serta juga menyediakan balai-balai pelatihan sehingga para laki-laki bisa bekerja sesuai dengan bakatnya sehingga tidak satu pun laki-laki yang menganggur, ini lah jamin secara tidak langsung dari negara agar setiap kepala keluarga dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarganya secara layak.

Adapun jaminan kesejahteraan langsung dari negara, dengan memenuhi kebutuhan pokok publik, yaitu kesehatan, pendidikan dan keamanan maka wajib bagi negara untuk memenuhi semuanya  secara gratis dan berkualitas kepada seluruh rakyatnya tanpa terkecuali, sehingga tidak ada lagi kasta pelayanan publik.

Kemudian harta-harta dan sumber-sumber kekayaan negara yang startegi yang menjadi kebutuhan hidup orang banyak, maka tidak boleh di berikan kepada individu atau kelompok, sehingga negara lah yang wajib mengelola dan peruntukan nya sebesar-besarnya untuk rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "kaum muslim berserikat dalam tiga hal yaitu Padang rumput, air dan api."( HR. Abu Daud dan Ahmad).

Di sisi lain sistem pendidikan Islam akan menyiapkan para generasi yang siap menjadi sosok-sosok orang tua yang bertaqwa dan berilmu. Para laki-laki akan di didik untuk siap menjadi calon ayah yang bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, dan para wanita akan di didik untuk siap menjadi calon ibu dengan tugasnya sebagai umm warabatul bait.

Hal ini karena tujuan pokok dari sistem pendidikan Islam yang juga menjadi dasar kurikulum materi pelajaran, menurut Syekh Atha bin Khalil dalam kitabnya Usus at Ta'lim fi Daulah al Khilafah, disebutkan tujuan pendidikan khilafah adalah;

Pertama, membangun kepribadian Islam sehingga para generasi memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Kedua, mempersiapkan generasi menjadi sosok-sosok ahli agama seperti para ulama yang ahli dalam ilmu keislaman dan ilmu terapan, sehingga mereka bisa survive dalam menjalani kehidupannya.

Bahkan khusus para Muslimah disediakan kurikulum  kerumahtanggaan untuk benar-benar menyiapkan dan menunjang tugas utama muslimah sebagai umm warabatul bait, dengan demikian kasus semacam ini tidak akan mungkin terulang jika sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah diterapkan ditengah kita, InsyaAllah.

Penulis: Mira Ummu Tegar (Aktivis Muslimah Balikpapan)
Komentar

Tampilkan

Terkini