-->




 


Kisah Din Minimi Bernegosiasi dengan Kepala BIN

22 April, 2022, 21.54 WIB Last Updated 2022-04-22T14:54:20Z
Din Minimi alias Nurdin bin Ismail (foto: dok BBC Indonesia)

LINTAS ATJEH | JAKARTA - Pemimpin kelompok eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Din Minimi alias Nurdin bin Ismail, membeberkan peristiwa saat dirinya menyerahkan diri kepada Sutiyoso yang saat itu menjadi Kepala Badan Intelijen Indonesia (BIN).

Din pun mengatakan, dirinya menyerahkan diri kepada pemerintah karena sudah ada komitmen dengan Sutiyoso.

"Kalau menurut saya bukan menyerah. Sudah ada satu komitmen kami semua (dengan) Bapak Sutiyoso, Kepala BIN, yang mewakili Pak Presiden. Bukan menyerah, tapi ada satu komitmen," kata Din Minimi seperti dikutip dari BBC News Indonesia.

"Apa yang saya mohon, (Kepala BIN) menanggapi. Makanya, terbuka hati saya, disamping anggota saya," sambungnya.

Din pun mengaku, sudah percaya 100% kepada pemerintah yang diwakilkan Sutiyoso pada waktu itu untuk menyerahkan senjata api milik kelompoknya.

"Kalau menurut saya bukan 100 persen, (tapi) sudah (percaya) 200 persen. Kalau perkara senjata itu 15 (buah), itu yang ada. Mau saya kasih yang lain lagi? Parang (sejenis pisau) ada! Mau? Boleh!," tutur Din.

Ia pun menegaskan, bahwa anak buahnya tidak akan membuat keonaran di wilayah Aceh, pasca menyerahkan diri.

"Kalau anak buah saya sudah terdidik. Peraturan ada. Sopan ada. Kalau saya sudah turun (dari "gerilya" di gunung), nggak mungkin saya tinggal di gunung. Kalau menurut saya, karena Kepala BIN itu berbicara kepada saya itu bagus. Sama pendapat dengan saya, untuk menjunjung rakyat, untuk memimpin rakyat dengan benar," bebernya.

Din mengaku, dirinya tidak pernah memerintahkan kepada anak buahnya untuk membunuh anggota polisi maupun prajurit TNI.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

"Itu tidak ada. Kalau dari kita, tidak ada perintah kepada anak buah untuk menembak TNI ataupun polisi, kecuali kita diserang oleh polisi," tutur Din.

Din pun meminta kepada Pemerintah Aceh untuk memberikan bantuan kepada korban konflik di Aceh.

"Kalau memang diberikan, ya kita jalani, yaitu bantuan untuk inong baleh (para janda korban konflik di Aceh), anak yatim, fakir miskin, kombatan GAM, ataupun pihak kami. Kalau saya terhadap pemerintah Aceh, nggak ada saya (meminta) untuk memberi ini atau itu, tidak. Saya langsung ke pusat (pemerintah pusat di Jakarta). Karena pemerintah Aceh itu dari kami masyarakat yang kami naikkan ke atas," pungkasnya.[Okezone]
Komentar

Tampilkan

Terkini

hukrim

+