-->

Hari Ke-13 Banjir Aceh Tamiang, 7 Desa Lagi di Daerah Hilir Masih Terisolasi

12 November, 2022, 11.21 WIB Last Updated 2022-11-12T06:54:49Z

LINTAS ATJEH | ACEH TAMIANG - Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang semenjak Minggu 31 Oktober 2022 lalu sebagian besar telah surut, terutama kawasan hulu dan tengah. Namun di kawasan hilir dan pesisir masih tergenang. Bahkan, tujuh desa yang masih terisolasi.

Juru Bicara Pemkab Aceh Tamiang Agusliayana Devita, saat dihubungi LintasAtjeh.com melalui telepon, Sabtu (12/11/2022), mengatakan, banjir kali ini berlangsung sangat lama dari biasanya.

"Di daerah hulu seperti Kecamatan Tenggulun dan daerah tengah seperti Karang Baru dan Kuala Simpang telah surut. Namun daerah hilir, Kecamatan Bendahara, Banda Mulia, dan Kecamatan Seruway masih tergenang. Masih ada tujuh desa yang terisolasi, harus ditembus dengan perahu," kata Devi.

Turut disampaikan oleh Devi bahwa Kecamatan Bendahara, Banda Mulia, dan Kecamatan Seruway berada di pesisir, berbatasan dengan laut. 

Sungai Tamiang melintasi tiga kecamatan tersebut dengan muara berada di Kecamatan Bendahara.

Devita mengatakan, meski ketinggian air mencapai 1 meter, warga di tujuh desa yang masih terisolasi itu belum mengungsi. Mereka bertahan lantaran rumah mereka umumnya rumah panggung.

Lanjutnya, 60 persen rumah di kawasan pesisir Aceh Tamiang berkonstruksi rumah panggung.

"Kawasan itu memang rawan banjir, tidak hanya luapan sungai, tetapi juga banjir rob," terang Devi lagi.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Menurut Devi, meskipun tidak mengungsi, warga kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Untuk menjamin agar kebutuhan pangan warga terpenuhi, pemerintah memasok ke kantor desa. Dan selanjutnya aparatur desa yang meneruskan kepada warganya.

Devi menambahkan, banjir kali ini berlangsung lebih panjang. Biasanya dua hingga empat hari banjir telah benar-benar surut, tetapi kali banjir berlangsung lebih dari 10 hari.

Bahkan, banjir menggenangi jalan nasional. Selama lima hari transportasi Aceh-Sumatera Utara lumpuh.

Sebanyak 7.700 rumah warga di dalam 12 kecamatan tergenang, dan sejumlah 29.000 lebih warga mengungsi.

Ini menjadi bencana banjir terbesar setelah banjir bandang 2006.

Kini warga yang berada di hulu dan tengah telah kembali ke rumah untuk membersihkan rumah dari lumpur banjir.

Namun, dapur umum masih dibuka agar kebutuhan pangan korban tetap terpenuhi saat warga sedang fokus menata tempat tinggal.

"Pemkab Aceh Tamiang belum menghitung nilai kerugian dampak banjir. Kerugian ditimbulkan karena kerusakan infrastruktur publik, sawah, tambak, dan kerusakan rumah," ungkap Devi.[ZF]
 

Komentar

Tampilkan

Terkini