-->

Pengajian Kok Disalahkan!

05 Maret, 2023, 16.15 WIB Last Updated 2023-03-05T09:15:08Z
KETUA DEWAN BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), Megawati, menjadi sorotan kembali setelah pidatonya memicu kontroversi di media sosial (medsos). Pidato Megawati itu terucap saat ia menjadi pemateri dalam Seminar Nasional Pancasila dalam Tindakan: 'Gerakan Semesta Berencana Mencegah Stunting, Kekerasan Seksual pada Anak dan Perempuan, Kekerasan dalam Rumah Tangga, serta Mengantisipasi Bencana' di Jakarta Selatan pada Kamis (16/2/2023).

Salah satu pidato Megawati yang kontroversial adalah ketika membahas masalah anak stunting. Dia mengaitkannya dengan aktivitas keagamaan kaum ibu, yang waktunya tersita untuk pengajian sehingga lupa mengurus anak. Alhasil, ia sampai berpesan agar kaum ibu bisa membagi waktu agar waktunya tidak habis untuk pengajian dan melupakan asupan gizi anak. 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis, menanggapi pidato Megawati Sukarnoputri terkait ibu-ibu pengajian. Kiai Cholil mengatakan, ibu-ibu yang rajin ke pengajian tidak menelantarkan anak-anaknya. Karena kebanyakan ibu-ibu yang datang ke pengajian, anak-anaknya sudah besar.

Kiai Cholil mengatakan, wanita yang bekerja di kantoran dan melakukan bisnis juga bisa mengurus anak, walau waktu bekerja di kantor lebih lama dari pengajian.

Ia menambahkan, malah dengan ikut pengajian, ibu-ibu jadi tahu dan peduli mengurus anak. Sebab, tidak ada ceritanya ibu-ibu rajin pengajian menjadi bodoh dan tidak kreatif. "Soal tidak senang ngaji, tak apalah, tapi tak usah usil dengan ibu-ibu yang rajin ngaji sampai kapan pun," ujar Kiai Cholil. (baca disini

Pernyataan sang ketua tentu sangat disayangkan. Apalagi menimba ilmu dari buaian sampai liang lahat adalah kewajiban sebagai seorang muslim. Menghadiri pengajian merupakan sarana bahkan ada pahala yang besar pula Allah Taala janjikan bagi hamba-hambaNya yang bersedia berpayah-payah mencari ridhoNya. Rasulullah SAW bersabda: "Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim". (HR Ibnu Majah). Bahkan di antara kebaikan yang Allah SWT berikan kepada seorang muslim adalah saat dia paham agama. Rasulullah SAW bersabda: "Siapa saja yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, Dia akan memberikan kepada dirinya paham agama". (HR al-Bukhari dan Muslim). Agar paham agama, pergi ke pengajian tentu menjadi salah satu cara. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : "Sungguh ilmu itu hanya (bisa dikuasai) dengan belajar (HR al-Bukhari dan Muslim).

Diakui atau tidak, inilah buah dari penerapan sistem sekuler yang melandasi  pola pikir dan pola sikap seseorang atas suatu hal. Mau sudah pergi haji dan umroh sekian kali, kalau berkata dan bersikap tanpa landasan agama (baca: Islam), sekuler lah namanya. Mengaitkan kasus stunting akibat kebanyakan pergi ke pengajian jelas tak nyambung. Tak perlu lah jadi sarjana atau punya gelar doktor dulu untuk bisa memahami terus meningkatnya stunting di tengah masyarakat. Stunting melonjak karena kemiskinan. Jangankan bicara gizi, sekadar makan kenyang sekali sehari saja sudah sedemikian sulitnya. Jadi bukan karena terlalu sering hadir ke pengajian, melainkan kemiskinan.

Islam telah mewajibkan negara bertanggung jawab penuh atas pemenuhan kebutuhan pokok rakyat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Juga sarana dan fasilitas yang sangat mendukung aktivitas harian masyarakat seperti jalan, jembatan, moda transportasi dan semisalnya. Apa daya, gaya kapitalisme sebagai turunan dari sistem sekuler memformat negara bak rentenir zaman baheula, hanya berhitung untung-rugi dalam mengurus rakyat. Jadilah negeri yang bergelar zamrud khatulistiwa malah miskin papa. Negeri ini memang kaya SDA, tetapi akibat format kapitalisme, SDA malah dominan dikuasai swasta baik lokal maupun asing. Berpuas diri dengan royalti receh tak berarti, itu pun masih dikorupsi. Walhasil, keluhan tak bercuan bak kaset rusak yang terus diputar penguasa tiap menjawab tuntutan masyarakat. Sudah lah pergi ke pengajian disalahkan, itupun masih mengintai resiko dibubarkan!

Tak cukupkah mengambil pelajaran dari masa keemasan peradaban Islam era Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saking sejahtera merata begitu rupa, tidak ada lagi rakyat yang terkategori mustahik zakat. Sampai akhirnya harta yang menumpuk di baitul mal diberikan kepada para pemuda yang belum menikah agar segera menikah. Itu pun harta masih tetap juga melimpah. Berikutnya ditawarkan kepada rakyat non muslim berupa utang lunak tanpa bunga sebagai modal usaha.

Sudah tidak selayaknya berprasangka buruk atas penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam bingkai negara. Sistem sekuler kapitalisme sudah terbukti nyata tidak menyejahterakan bahkan menyengsarakan. Jadi mengapa tidak memberikan kesempatan kepada sistem Islam yang sudah teruji dan terbukti. Semoga sebentar lagi. Wallahualam.

Penulis: Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd (Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)
Komentar

Tampilkan

Terkini