-->

Kisah Kehidupan Lansia Dibalik Gemerlapnya Lampu dan Taman Kota Langsa

19 Juni, 2022, 17.40 WIB Last Updated 2022-06-19T10:40:12Z


LINTAS ATJEH | LANGSA -
Dibalik gemerlapnya lampu kota dan indahnya taman-taman hiasi Kota Langsa, ada pemandangan yang sangat menyayat hati disebuah desa di Kota Jasa tersebut.


Nenek Tuminah, begitu masyarakat memanggilnya. Tinggal di gubuk berukuran sekitar 6x4 meter di Gampong Lengkong, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, Aceh.


Mungkin banyak yang mengalami hidup serupa seperti Nek Tuminah. Hidup menua dan harus bekerja keras diusia senja, tapi ada yang berbeda dengan Nek Tuminah dalam mengais rejeki untuk menghidupinya.


Sejak ditinggal oleh suaminya 20 tahun yang lalu menghadap Sang Khaliq. Nek Tuminah hidup berpindah-pindah tempat dan sekarang menetap dengan menumpang di lahan serta gubuk milik Geuchik Gampong Lengkong.


Nek Tuminah harus bekerja keras membanting tulang mencari penghasilan dari kotoran sapi untuk membantu menafkahi cucunya, karena anak menantunya hanya bekerja sebagai tukang bangunan.


Meskipun usia kini sudah 62, tapi ia tetap semangat dalam mengais rejeki dari kotoran sapi. Hal ini terlihat dari raut wajahnya yang tersenyum saat LintasAtjeh.com menyambangi kediaman Nek Tuminah, Minggu (19/06/2022).


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM


Menggunakan topi, baju kaos serta sepatu boat dan sekop Nek Tuminah terus mengeruk kotoran sapi. Pekerjaan yang bagi sebagian orang dianggap tidak layak ini sudah digeluti Nek Tuminah sekitar sembilan bulan.


Sambil tersenyum kecil, sesekali Nek Tuminah mengelap keringat yang membasahi wajahnya. Sambil beristirahat, Nek Tuminah bercerita bahwa sebelum bekerja membersihkan kotoran sapi, ia bekerja membersihkan kebun-kebun milik warga.


Membersihkan kotoran sapi yang dilakukannya dua kali setiap hari yakni pagi pada pukul 08.00 WIB dan sore sekitar pukul 15.30 WIB. Upah yang diperoleh dari membersihkan kotoran sapi ini sebesar Rp 900 ribu perbulan.


Selain membersihkan kotoran sapi, Nek Tuminah juga bekerja mencari kerikil putih yang dipesan oleh warga untuk ditabur di atas kuburan. Serta kayu bakar yang juga pesanan dari warga.


"Bau dan alergi sudah tidak saya rasakan lagi. Yang penting halal," ujar Nek Tuminah sambil tersenyum mengakhiri pembicaraannya. [Sm]

Komentar

Tampilkan

Terkini