-->

Jurus Lato-Lato Pemilu 2024

04 Februari, 2023, 17.10 WIB Last Updated 2023-02-04T11:15:02Z

Foto: Ilustrasi
Demam permainan lato-lato melanda Tanah Air dalam beberapa bulan terakhir. Dari kota hingga pelosok desa, anak-anak, remaja, hingga dewasa menyukai permainan ini. Dua buah bola digantung menggunakan tali yang dijepitkan di tangan. Tangan digerakkan naik-turun, dua buah bola dari bahan plastik polimer dibentur-benturkan sehingga menimbulkan bunyi tek-tok-tek-tok.

Pemain lato-lato baru dianggap piawai apabila benturan antarbola tak hanya terjadi di bawah, tapi mampu bergerak ke atas pula. Di sini berlaku teori keseimbangan. Jika pemain tak mampu menciptakan keseimbangan, benturan bola akan berantakan.

Saking masifnya permainan lato-lato, kini di kampung-kampung bunyi ayam berkokok pun sudah diganti bunyi lato-lato yang dimainkan setelah anak-anak bangun pagi. Di satu sisi, mainan lato-lato sudah bisa membuat anak-anak lepas dari gawai, tapi di sisi lain membuat lingkungan berisik. Apalagi di wilayah padat penduduk, maka dijamin warganya tak bisa tidur karena terganggu bunyi lato-lato.

Lato-lato pun kini menjadi common enemy (musuh bersama) sejumlah dinas pendidikan kabupaten/kota di Indonesia yang melarang anak-anak membawa mainan itu ke sekolah. Pihak sekolah merazia anak-anak untuk menyita mainan yang harganya berkisar Rp5.000-Rp15.000 itu. Alasannya, lato-lato mengganggu konsentrasi para siswa belajar.

Belum jelas dari mana asal-usul lato-lato. Ada yang bilang permainan tradisional Indonesia sejak baheula. Tapi ada pula yang mengatakan permainan tersebut impor dari luar negeri, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Di Amerika Serikat, lato-lato sering disebut sebagai Newton’s yo yo ataupun clackers ball, sedangkan masyarakat di Eropa sering menyebutnya sebagai click-clacks, knockers, clackers, clankers, atau ker-bangers.

Dikaitkan dengan masa menjelang Pemilu 2024 di Tanah Air, di saat tensi politik semakin membubung, sejumlah politisi memainkan ‘jurus latto-latto’. Tujuan jurus lato-lato berbeda-beda. Ada yang bertujuan menggaet koalisi untuk pencalonan presiden/wakil presiden 2024, memecah koalisi, atau membentuk koalisi baru.

Jurus lato-lato pun dilakukan oleh seorang politikus senior dengan menunjukkan kehebatannya dalam forum ulang tahun partai politik. Dalam forum itu, dia menegaskan bahwa dialah king maker. Jangan coba-coba nyelonong sendiri, apalagi membajak kadernya.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Dia pun menyampaikan bahwa dirinyalah yang merekomendasikan tokoh-tokoh yang hadir untuk menjadi ‘orang’ di negeri ini. "Kalau bukan saya, kamu bukan siapa-siapa," kira-kira demikian simpelnya. Tepuk tangan pun bergemuruh dalam perhelatan selama hampir 4 jam tersebut. Sang politikus perempuan itu pun semringah.

Di sisi lain, jurus lato-lato juga diperagakan oleh politikus yang berlatar belakang bekas narapidana kasus korupsi. Mereka ingin eksis di dunia politik. Bahkan, sang politikus yang pernah terjerat kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama itu pun mendapat tempat terhormat sebagai ketua majelis pertimbangan partai. Jabatan keren dan terhormat sebagai duta antikorupsi disematkan pula kepadanya di partai yang bernuansa religius tersebut. Ajib!

Politisi atau mantan kepala daerah yang menggarong uang negara pun tergiur jurus lato-lato. Selepas dari hotel prodeo, mereka mencari political position sebagai bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI untuk Pemilu 2024. Pasalnya, menjadi senator sangat mudah karena tak ada persyaratan jeda lima tahun selepas keluar dari penjara seperti halnya calon anggota DPR RI atau DPRD.

Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menemukan pendaftar yang merupakan mantan narapidana kasus korupsi serta anggota DPRD provinsi yang masih menjabat mendaftarkan diri sebagai calon anggota DPD RI di Provinsi Riau, Bengkulu, NTB, dan Maluku Utara.

Masih dengan gaya permainan latto-latto, sejumlah politisi atau tokoh juga sibuk mencari atau dipinang partai politik untuk mendulang suara. Permainan bunyi seperti lato-lato dalam politik mampu menciptakan public awareness.

Jika konsisten bunyinya alias yang disuarakannya, distingtif, juga memiliki novelty dan magnitude, mereka akan meraih simpati publik dan akan terbentuk public loyalty. Terlebih di era disrupsi digital, para pemainnya mampu merekonstruksi realitas semu yang membius publik. Era ini terkadang tak bisa dibedakan antara voice dan noise.

Dalam konteks politik, jurus lato-lato mampu membangkitkan politisi yang sudah menjadi ‘kartu mati’. Tak mengherankan jika Winston Churchill (1874-1965), PM Britania Raya pada Perang Dunia II, mengatakan, "In war, you can only be killed once, but in politics, many times." Artinya, dalam perang, serdadu bisa mati sekali, tetapi dalam politik, politisi bisa terbunuh berkali-kali. Maksudnya, selama banyak jurus, politicians never dies. Jurusnya, ya, latto-latto itu untuk mencari keseimbangan baru (new equilibrium), bandul baru dalam jagat politik. Tek-tok-tek-tok.... Tabik![medcom.id]

Komentar

Tampilkan

Terkini